Gandhi: Diaspora Rangkap Diplomat Kemanusiaan
Gandhi: Diaspora Rangkap Diplomat Kemanusiaan African proverb: “If you want to go fast, go alone; if you want to go far, go together.” membahas tentang potensi nyata diaspora yang sering dilupakan nasibnya oleh bangsa dan negara.
KARANGAN PANDANG
Raz
9/24/20264 min read


Gandhi: Diaspora Rangkap Diplomat Kemanusiaan
African proverb: “If you want to go fast, go alone; if you want to go far, go together.”
Senada dengan kutipan di atas, Gandhi bisa menjadi teladan dan diperhatikan secara saksama oleh sesama diaspora. Dahulu pada masa kuliah, timbul gejolak dan gelisah dari pedalaman jiwa Gandhi muda. Hentakan kesadaran itu, buat ia merasa bahwa seluruh pengetahuan hukum yang ia pelajari di tanah Britania tiada membawa India meraih kedaulatan tanah sendiri. Sehabis bergumul pada kembara di tanah Durban, Afrika Selatan, ia temukan cara paling tepat untuk melawan penjajahan, dengan "satya-graha"; bersumber dari literatur agama Hindu yang ia peluk, berarti: perlawanan tanpa perlawanan (Non-Violence, Resistance).
Pergerakan sosial menyita waktu bertahun-tahun, juga ia menghibahkan diri untuk mencapai daulat India, bersama Nehru, rekan Moh. Hatta pula, dalam gerakan perlawanan dan seakan tiada menemui tepi ini. Selang tahun-tahun genting, akhirnya India berdaulat, menyusul proklamasi Indonesia. Lalu, penembakan terjadi, ditandai pula penghormatan dunia pada Gandhi sebagai diplomat kemanusiaan.
Makna tersembunyi membuncah secara lebih halus lewat momen sejarah ini, tersadarkan lah, ‘bermula gelisah!’
Kegelisahan yang sama, muncul melalui kesadaran dari peningkatan tensi lintas benua; geopolitik timteng dan gejolak sengketa berdarah dari Rusia-Ukraina, hingga kabar terkini dari perang yang berlarut, membuat suasana masyarakat dunia menuju parade demonstrasi. Dapatlah kita menunggu-nunggu waktu bahwa ini semua akan eskalasi dan meningkat semarak kemarahan dunia pada hak-hak mendasar manusia: hak keamanan dan kenyamanan (the very idea of human rights and welfare).
Ada baiknya pemerintah memahami tabiat diaspora, pula keikutsertaannya pada perkembangan peristiwa dunia. Tentu dapat dijelaskan tanpa perlu mencari pembenaran tambahan, yakni oleh karena jejaring dunia yang diaspora saban hari geluti dan bercakap-cakap dalam jangka waktu yang tidak sebentar berkenaan bangsa-bangsa lain. Tidak boleh lupa juga bahwa pelbagai hal tentu diperbincangkan tentang gejolak dan tensi geopolitik itu. Tidak hanya sendiri, berlaku pula bersama rekan sepenanggungan sesama bangsa di negeri rantau. Hingga pada akhirnya, terpantik dan timbul sepercik rona gelisah lewat singgungan perbincangan; diaspora menyuratkan kekhawatiran bahwa Indonesia bisa terkena dampak tidak langsung oleh peristiwa-peristiwa, penentu jalannya zaman abad 21, tersebut.
Sebagaimana penggal sejarah Hari Kemerdekaan kita, tersebab celah waktu dari pendudukan Jepang yang mengalami vacuum of power di tanah air, tersebar berita melalui corong radio dalam pegangan Sjahrir bahwa Dai Nippon baru saja terjatuhi bom atom dari sekutu. Tidak hanya itu, tragedi tahun 1965 yang bertalian erat dengan peristiwa, serta residu dari Perang Dingin. Jejaring Poros Kekuatan ini, menentukan keberlanjutan dan keberlangsungan Indonesia sebagai bangsa, tentu ada partisipasi Indonesia via agenda Non-Blok kala masa awal Soekarno di Bandung itu. Seakan-akan, hinggap ingatan ini bagi komunitas diaspora tatkala situasi geopolitik regional-global semakin memuncak dan mengindikasikan implikasi lanjutan dan berdampak sedikit-banyak nantinya kepada Indonesia—Jas Merah, jangan sesekali melupakan sejarah; begitu ungkapan simbolik Soekarno, menjadi pengingat dan pencetus kesadaran di benak kolektif diaspora.
Kembali dan mengulas lebih dalam tentang under-recognized skilled community ini, di antara mereka ada sambat seraya membuka diri, "bukannya tidak ingin membangun bangsa sendiri," terdengar keluh kesah para diaspora, "seringkali kami lebih sering disambut oleh kecemburuan sosial dibandingkan kami disambut dengan pulangnya dia si anak rantau.." Ucapan ini, begitu mewakili keadaan jiwa orang-orang yang rindu tanah air, ibu pertiwi, Indonesia. Rupanya, rindu itu pun dapat diredakan sewaktu-waktu dengan suasana hari lebaran di kedutaan Indonesia pada setiap negara rantau masing-masing, sembari menikmati makanan khas Indonesia yang sedang mengepul dan luruhlah gejolak kecemasan dan keluh kesah itu di benak langit harapan mereka kepada majunya bangsa Indonesia.
Pembeda penting di antara kolektif lain, terdapat ciri khas inti dari pada diaspora, duta Indonesia tanpa tanda jasa ini, seakan berpegang teguh seutuhnya terhadap pepatah, "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Yakni, kesadaran terhadap citra bangsa Indonesia terbeban pada integritas dan kemampuan mereka di negeri rantau, kepada langit dari tanah yang diaspora masing-masing berpijak sekarang ini.
Gejolak hati muncul tatkala menginjakkan kaki di tanah air, Indonesia. Tidak jarang terjadi todong-menodong, bukannya gotong-royong. Seakan ada keraguan di dalam hati handai taulan dan sejawat satu tanah air sambil bergumam dan bertanya, "inikah rumahku sekarang?" dan jenak dilematik ini terasa begitu menggebu begitu mendengar mas Darwadi, alumni Rusia itu, mengungkapkan perihal yang sama, sembari mengingat masa lampau saat menatap di tepian sungai Volga, “antara memilih ibu kandung atau ibu asuh…”
Pertanyaan demi pertanyaan, menuntut benak untuk mencari jawaban. Biasanya, jawaban itu menuntun dan ditindaklanjuti, sehingga membulatkan keputusan; keputusan apa? Membulatkan putusan untuk beralih menyelamatkan diri sendiri, setelah, rasa-rasanya, gagal memberi kembali kepada ibu pertiwi. Di antara diaspora seolah mengutip dan memutar, ungkap lirik lagu tempo dulu yang semarak tiap kali perbincangan mengerucut perihal Indonesia dan kemakmurannya,
//"tongkat, kayu, dan batu
jadi tanaman"
Oleh Koes Plus itu, yang sarat kontradiksi serta implikasinya saat rampung dengan lirik sebelumnya,
//"orang bilang
tanah kita
tanah surga."
Rasa-rasanya, lebih banyak yang suka menderita daripada menanam bibit manfaat. Pula bisa dibilang, diaspora secara halus diutus untuk mempelajari dan menguasai mekanika-teknik terbaik untuk menanam manfaat tersebut, dan dibebankan pula seberapa cepatnya waktu panen itu tiba.
Ungkapan Buya Hamka begitu tepat menggambarkan kondisi ini, “arang telah tercoreng di muka,” seakan mengotori martabat diri sendiri padahal belum memulai dan merasa lebih baik untuk tidak saling menghadap muka pada wajah Indonesia, walau dahulu dengan ikhlas mencoba menjadi duta Indonesia sebaik mungkin.
Alangkah bijaksana, dalam hal ini, mempertimbangkan inisiasi diskursus alternatif sebagai usaha mengisi kegamangan yang dialami komunitas diaspora. Yakni, Penentuan Arah Baru komunitas diaspora yang senada dan seimbang makna dengan adagium bangsa Romawi: "seribu jalan menuju Roma". Tak kalah penting adagium ini diambil dari sari makna setara, pemerintah dapat memfasilitasi giat tersebut yang bermula dari IKN dengan—seribu jalan menuju Nusantara. Menuntaskan kegamangan dengan itikad untuk kemajuan bangsa, difasilitasi bersama pemangku kebijakan.
Raz is a publisher, Premature Authoring—Hub.
