Api Tunggal Tatar Di Jantung Beku

Memoir prosais adiluhung beku Siberia dan determinasi melawan pembekuan harapan

KARANGAN PENDAHULUKARANGAN PANDANG

Ali A. I.

3/11/20265 min read

I. Di Sudut-Sudut Ingatan

Bayangkanlah, wahai pembaca—sebuah dataran tanpa ujung, terhampar di bawah langit biru jernih yang membentang seperti hamparan sutra. Hutan-hutan raksasa menanjak ke cakrawala; pepohonan tinggi itu menyentuh langit dengan keheningan penuh wibawa. Lalu datanglah dingin. Dingin yang tidak sekadar menusuk—tetapi menguji jiwa. Itulah Siberia.

Di jantung daratan beku itu hidup sebuah bangsa Muslim yang banyak orang tidak mengenalnya, tetapi sejarah mengenangnya dengan tinta ujian dan ketabahan. Mereka diuji zimamnya, tubuhnya, akarnya. Namun ketika badai datang hendak merobek identitas, mereka menegakkan kepala dan berkata:

“Tidak.”

Mereka diserang oleh angin perubahan, tetapi akar mereka mencengkeram tanah yang membeku. Dan justru karena badai itu, tampaklah kemurnian logam mereka—logam dari iman yang ditempa oleh masa.

Mereka adalah Tatar Siberia, bangsa gagah yang mempertahankan jati dirinya di tengah angin penghilangan dan pemutusan akar.

II. Di Siberia

Aku masih ingat ketika udara dingin menerpa wajahku, perih seperti cambuk yang menyentuh kulit. Salju di bawah kakiku retak dengan suara kering, seolah bumi mengembuskan napas beku.

Kabut menelan jalan di belakang kami; dunia seakan tinggal putih dan sunyi.

Sahabatku yang mengemudi tidak mematikan mesin mobil sejak perjalanan dimulai. Ketika aku bertanya mengapa, ia tersenyum singkat—senyum yang hanya dimiliki orang-orang yang telah belajar dari ganasnya alam.

“Di sini,” katanya, “segala sesuatu berbeda. Kalau aku mematikan mesin, ia akan mati membeku. Ia tidak akan hidup lagi… kecuali mungkin saat musim semi datang.”

Begitulah Siberia: tanah yang selalu menuntut, tetapi jarang memberi ampun.

Dan di tengah ketegasan alam itu, hidup bangsa yang hatinya tetap hangat oleh iman.

III. Bersama Tatar

Perhatianku pada bangsa ini bermula di tahun 1980-an. Ketika itu, aku menemukan buku-buku yang menyebut mereka hanya dalam serpihan kecil, seolah mereka hanyalah ekor dari Tatar Volga atau Kazan yang lebih terkenal. Aku pun mengira demikian… sampai aku bertemu seseorang yang mengubah pemahamanku.

Pada tahun 1992, aku bertemu salah satu putra terbaik mereka: Syekh Nafiu’llah Hazrat, Mufti Siberia dan wilayah Asia Rusia. Aku bertemu dengannya di kota Ufa, ibu kota Bashkiria, ketika ia menjabat sebagai wakil ketua Administrasi Keagamaan Pusat.

Orang tua itu—wajahnya bersih, suaranya tenang—adalah ensiklopedia hidup tentang Siberia dan sejarah Muslim di sana. Dari lisannya, lorong sejarah yang beku menjadi hangat, mengalir, penuh jiwa.

Dan sejak saat itu, Tatar Siberia tidak lagi tampak bagiku sebagai catatan kaki sejarah. Mereka menjadi sebuah dunia.

IV. Masjid Tidak Dibangun Dengan Batu

Di antara pelajaran terpenting yang kupelajari dari mereka adalah ini:

“Masjid tidak dibangun dengan batu dan kayu. Masjid dibangun dengan kesabaran, cinta, dan kesetiaan.”

Di Siberia, ini bukan ungkapan indah—ini kenyataan.

Masjid-masjid mereka seringkali hanyalah rumah kayu kecil, tersembunyi dari mat penguasa. Tetapi di dalam rumah-rumah itu tumbuh generasi, lahir para penghafalAl-Qur’an, tegak pelajaran tauhid.

Mereka membangun masjid bukan dari kekayaan, tetapi dari tekad.

V. Adzan yang Menghidupkan Sebuah Kota

Pada 1992, seorang dai Aljazair tiba di sebuah kota terpencil. Ia seharusnya dijemput, tetapi takdir tidak mempertemukannya. Ia tak mengenal siapa pun. Tak ada telepon. Tak ada nomor untuk dihubungi. Hanya dingin dan kesendirian. Maka ia mendekati pasar kota itu dan mengumandangkan adzan.

Suaranya naik ke langit—lantang, asing, tetapi penuh harapan. Para pedagang Kaukasus mendengarnya. Mereka keluar dari kios, menatap satu sama lain, lalu bergegas menuju sumber suara. Dari adzan itu lahirlah perkenalan, dari perkenalan itu tumbuh dakwah, dari dakwah itu lahir halaqah kecil, buku-buku, dan sahabat-sahabat baru.

Sebuah kota yang beku menemukan kembali denyut hidupnya.

VI. Sebuah Bangsa yang Menolak Mencair

Tatar Siberia tidak pernah tunduk pada gelombang pembauran yang hendak menghapus wajah mereka. Mereka menjadikan rumah-rumah sebagai masjid, dapur sebagai sekolah, dan hutan-hutan sebagai benteng tempat zikir dan pelajaran mengalir.

Mereka menjadikan setiap pertemuan sebagai majelis, tempat nama Allah disebut dan identitas dipelihara. Bangsa yang keras kepala—tetapi hanya terhadap hal yang benar.

VII. Kembali ke Sejarah: Kutchum Khan

Di titik ini, kisah menuntut kita kembali ke masa jauh, masa khan-khan besar, masa ketika Siberia bukanlah ruang kosong, melainkan kerajaan yang berdaulat: Khaniyah Siber. Di antara para khan, bersinar satu nama: Kutchum Khan—pemimpin yang membuat kekaisaran Rusia mengerahkan seluruh kekuatannya.

Dialah yang mempertahankan Siberia sebagai benteng Islam di utara. Dialah yang mengajarkan rakyatnya bahwa kehormatan lebih tinggi nilainya daripada tanah dan harta.

VIII. Pelarian dari Gelombang Pemurtadan

Ketika gelombang pemurtadan menyapu wilayah itu, sebagian Muslim melarikan diri menuju sudut terdalam Siberia. Mereka memilih pengasingan daripada kehilangan iman. Di antara mereka terdapat ulama besar Bukhara, Syekh Bakhtiyar, yang berdiri penuh keberanian menahan arus pemaksaan agama. Di masa kelam tiga puluhan, murid terakhir dari sanad itu, Syekh Hanif Barsikov, menjadi imam terakhir. Ia menghadapi tekanan dengan wajah penuh cahaya—cahaya keyakinan.

Ia wafat sebagai syahid.

Masjid kayu ditutup.

Tetapi kisah itu belum berakhir.

IX. Shorifa Aba: Perempuan yang Menghidupkan Masjid

Bertahun-tahun kemudian, rezim berubah. Pembatasan longgar. Dan seorang perempuan bangkit membawa nama yang hampir padam: Shorifa Aba, cucu syekh syahid itu.

Pada usia tujuh puluhan, ia meninggalkan kehangatan kota dan kenyamanan pensiun. Ia berjalan sendiri, melintasi salju, membawa tekad yang lebih hangat dari api.

Ia ingin membangun kembali masjid. Setiap hari ia berdiri memeriksa batang-batang kayu yang tiba dengan kereta salju. Angin menggoyang syal wol putihnya. Matanya berkilau seperti seseorang yang sedang menulis bab terakhir dari hidupnya—bab paling suci.Masjid tumbuh kembali.

Dan nama kakeknya kembali disebut di setiap majelis.

X. Jejak Ilmu dan Para Tokoh

Penulis kemudian menceritakan bagaimana ia mengenal Tatar Siberia melalui buku-buku lama: masjid merah dan masjid putih di Tomsk, kisah Khaniyah Siber, dan perkataan Kutchum Khan:

“Aku tidak sudi hidup sebagai tawanan dan tidak akan mati sebagai budak.”

Kata-kata itu menjadi bara kecil yang membakar rasa ingin tahu. Di awal 1990-an, ia mendengar tentang ulama besar mereka: Syekh ‘Abdur Rasyid Ibrahimov, murid Jamaluddin Al-Afghani, pengembara dunia, pendiri masjid pertama di Tokyo, penyebar Islam di Jepang.

Riwayat sang syekh bagai api yang tak pernah padam: ia menyalakan harapan di tengah malam sejarah.

XI. Para Penjaga Tradisi

Sebelum berkenalan langsung dengan bangsa Tatar, penulis mendengar kisah dari seorang sahabat dari Sudan yang pernah bekerja di kamp-kamp mahasiswa Soviet di Siberia—tempat keras di mana nyamuk datang dalam gerombolan, pekerjaan berat, dan alam yang tak mau berkompromi.

“Pengalaman indah,” katanya,“tetapi tidak akan kuulangi seumur hidup.”

XII. Siberia Menjadi Kota Mahasiswa

Tahun 1990-an, ketika Uni Soviet runtuh, kota-kota yang dulunya tertutup dibuka untuk pelajar asing. Kazan, Nizhny Novgorod, Saratov, dan lainnya mulai menerima mahasiswa. Namun yang paling mengejutkan adalah: Irkutsk, jauh di jantung Siberia.

Empat hari perjalanan kereta melalui hutan yang berbisik dan padang tanpa batas. Dan di sana, di pinggir Danau Baikal—permata biru di tengah belantara—para mahasiswa Muslim tiba. Siberia pun berubah.

XIII. Kunjungan Pertama ke Omsk

Penulis terbang ke Omsk bersama sahabat dari Kaukasus untuk bertemu para pemuda keturunan Kazakh yang berusaha belajar agama dan bahasa Arab. Itu musim panas. Hari seakan tidak selesai. Matahari menggantung lama di langit, seakan enggan pergi. Di tengah kota yang panjang senyap itu, ia melihat sekelompok anak muda yang ingin mencari kembali jati diri.

XIV. Akhir Kisah: Tatar Siberia

Bangsa ini berdiri antara badai salju dan memori sejarah. Mereka menyimpan iman di laci-laci kayu rumah kecil, menjaga tradisi dalam bisikan majelis, mempertahankan nama leluhur dalam kabut putih.

Mereka tidak besar jumlahnya. Tidak kuat kekuasaan. Tidak kaya harta. Tapi mereka kaya kesetiaan.

Dan kesetiaan adalah harta yang tidak bisa dibekukan oleh musim dingin apa pun. Di dalam hati mereka, salju tidak pernah menang melawan api.