Concerning Human Effort and Determinism
Peninjauan kembali antara takdir dan kebebasan
WEEKLY CIVIC SYMPOSIUMKARANGAN PANDANG
Raz
7/12/20262 min read


Concerning Human Effort and Determinism
Semalaman membaca Treatise of Love oleh Anatoly Protopopov, tiada mungkin dalam tradisi determinisme untuk seseorang itu sebagai low primitiveness (kemampuan ia dalam menciptakan atau membuat adanya makanan untuk keberlangsungan hidup) dan low ranking (dalam hal status sosial dalam dinamika kelompok) untuk bertahan lama, dan bahkan meningkat pada kemampuan ia dalam hal ketertarikan lawan jenis. Oleh karena dinamika hirarkis yang ada di dalam tubuh kelompok manusia itu, berasalkan dari keturunan. Menuruni low ranking yang sama, menuruni low primitiveness yang sama, bahkan dalam jangka waktu untuk mengubah kode genetik, menurut beliau ini, tiada mungkin, kecuali fame dan rich. Itupun tiada mengubah kode genetik, hanya tempelan saja.
Inilah yang sering digalakkan bahkan oleh Jack Donovan, mengutip No Man’s Land, ia bercerita tentang pertentangan lama di mutakalimin darwinisme pada dunia intelektual barat, mengenai siapa dan yang mana yang lebih unggul alamiah atau yang dicapai. Dengan perkataan Osama bin Laden, yang dikutipnya sebagai penutup, “seseorang selalu memilih kuda yang kuat dan berlari cepat dibandingkan yang biasa.”
Bahwa keunggulan itu bawaan dan alamiah, tiada dapat diganti walau diusahakan sebagaimanapun juga. Berkenaan dengan ini, seorang ahli imunologi, Dr. Rina, pula menyampaikan hal yang serupa, “kode genetik, walau direpetisi untuk mengubahnya dengan kebiasaan dan pergantian lingkungan, terjadi mutasi sangat panjang, walau 40-50 tahun, sangat kecil kemungkinan tersebut dapat terjadi.”
Alangkah ketika memahami ini, daripada Abdurrahman Syararah sempat pula menyampaikan di bukunya yang berjudul The Ruler of Will, bahwa terbagi di antara dua babak dalam keputusan berkaitan hal di atas: takdir dan kebebasan. Semenjak seseorang berpikir mengenai kondisi dirinya, kesadaran atas ketidakmampuan dan kondisi-kondisi yang tiada dapat ia tentukan sendiri, adalah suatu hal yang tidak mungkin, dan tidak dapat tidak untuk diubah bagaimanapun seseorang berusaha sedemikian rupa.
Senada dengan Stoisisme, bahwa ada dikotomi dalam memahami kejadian-kejadian dalam hidup ini pada individu. Bahwa ada keperluan untuk Memento Mori, mencintai dengan seterima-terimanya terhadap apa yang terjadi dalam diri seseorang, kejadian-kejadiannya, pengalaman dirinya. Persis sama dengan halnya tentang kenetralan daripada suatu peristiwa di lampau, hanya persepsi saja yang membentuk kejadian itu pada makna spesifik yang diemban diri kita terhadapnya.
Daripada pandangan kedua daripada Kebebasan itu, ialah ada pilihan untuk tidak mengulangi kejadian-kejadian di lampau sebagai bentuk pembebasan. Sebagai usaha-usaha mencapai peleraian belenggu masa lalu itu, rantai yang menghalangi diri seseorang untuk melangkah, termasuk di dalamnya asumsi tentang determinisme genetik seseorang. Pun demikian, itu tiada menjadikan alasan untuk ide tentang persama-rataan. Beberapa keunggulan ditemukan pada tempat-tempat yang familiar seperti anak berprivilese, ataupun pada anak petani dan kuli.
Bahwa pengondisian merupakan aspek daripada takdir, maka kebebasan untuk mengondisikan yang kita inginkan adalah suatu usaha untuk mencapai natijah diri sebagai penentu. Tersebab ini, Periode New Thought daripada kepingan sejarah Amerika dapat meriwayatkan suatu pendapat lain, “speak your latent conviction”. Genius ialah tiada pengganti. Keunikan tidak dapat ditiru. Sebagaimana dengan keberuntungan berkaitan dengan keunikan di atas, itu adalah bab lain, mau bagaimanapun penulis LUCK itu bersimulasi, tiada yang benar-benar dapat memastikan keberuntungan seseorang dalam mencapai hidup, kecuali hanya dengan ukuran-ukuran diri sendiri terhadap yang lalu sebagai pembanding, sisanya adalah kompetisi yang tidak selalu berfaedah.
Raz
PAH-Columnist.
