Bisakah Pertumbuhan Ekonomi Tajikistan Bertahan dari Pertaruhan Utangnya?
Bisakah lonjakan ekonomi Tajikistan bertahan di tengah pertaruhan utangnya? Tajikistan merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tengah, namun ketergantungan pada remitansi, utang di luar anggaran pada perusahaan negara seperti TALCO, serta proyek Rogun yang belum rampu
KARANGAN PANDANG
Ali A. I.
10/29/20265 min read


Bisakah pertumbuhan ekonomi Tajikistan bertahan dari pertaruhan utangnya?
Produk domestik bruto Tajikistan tumbuh sebesar 8,2 persen secara tahunan (year-on-year) pada semester pertama tahun 2026, sementara investasi modal tetap meningkat sebesar 18,4 persen. Pada tanggal 30 Juni, Bank Dunia menyetujui tambahan hibah sebesar $300 juta untuk pembangkit listrik tenaga air Rogun, yang merupakan proyek unggulan pemerintah. Pertumbuhan pesat dan dukungan multilateral yang baru tampaknya memvalidasi investasi yang dipimpin oleh negara selama bertahun-tahun. Hal ini juga mempertajam pertanyaan mendasar: apakah lonjakan tersebut menghasilkan pendapatan ekspor yang cukup untuk memenuhi kewajiban di masa depan, atau apakah ekonomi masih bergantung pada penghasilan pekerja migran dan belanja publik?
Peringatan yang muncul adalah bahwa pertumbuhan kuat Tajikistan menutupi kerentanan eksternal dan fiskal yang signifikan. Angka investasi dan pertumbuhan yang mengesankan tersebut menyembunyikan struktur yang rapuh: sebuah perekonomian yang bergantung pada remitansi, basis ekspor yang sempit, serta perusahaan negara yang dipolitisasi, kini menumpuk utang yang semakin sulit untuk dilunasi. Bank Dunia masih mengategorikan Tajikistan sebagai negara dengan risiko tinggi mengalami kesulitan utang (debt distress). Ini bukan berarti gagal bayar akan segera terjadi, namun kondisi tersebut menyisakan ruang yang sangat sempit untuk kesalahan dalam pembiayaan atau guncangan eksternal.
Pertumbuhan dengan basis yang sempit
Angka investasi utama perlu dicermati dengan saksama. Investasi modal tetap mencakup pengeluaran untuk bangunan, mesin, dan infrastruktur; angka ini tidak menunjukkan adanya investor asing yang masuk ke Tajikistan untuk mencari imbal hasil tinggi. Bank Dunia menyatakan bahwa investasi asing langsung melemah pada tahun 2025, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi mencapai 8,4 persen. Sumber utama mata uang asing sudah jelas. Menurut Bank Dunia, remitansi mencapai sekitar 46 persen dari PDB pada tahun 2025 dan menjadi penggerak utama pertumbuhan. Ekspor aluminium dan komoditas lainnya memang penting, namun bobot strategis TALCO tidak menjadikannya sumber utama mata uang asing bagi negara tersebut. Pendapatan eksternal utama perekonomian tetap berasal dari pekerja yang berada di luar negeri.
Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan Bank Dunia sebesar $4,20 per hari telah turun dari 55 persen pada tahun 2010 menjadi sekitar 14,8 persen pada tahun 2025. Cadangan devisa mencapai $5,6 miliar, jumlah yang cukup untuk membiayai impor selama lebih dari delapan bulan. Pencapaian-pencapaian ini membuat perekonomian menjadi lebih tangguh daripada yang digambarkan dalam narasi krisis yang sederhana.
Namun, data yang sama juga menunjukkan adanya kelemahan. Defisit perdagangan melebar hingga 35 persen dari PDB pada tahun 2025, produksi dalam negeri masih terbatas, dan konsumsi rumah tangga sangat bergantung pada pendapatan yang diperoleh dari luar negeri. Oleh karena itu, perlambatan ekonomi di Rusia atau aturan migrasi yang lebih ketat dapat melemahkan permintaan domestik sekaligus neraca pembayaran.
Argumen untuk Rogun
Penundaan panjang dalam proyek Rogun tidak menghilangkan alasan ekonomi untuk menyelesaikannya. Bank Dunia memperkirakan pembangkit listrik ini akan menghasilkan 14.400 gigawatt-jam per tahun, atau sekitar 60 persen dari total produksi listrik Tajikistan saat ini. Sebagian besar dari output berbiaya rendah ini ditujukan untuk memenuhi permintaan domestik—yang dapat mengurangi kekurangan pasokan kronis selama musim dingin—sementara sisanya dapat diekspor ke negara-negara lain, termasuk Kazakhstan dan Uzbekistan. Bank Dunia juga memperkirakan bahwa proyek ini dapat menciptakan lebih dari 30.000 lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Struktur pembiayaannya telah membaik. Hibah terbaru sebesar $300 juta dari International Development Association (IDA) menjadikan total pendanaan Bank Dunia untuk Rogun mencapai $650 juta. Mitra multilateral dan bilateral lainnya turut terlibat, dan pemerintah telah berkomitmen untuk mengalokasikan sebagian pendapatan masa depan bagi program-program sosial. Hibah serta pembiayaan lunak (konsesional) membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara.
Akan tetapi, dukungan internasional bukanlah cek kosong. Bank Dunia sendiri menyatakan bahwa skala proyek Rogun melampaui kemampuan pendanaan mandiri Tajikistan, sehingga dukungan dari mitra sangat diperlukan agar proyek ini tidak menyerap terlalu besar porsi anggaran negara. Pendapatan ekspor yang diharapkan bergantung pada penyelesaian proyek, ketersediaan jaringan transmisi, perjanjian pembelian regional yang andal, serta operasional yang transparan. Selama prasyarat-prasyarat tersebut belum terpenuhi, proyeksi pendapatan tidak dapat dianggap sebagai dana yang sudah tersedia untuk pembayaran utang.
Risiko tidak hanya terletak pada utang negara
Rasio utang negara Tajikistan tidak tergolong sangat tinggi. Utang publik terus menurun sepanjang tahun 2025 hingga 2026, sementara cadangan devisa tetap menjadi penyangga yang kuat. IMF menilai tingkat utang tersebut masih dalam batas yang berkelanjutan.
Klasifikasi risiko tinggi terutama muncul akibat besarnya kewajiban pembayaran utang luar negeri dibandingkan dengan pendapatan ekspor untuk periode 2025–2027. Oleh karena itu, kerentanan yang mendesak terletak pada jadwal pelunasan dan basis ekspor yang terbatas, bukan sekadar pada jumlah total utang yang tercatat.
Namun, rasio utang utama tersebut mengabaikan bagian penting dari eksposur sektor publik. Skenario dasar IMF tidak mencakup utang perusahaan milik negara yang tidak dijamin, karena informasi mengenai kewajiban tersebut tidak lengkap. Dalam uji tekanan (stress test) yang disesuaikan, IMF menambahkan potensi kewajiban sebesar 11,7 persen dari PDB. Angka ini mencakup tunggakan pada Barqi Tojik yang diperkirakan mencapai 8,2 persen dari PDB, serta utang luar negeri TALCO sebesar 2 persen dari PDB.
TALCO juga menghadapi upaya berkelanjutan untuk menegakkan putusan arbitrase yang kini bernilai lebih dari 300 juta dolar AS.
Perusahaan tersebut telah berupaya mencari investasi baru dalam jumlah besar, namun kewajiban yang belum terselesaikan menghambat upaya untuk menarik pendanaan segar.
Gugatan arbitrase terhadap TALCO tak terelakkan. kemungkinan besar akan meningkatkan risiko kepatuhan serta persyaratan uji tuntas (due diligence) bagi calon penyandang dana. Ketika pembayaran mengalir melalui berbagai bank dan yurisdiksi yang saling terkait, risiko hukum pada satu segmen aset tidak akan terbatas pada segmen tersebut saja.
Sengketa ini juga telah merambah ke proses penegakan hukum lintas negara, di mana para kreditur berupaya memperoleh informasi mengenai aset dan transaksi di berbagai yurisdiksi.
Selain itu, TALCO patut mendapat perhatian khusus karena masalah keuangannya berdampak langsung pada perusahaan negara lainnya. Menurut IMF, sebagian besar tunggakan produsen aluminium tersebut merupakan utang kepada Barqi Tojik. Lemahnya disiplin pembayaran di TALCO dengan demikian menambah kerugian perusahaan penyedia listrik tersebut; sementara pemberian jaminan, rekapitalisasi, atau pengambilalihan utang dari salah satu perusahaan ini dapat mengalihkan beban tersebut ke anggaran negara. Stress test (uji ketahanan) ini bukanlah sebuah prakiraan bahwa negara akan menanggung seluruh kewajiban, melainkan menunjukkan mengapa rasio utang negara yang rendah dapat menyamarkan risiko fiskal yang lebih luas.
Sebuah perjanjian pendanaan baru menggambarkan kedua sisi dari argumen tersebut. Pada bulan Agustus, Eurasian Fund for Stabilization and Development menandatangani pinjaman dukungan anggaran senilai $200 juta dengan tenor 20 tahun, masa tenggang 10 tahun, dan suku bunga 1 persen. Ketentuan tersebut sangat lunak (*highly concessional*) dan menunjukkan bahwa pendanaan resmi dalam jumlah besar masih tersedia untuk mendukung program reformasi pemerintah. Pihak dana tersebut juga menyatakan bahwa pinjaman itu diperlukan, antara lain karena pembayaran kembali obligasi global (*Eurobond*) telah memberikan tekanan pada anggaran negara.
Ujian bagi reformasi
Pilihan kebijakan yang ada bukanlah sekadar memilih antara menghentikan proyek Rogun atau melakukan pinjaman tanpa kendali. Tajikistan dapat memanfaatkan hibah serta pendanaan lunak dengan jangka waktu panjang untuk pembangunan bendungan tersebut, sembari membatasi utang non-konsesional, memublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit untuk perusahaan-perusahaan negara utama, serta mengungkapkan jaminan dan tunggakan utang yang ada.
Pelaporan independen mengenai biaya, pengadaan, aspek keselamatan, pemukiman kembali, dan perjanjian penjualan listrik terkait proyek Rogun akan memungkinkan para kreditur maupun warga negara untuk menilai apakah asumsi pendapatan di masa depan masih kredibel. Pemerintah juga membutuhkan pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja domestik dan mendorong ekspor di luar sektor negara. Hal ini menuntut persaingan yang lebih sehat, aturan yang lebih dapat diandalkan bagi investor swasta, serta sistem keuangan yang mampu menyalurkan sebagian pendapatan remitansi negara ke dalam kegiatan usaha produktif, alih-alih hanya untuk konsumsi dan impor.
Data yang ada mendukung sebuah kesimpulan yang realistis. Pertumbuhan ekonomi memang nyata, dan keruntuhan negara bukanlah sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat. Tingkat kemiskinan yang lebih rendah, cadangan devisa yang cukup besar, serta dukungan berupa pinjaman lunak telah memberikan waktu bagi negara tersebut. Pertumbuhan pesat ini hanya akan bertahan jika Dushanbe melakukan diversifikasi ekonomi dan membuat utang TALCO serta perusahaan negara lainnya menjadi transparan. Proyek Rogun dapat mendukung transisi tersebut, namun hanya jika pembiayaannya tetap berada dalam batas pendapatan yang secara realistis dapat dihasilkan oleh proyek itu sendiri.
Ali A. I. — Analis Geopolitik.
Sumber;
https://www.aljazeera.com/opinions/2026/9/29/can-tajikistans-economic-boom-survive-its-debt-gamble
