Geopolitika, Agama, dan Eskatologi: Bagaimana Pers Israel Menjelaskan Perang di Sekitar Iran
Alihan Lingua dan analisis kritis
KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN
3/16/20266 min read


Geopolitika, Agama, dan Eskatologi: Bagaimana Pers Israel Menjelaskan Perang di Sekitar Iran
Kami terus mengikuti dengan cermat apa yang beredar di koridor pers Israel. Tujuannya adalah mengamati apa yang diungkapkan oleh wacana mereka tentang cara berpikir di dalam lembaga politik dan keamanan Israel, sekaligus menangkap indikator-indikator yang dapat membantu pembaca memahami dinamika konflik secara lebih mendalam.
Apakah mungkin menyingkirkan kemungkinan bahwa kita sedang memasuki perang religius yang dapat berujung pada akhir dunia?
Oleh: Amit Verchitsky
Serangan terhadap Iran tidak hanya mengejutkan rezim di Teheran, tetapi juga para sekutunya, terutama Rusia. Moskow mengikuti perkembangan dengan sangat cermat dan khawatir bahwa keseimbangan kekuatan geopolitik di Timur Tengah dapat berubah secara drastis. Bagi Kremlin, Iran bukan sekadar mitra regional, melainkan pilar utama dalam poros yang menantang dominasi Barat. Gangguan terhadap stabilitas Iran berpotensi merusak kepentingan vital Rusia.
Setelah serangkaian guncangan di wilayah pengaruhnya dalam beberapa tahun terakhir—termasuk Suriah pada masa Bashar al-Assad dan Venezuela di bawah Nicolás Maduro—Moskow tidak mampu kehilangan satu lagi mitra strategis. Bagi Rusia, eskalasi di sekitar Iran merupakan ujian terhadap posisinya sebagai kekuatan besar sekaligus terhadap kemampuannya mempertahankan pengaruh regional maupun global.
Sejauh ini Moskow membatasi diri pada tekanan diplomatik dan tawaran mediasi. Pada saat yang sama Rusia mengecam keras serangan terhadap Iran serta menuduh Israel dan Amerika Serikat melanggar hukum internasional dan merusak stabilitas kawasan. Para pejabat tinggi Kremlin juga menegaskan bahwa Rusia tidak berniat terseret ke dalam intervensi militer. Mereka menekankan perlunya gencatan senjata dan kembalinya proses diplomatik.
Namun di balik bahasa diplomatik yang berhati-hati itu tersimpan kekhawatiran yang mendalam. Moskow khawatir munculnya kampanye regional berskala luas yang dapat mengguncang jaringan aliansi yang diandalkannya serta memperburuk posisinya di Timur Tengah.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sekaligus mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan dalam wawancara dengan kantor berita Rusia TASS bahwa agresi Amerika–Israel dapat memicu eskalasi luas yang berpotensi berkembang menjadi Perang Dunia Ketiga. Menurutnya, serangan bersama terhadap Iran merupakan bagian dari upaya Barat untuk mengguncang status quo dan memaksakan kendali strategis di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyampaikan peringatan serupa. Ia menegaskan bahwa perang tersebut dapat menghasilkan konsekuensi yang justru berlawanan dengan harapan para pendukungnya dan bahkan mempercepat perlombaan senjata nuklir di kawasan. Negara-negara di wilayah itu, menurutnya, dapat sampai pada kesimpulan bahwa hanya senjata nuklir yang mampu menjamin keamanan mereka dari serangan.
Namun siapa pun yang ingin memahami mentalitas yang berkembang di Kremlin dan di kalangan pendukung Vladimir Putin sebaiknya juga mendengarkan suara-suara yang tidak terikat oleh bahasa diplomatik para politisi. Salah satu suara tersebut adalah filsuf Aleksandr Dugin. Ia dikenal memiliki pengaruh di kalangan dekat pemerintah di Moskow serta advokasi kuatnya bagi visi geopolitik yang bertujuan mengakhiri imperialisme Barat dan konsep dunia unipolar yang didominasi oleh satu peradaban—peradaban Amerika.
Dugin sejak lama menyerukan pembentukan tatanan dunia multipolar yang berlandaskan peradaban besar dan kedaulatan nasional. Model ini ia tawarkan sebagai alternatif terhadap dominasi liberal Barat. Menurutnya, bangsa merupakan entitas historis dan organis yang memiliki tradisi, nilai, dan pandangan dunia yang unik. Karena itu budaya suatu bangsa tidak dapat diukur dengan standar bangsa lain, dan nilai suatu negara tidak boleh dipaksakan kepada negara lain.
Atas dasar pemikiran tersebut Dugin menilai bahwa tatanan dunia saat ini hanyalah kedok bagi apa yang ia sebut sebagai “imperialisme spiritual” Amerika. Tujuannya, menurutnya, adalah membangun dunia unipolar dan menghancurkan kedaulatan budaya serta politik peradaban lain.
Dalam pandangan Dugin, naiknya Donald Trump dan gerakan isolasionis Make America Great Again menandai titik balik dalam sejarah dunia. Untuk pertama kalinya Gedung Putih dipimpin oleh seorang presiden kontroversial yang menentang perjanjian perdagangan internasional, berupaya melemahkan NATO, serta secara terbuka menentang elit global dan wacana progresif.
Dugin melihat perkembangan ini sebagai peluang untuk meruntuhkan hegemoni liberal Barat dan membangun sistem dunia multipolar. Namun setelah Angkatan Udara Amerika Serikat terlibat dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, ia menyimpulkan bahwa Rusia tidak lagi dapat mengandalkan Trump sebagai sekutu strategis. Rusia, menurutnya, harus bersiap menghadapi konfrontasi menentukan dengan Barat. Saat itu ia bahkan menyatakan: “Perang Dunia Ketiga sebenarnya telah dimulai.”
Sejak dimulainya kampanye pemilu saat ini, Dugin melancarkan gelombang pernyataan melalui media sosial dan berbagai wawancara media, termasuk media Barat. Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap Trump yang menurutnya kini telah menjadi boneka di tangan kaum Zionis. Ia juga menyerukan agar Rusia bersiap menghadapi perang hari kiamat.
“Perang ini ditujukan terhadap kita… jika Iran jatuh, kita akan menjadi yang berikutnya,” ujarnya. Dalam wawancara lain ia bahkan menyampaikan ancaman implisit: “Orang Amerika dan Israel masih belum mengetahui arti perang yang sesungguhnya, tetapi mereka akan segera mengetahuinya. Jika Iran mampu bertahan, segala kemungkinan terbuka.”
Pentingnya pernyataan Dugin tidak hanya terletak pada kemampuannya mencerminkan ketakutan yang berkembang di dalam elite politik Moskow. Ia juga berpengaruh terhadap kerangka ideologis sayap kanan ekstrem di Eropa dan Amerika Serikat. Sebagai tamu yang sering diundang di media internasional dan sebagai kritikus tajam terhadap tatanan dunia, Dugin semakin mendapat perhatian di kalangan politik dan intelektual yang melihatnya sebagai analis konflik geopolitik antara kebangkitan gerakan nasional dan apa yang mereka sebut sebagai “elit global Barat”.
Sekali lagi Dugin tidak ragu menggunakan bahasa yang kuat. Ia memanfaatkan dunia imajinasinya yang penuh gambaran katastrofik untuk menekankan betapa seriusnya momen sejarah ini. Pekan lalu, dalam sebuah konferensi daring, ia menyatakan:
“Kita sedang mendekati perang metafisik… penggunaan senjata nuklir bukan lagi gagasan abstrak, melainkan kenyataan… ini adalah perang yang melampaui alam… kita tidak boleh berkompromi dengan iblis.”
Dalam pandangan Dugin, di balik konflik nasional dan regional serta politik global secara umum terdapat dimensi teologis yang mendalam. Dimensi ini memberi makna metafisik—bahkan eskatologis—kepada konflik geopolitik.
Dalam wawancara dengan jurnalis Johnny Miller dari saluran Iran Press TV pada Juli 2025, ia menjelaskan bahwa serangan Israel terhadap Iran hanyalah bagian dari proses pelemahan proyek Zionis. Proyek tersebut, menurutnya, bertujuan mewujudkan visi “Israel Raya”, sementara Iran dipandang sebagai hambatan utama.
Ia juga berpendapat bahwa Zionisme merupakan bentuk mesianisme palsu yang telah menyimpangkan gagasan mesianisme Yahudi tradisional dan menggantinya dengan bentuk ketuhanan nasional palsu. Dalam kerangka ini, mesianisme politik Zionis menggantikan penantian diaspora Yahudi terhadap kedatangan Mesias.
Dalam wawancara dengan saluran Rusia Sputnik pada Juni lalu ia berkata:
“Mereka percaya bahwa merekalah Mesias yang ditunggu-tunggu… Netanyahu kini bertindak seolah-olah ia adalah Mesias tersebut. Ia melancarkan perang terhadap semua bangsa non-Yahudi di Timur Tengah dan menghancurkan rakyat Palestina. Politik Netanyahu merupakan perpaduan antara metafisika, eskatologi, dan politik—seperti pada masa Taurat kuno. Itulah inti Zionisme.”
Dugin juga memperingatkan bahwa tahap berikutnya mungkin berupa penghancuran Masjid al-Aqsa dan pembangunan Bait Suci Ketiga di atas reruntuhannya. Ia menilai bahwa Netanyahu memiliki apa yang ia sebut sebagai “kesadaran magis”. Namun menurutnya kaum Syiah di pihak lain juga berpikir dengan cara yang serupa.
Bagi mereka, politik digerakkan oleh dorongan eskatologis serta oleh penantian kemunculan Imam Mahdi, Imam Kedua Belas yang ghaib. Tokoh ini diyakini akan mengalahkan al-Masih ad-Dajjal yang diasosiasikan dengan Barat sekuler materialistis dan Zionisme.
Menurut Dugin:
“Bagi Iran, Israel adalah musuh metafisik.”
Singkatnya, Dugin menjelaskan bahwa apa yang sedang terjadi merupakan ledakan eskatologis—sebuah konfrontasi global antara berbagai visi mengenai akhir zaman. Di satu sisi terdapat mesianisme politik yang diasosiasikan dengan Netanyahu, Smotrich, dan Ben Gvir. Di sisi lain terdapat eskatologi Syiah. Sementara itu di Amerika Serikat terdapat kaum evangelikal dan Kristen Zionis yang didukung oleh tokoh-tokoh seperti Lindsey Graham dan Ted Cruz.
Dalam interpretasi mereka terhadap nubuat akhir zaman, Rusia dipandang sebagai “kerajaan utara”—Gog dan Magog—yang suatu hari akan memimpin perang besar melawan Israel.
“Kita harus mengubah cara membaca realitas geopolitik sekarang,” kata Dugin.
“Penjelasan klasik tidak lagi mampu menjelaskan apa pun. Kita hidup di dunia yang sangat berbahaya di mana hukum internasional dan seluruh tatanan internasional tampaknya telah kehilangan maknanya.”
Ia menambahkan bahwa dunia kini menyaksikan pertemuan antara doktrin religius kuno dan sensitivitas pascamodern. Pertemuan ini menciptakan realitas baru di mana dimensi teologis, mitologis, dan politik hidup berdampingan.
Di masa lalu kita mungkin mengabaikan hal-hal semacam ini. Namun dalam realitas yang kini terbentuk di depan mata, apakah masih masuk akal untuk sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan bahwa kita berada di tengah perang religius yang dapat berujung pada akhir dunia?
Amit Verchitsky
Sumber: Haaretz
⸻
Pembacaan analitis terhadap artikel dan implikasi strategisnya
Artikel ini merupakan salah satu tulisan berbahasa Ibrani yang paling mendalam dan paling mengkhawatirkan. Ia tidak hanya membahas keseimbangan kekuatan atau kemungkinan ekspansi militer. Sebaliknya, ia mencoba menempatkan perang yang sedang berlangsung dalam kerangka penafsiran yang lebih luas: dari politik dan strategi menuju teologi, eskatologi, dan imajinasi metafisik mengenai konflik.
Namun inti sebenarnya dari tulisan ini bukanlah religius semata. Ia pada dasarnya merupakan analisis keamanan-strategis yang menggunakan dimensi religius untuk menjelaskan bahaya lepasnya konflik dari kendali tradisional.
Kesimpulan utama artikel ini adalah bahwa perang dengan Iran tidak lagi sekadar konfrontasi militer yang dapat dikendalikan melalui instrumen penangkalan klasik. Konflik ini kini berpotensi tergelincir menjadi benturan yang sarat muatan ideologis dan eskatologis.
Hal ini terjadi karena sejumlah aktor utama—mulai dari Zionisme religius hingga kaum evangelikal Amerika dan sebagian arus Syiah—membaca realitas politik dengan bahasa akhir zaman. Pertanyaan utama yang diajukan artikel ini menjadi jelas: apakah peristiwa yang terjadi masih dapat dipahami sepenuhnya melalui bahasa geopolitik, ataukah dimensi simbolik-religius telah menjadi bagian nyata dari mesin penggerak konflik.
Tulisan ini juga memperlihatkan kekhawatiran bahwa konflik telah melewati tahap “perang yang dapat dikelola”. Ada perbedaan mendasar antara perang yang berlangsung di dalam sistem internasional dan perang yang pada akhirnya merusak sistem tersebut karena para aktor tidak lagi bertindak sesuai logikanya.
Artikel ini juga menunjukkan kecemasan bahwa keputusan keamanan Israel mungkin semakin bercampur dengan imajinasi religius dan simbolik. Penulis tidak secara langsung menyatakan bahwa kepemimpinan Israel menjalankan perang teologis, tetapi ia mengisyaratkan bahwa sebagian lingkaran kekuasaan mungkin digerakkan oleh motivasi yang melampaui kalkulasi keamanan klasik.
Lebih jauh lagi, tulisan ini memperlihatkan dilema strategis yang lebih dalam. Jika para lawan mulai meyakini bahwa mereka sedang terlibat dalam konflik eksistensial kosmik, sementara sebagian aktor di dalam Israel dan sekutunya juga menafsirkan konflik dengan bahasa yang serupa, maka keunggulan militer dapat kehilangan sebagian efektivitas politiknya.
