Bolehkah Si Bodoh Berdemokrasi?

Suara tetap suara, sekalipun ia dianggap bodoh

Riyasi

3/1/20261 min read

Plato pernah mengkritik sistem demokrasi di Athena, baginya Demokrasi itu berbahaya karena orang bodoh tak berkeahlian memiliki kesempatan yang sama dengan orang pintar untuk berkuasa. Hal ini akan membimbing Athena kepada kekuasaan tirani. Seharusnya hanya orang pintar saja yang boleh memimpin supaya negara dapat berjalan ideal.

Loncat ke zaman modern, demokrasi kembali ngetren, negara-negara mulai mengaplikasikan demokrasi ke sistem pemerintahannya, para filsuf dan akademisi mengebangkan pemikiran-pemikiran tentang demokrasi, dan pemikir memperdebatkannya.

Salah satunya adalah Jacques Rancière, seorang akademisi Prancis yang jika hidup di zaman Plato mungkin akan langsung mendapat pendapatnya. Bagi Rancière Demokrasi bukanlah sistem atau hanya prosedur pemerintahan, melainkan tindakan politik itu sendiri. Demokrasi adalah tindakan yang “mengganggu” tatanan sosial oleh Dêmos (Rakyat Jelata) untuk terus memperbaiki kesetaraan.

Baginya demokrasi yang berjalan selama ini palsu karena tidak pernah benar-benar setara. Tatanan sosial begitu diskriminatif; masyarakat adat masih terabaikan, disabilitas belum mendapat fasilitas, minoritas masih ditindas dan tak berdaya. Bahkan orang bodoh bisa saja muncul karena ketidaksetaraan akses pendidikan.

Rancière tak terlalu memperdulikan siapa yang memimpin, tapi bagaimana Dêmos, seluruh rakyat dapat mencapai kesetaraan sejati adalah bagian terpenting. Ia tidak membeda-bedakan orang bodoh dan orang pintar, berkeahlian atau tidak, baginya setiap orang sejatinya setara hanya saja tatanan sosial sering kali diskriminatif.

Karenanya Rancière memotivasi kita agar terus mendorong kesetaraan itu. Memang tidak mudah, tapi itulah Demokrasi.