Dr. Ali Larijani: Gebu Derap Langkah
Jejak Langkah Perjuangan
KARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAKARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANDANG
Ali A. I
3/24/20261 min read


Jejak Langkah Perjuangan
Ali Larijani—seorang pria berani dan pemimpin luar biasa, yang telah mengabdi kepada negaranya dalam berbagai posisi; Allah telah menakdirkannya bagi bangsa Iran pada salah satu saat paling genting dalam sejarah modernnya. Dengan martabat, keteguhan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan akan kemenangan Allah bagi kaum tertindas, ia memimpin situasi yang paling kompleks dan berliku dalam kondisi ketiadaan Pemimpin Tertinggi.
Dengan kejernihan penuh dan tekad yang tegas, ia menggambar batas-batas pertempuran. Bersama para sahabat seperjuangannya, ia melepaskan diri dari belenggu yang selama puluhan tahun membatasi pusat pengambilan keputusan di Teheran. Ia mengembalikan bangsa itu ke tempatnya di antara bangsa-bangsa dan negara-negara, serta menghadirkan gambaran nyata tentang martabat seorang mukmin di medan pertempuran.
Ketika musuh membunuh para sahabatnya dan Pemimpin Tertingginya, ia tidak berubah dan tidak goyah. Ia tidak bernegosiasi dari posisi lemah atau terhina. Ia tidak gentar oleh armada musuh yang mengepung dari segala arah, maupun oleh pangkalan militer yang tersebar di sekeliling kawasan. Ia memimpin pertempuran dengan keteguhan dan efektivitas, hingga panji itu diteruskan kepada Sayyid Mojtaba untuk melanjutkan jalan perjuangan.
Jika ia hidup; ia hidup sebagai manusia merdeka yang menguasai takdirnya sendiri; itulah harta berharga bagi bangsanya dan bagi seluruh manusia merdeka di dunia. Dan jika ia menjadi syahid—maka itu adalah keniscayaan—bagian setiap manusia, sebagaimana firman Allah: “Apakah jika engkau wafat, mereka akan kekal?” (Al-Qur’an 21:34).
Dan itulah pilihan yang ia tuju tanpa kegelisahan dan tanpa rasa takut, seakan suara batinnya bersenandung:
Kami adalah bangsa yang ditempa oleh cobaan, dibakar oleh penderitaan dan bencana. Kami hidup di dalam api, tiada gentar bernyala. Makanan kami adalah tekad, kebanggaan, dan keteguhan. Kami menyambut syahid sebagai kehormatan dan kemenangan, dan perpisahan dengan para korban kami ubah menjadi perayaan.
Kami bernyanyi kepada kematian — dan di dalamnya kami melihat,di jalan kehidupan, justru kehidupan itu sendiri. Kami bernyanyi hingga luka pun ikut bernyanyi, sebab dalam diri bangsa ini tersembunyi keajaiban.
Ali A.I
Analis geopolitik
