Feodal
Menilik Feodalisme
Riyasi
3/1/20261 min read


Dalam sejarah penjajahan Indonesia, bangsa kolonial meninggalkan “penyakit” paling merusak yang masih menjangkiti masyarakat Indonesia hari ini. Nama penyakitnya adalah Feodalisme.
Feodalisme bukan hanya sebagai sistem politik-ekonomi Eropa abad pertengahan, tapi juga “kultur”, sebuah mentalitas dan budaya hubungan kekuasaan. Kultur feodal selalu meninggikan hirarki, ada “tuan” dan ada “pelayan”. Tugas tuan menjaga pelayan dan tugas pelayan melayani tuan. Kultur feodal tak lebih bagai hubungan vassal kepada lord-nya.
Dalam kehidupan Indonesia modern mental tersebut menjelma dalam bentuk hampir mirip. Dalam kehidupan sehari-hari jabatan dan status sosial masih menjadi tolak ukur penghormatan, padahal pejabat tinggi lebih sering melanggar moral daripada masyarakat tak berpangkat. Dalam birokrasi negara ASN selalu merasa “bukan warga biasa” layaknya priyayi di zaman kolonial, padahal sudah beda zaman. Dalam politik tak kurang miris KKN adalah hal normal dan loyalitas politikus bukan ke khalayak banyak tapi kepada patron. Daftar ini bisa terus dilanjutkan, yang pasti di mana ada hubungan tidak setara yang menguntungkan atasan, disitulah bibit feodal masih bercokol.
Kultur feodal berdampak buruk untuk masa depan Indonesia. Kultur ini mematikan kreativitas, menghilangkan meritokrasi, menciptakan loyalitas predatoris, dan memperlebar kesenjangan. Semua ini adalah pengorbanan kecil hanya untuk menghamba kepada sang “tuan” supaya si “pelayan” mendapat perlindungan.
Maka dari itu “penyakit” ini harus segera diobati. Dimulai dari memahami kata Jean Baptise “Adil lah sejak dalam pikiran” lalu dilanjutkan dengan menjalankan kata “mendidik rakyat dengan pergerakan, mendidik penguasa dengan perlawanan”.
