Batak, Gen Z, dan Etos Kerja yang Berubah

Batak, Gen Z, dan Etos Kerja yang Berubah Pengamatan lebih dalam daripada perpindahan paradigmatik oleh Gen Z dan interaksi warisan nilai sebagai benturan hari ini, dengan absensi budaya dalam pandangan modern terkait mobilitas ekonomi Gen Z

KARANGAN PANDANG

Haris Martondi

9/8/20263 min read

Batak, Gen Z, dan Etos Kerja yang Berubah

Jika Batak dalam sejarahnya dapat dibaca sebagai bangsa yang tumbuh melalui perpindahan, perdagangan, kekerabatan, dan keberanian membuka ruang hidup baru, maka pengalaman itu menarik untuk digunakan membaca Gen Z hari ini. Bukan untuk mengajarkan Gen Z menjadi Batak, apalagi mengembalikan mereka pada adat, melainkan untuk memahami satu hal yang lebih mendasar: bagaimana manusia membangun etos kerja ketika dunia kehidupannya berubah.

Dahulu, merantau berarti meninggalkan huta bisa dibilang sebagai kampung sebagai ruang sosial dan kebudayaan menuju tempat yang menawarkan kemungkinan ekonomi baru. Perpindahan itu membawa konsekuensi sosial: seseorang membawa nama keluarga, marga, jaringan kekerabatan, dan harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu, kerja tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan keluarga, kehormatan, keberlanjutan generasi, dan posisi seseorang di tengah masyarakat. Mobilitas menjadi bagian dari kebudayaan.

Gen Z mengalami mobilitas dalam bentuk yang berbeda. Mereka tidak selalu perlu meninggalkan kampung untuk merantau. Seseorang dapat bekerja untuk perusahaan di Jakarta dari Medan, menjual jasa ke luar negeri dari kamar tidur, berpindah profesi dalam beberapa tahun, atau membangun karier melalui ruang digital. Yang berpindah bukan hanya tubuh, tetapi juga keterampilan, identitas, jaringan, dan cara seseorang mencari penghidupan.

Perubahan ruang hidup ini ikut mengubah pengertian tentang kerja. Etos kerja tak pernah benar-benar netral atau abadi. Ia dibentuk oleh struktur ekonomi, teknologi, keluarga, pendidikan, dan pengalaman sosial pada zamannya. Karena itu, ketika Gen Z tidak lagi menganggap bekerja puluhan tahun di satu institusi sebagai satu-satunya bentuk keberhasilan, hal itu tidak otomatis menunjukkan kemerosotan etos kerja. Mereka hanya hidup dalam sistem yang membuat mobilitas menjadi bagian dari strategi bertahan dan berkembang.
Di satu sisi, Gen Z memiliki kebebasan yang jauh lebih besar untuk memilih. Di sisi lain, pilihan tersebut datang bersama ketidakpastian yang lebih besar. Dunia kerja semakin fleksibel, tetapi juga semakin precarious; pekerjaan dapat berubah cepat, teknologi dapat menggantikan keterampilan tertentu, dan batas antara pekerjaan, kehidupan pribadi, serta ruang digital semakin kabur. Karena itu, etos kerja Gen Z berkembang dalam ketegangan antara kebebasan dan ketidakpastian.

Di sinilah pengalaman Batak menjadi menarik sebagai cermin. Hamoraon, hagabeon, dan hasangapon secara sederhana berbicara tentang kesejahteraan, keberlanjutan generasi, dan kehormatan. Ketiganya menunjukkan bahwa keberhasilan sejak dahulu tidak semata-mata diukur dari besarnya pendapatan, tetapi dari kemampuan seseorang mengubah kerja menjadi kehidupan yang lebih bermakna bagi dirinya dan lingkungannya. Namun Gen Z tidak menerima ukuran keberhasilan itu begitu saja. Mereka melakukan negosiasi baru: uang tetap penting, tetapi waktu, kebebasan, pengalaman, kesehatan hidup, aktualisasi diri, dan kesempatan berkembang juga memiliki nilai.

Persoalannya kemudian bukan apakah nilai lama harus dipertahankan atau ditinggalkan. Persoalannya adalah apakah modal sosial yang diwariskan seperti keluarga, marga, komunitas, jaringan yg masih mampu diterjemahkan menjadi mobilitas nyata. Sebuah jaringan kekerabatan akan kehilangan daya produktifnya jika hanya menghasilkan solidaritas simbolik, tetapi tidak membuka akses terhadap pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, teknologi, dan kesempatan ekonomi. Identitas yang kuat tidak selalu berarti posisi sosial yang kuat.

Hal yang sama berlaku pada adat. Adat dapat menjadi sumber keteraturan dan solidaritas, tetapi ia dapat kehilangan relevansinya ketika hanya berfungsi sebagai identitas tanpa kemampuan beradaptasi dengan struktur ekonomi baru. Ketika generasi muda masuk ke dalam ekonomi digital, industri kreatif, profesi global, dan bentuk pekerjaan yang belum dikenal generasi sebelumnya, mereka membutuhkan kebudayaan yang mampu bergerak bersama perubahan, bukan kebudayaan yang hanya meminta mereka mempertahankan bentuk masa lalu.

Karena itu, etos kerja Gen Z seharusnya tidak dibaca dengan ukuran generasi sebelumnya. Yang berubah bukan keinginan manusia untuk maju, tetapi medan tempat kemajuan itu dicari. Dahulu seseorang harus merantau untuk mencari pasar. Hari ini pasar dapat datang melalui layar. Dahulu mobilitas berarti berpindah tempat. Hari ini mobilitas dapat berarti berpindah keahlian, jaringan, profesi, bahkan cara hidup.

Pada titik ini, pengalaman Batak memberi satu pelajaran penting: kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup karena ia mampu mempertahankan masa lalu, tetapi karena ia mampu memberi manusia cara untuk menghadapi masa depan. Gen Z pun demikian. Mereka bukan generasi tanpa etos; mereka adalah generasi yang sedang membentuk etos dalam dunia yang jauh lebih cair.

Dulu, merantau berarti pergi untuk mencari kehidupan. Hari ini, merantau bisa berarti terus berubah agar tetap memiliki kehidupan.
Dan mungkin inilah persoalan terbesar Gen Z: bukan kurangnya kemauan untuk bekerja, melainkan dunia kerja yang menuntut mereka terus berlari tanpa pernah benar-benar menjanjikan tempat untuk berhenti. Maka ukuran etos kerja generasi ini bukan lagi seberapa lama mereka mampu bertahan di satu tempat, tetapi seberapa jauh mereka mampu menciptakan kemungkinan hidup ketika tempat itu sendiri tidak lagi pasti.

Haris Martondi adalah Regional Hub Manager, Premature Authoring—Hub.

Contact

Contact us on IG

© 2025. All rights reserved.