Hormuz Menentukan Nasib Perang
Analisis kolumnis
KARANGAN PREDIKSIKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIA
Ali A. I.
3/10/20264 min read


Selasa, 10 Maret 2026
Hormuz Sebagai Tipping-Point
Sejak awal perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, muncul satu pertanyaan mendasar: mengapa Presiden Amerika Serikat Donald Trump meremehkan persoalan yang oleh para pendahulunya dianggap sebagai simpul paling sulit dalam keputusan perang—yakni kemungkinan penutupan Selat Hormuz? Kekhawatiran ini telah membuat presiden-presiden Amerika sebelumnya enggan memasuki perang, bahkan ketika Iran berada dalam posisi yang jauh lebih lemah. Karena itu, selama beberapa dekade terakhir berbagai proyek diajukan untuk mengurangi ketergantungan pada jalur minyak melalui Hormuz: mulai dari proyek pipa Nabucco dari Kazakhstan ke Turki, kemudian gagasan pipa Qatar–Turki menuju Eropa melalui Suriah—yang penolakannya oleh presiden Suriah saat itu disebut sebagai salah satu sebab perang terhadapnya—hingga taruhan pada minyak dan gas di Mediterania Timur.
Namun Presiden Trump tampak yakin bahwa ia mampu menentukan hasil perang sebelum faktor Hormuz benar-benar muncul. Rencana yang disusun bertumpu pada konsep “memenggal kepala”: pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran dan sejumlah besar tokoh pimpinan, yang diharapkan akan memicu keruntuhan sistem dan mendorong masyarakat turun ke jalan untuk menjatuhkan rezim dalam hitungan hari. Kenyataannya, gambaran ini tidak terwujud. Sistem tetap bertahan, sebagian besar masyarakat berdiri di belakangnya, dan persoalan Hormuz kembali mengemuka.
Pada hari kesepuluh perang, Senin 9 Maret 2026, dunia terbangun dengan harga minyak Brent mencapai 119,5 dolar per barel pada puncak perdagangan. Lonjakan ini membawa harga kembali ke tingkat yang tidak tercatat sejak tahun 2022, sebelum kemudian mengalami sedikit fluktuasi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar telah beralih dari sekadar memperhitungkan “risiko politik” menjadi mulai memperhitungkan kemungkinan kekurangan pasokan nyata—sebuah situasi yang menempatkan ekonomi global di ambang potensi guncangan minyak.
Menurut perkiraan Badan Energi Internasional, pasar minyak dunia berjumlah sekitar 108 juta barel per hari. Yang secara langsung mempengaruhi harga adalah bagian yang diperdagangkan melalui jalur laut, yakni pasar perdagangan internasional. Dari total produksi tersebut, sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk turunannya melewati Selat Hormuz—sekitar seperempat dari pasokan global. Sementara itu, kapasitas alternatif untuk menyalurkan minyak tanpa melalui Hormuz—melalui Arab Saudi ke Laut Merah atau melalui Uni Emirat Arab ke Laut Oman—diperkirakan hanya berkisar antara 3,5 hingga 5,5 juta barel per hari.
Gangguan pada Hormuz dapat menghilangkan sekitar 15 juta barel per hari dari pasar—jumlah yang sangat sulit digantikan dengan cepat. Dampaknya semakin besar karena sebagian besar produksi minyak dunia dikonsumsi di dalam negara produsen itu sendiri, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Dengan demikian, minyak yang benar-benar beredar dalam perdagangan internasional diperkirakan hanya sekitar 45 hingga 50 juta barel per hari. Dalam konteks ini, hilangnya 15 juta barel berarti sekitar sepertiga dari pasar perdagangan global yang menjadi penentu harga minyak dunia.
Wilayah yang paling rentan terhadap guncangan ini adalah Asia, khususnya Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, karena sebagian besar minyak Teluk mengalir ke arah timur dan negara-negara tersebut sangat bergantung pada minyak Teluk serta gas Qatar. Eropa juga terdampak, meskipun dalam tingkat yang lebih rendah pada sektor minyak karena sumber pasokannya lebih beragam. Namun dampak krisis terlihat lebih jelas di sana pada sektor gas dan biaya industri. Adapun Amerika Serikat merasakan dampak krisis terutama melalui harga, inflasi, dan pasar keuangan, lebih daripada sebagai pengimpor langsung minyak Teluk.
Ketika pasar kehilangan jumlah yang setara dengan sepertiga volume perdagangan global, mekanisme kenaikan harga yang cepat mulai bekerja. Para pembeli berlomba mengamankan pasokan dengan tawaran harga lebih tinggi, sehingga tangga harga naik dengan cepat. Pada titik tertentu, industri yang sangat bergantung pada energi tidak lagi mampu membeli pada harga tersebut, sehingga mulai mengurangi produksi atau keluar dari pasar. Ketika permintaan menyusut akibat penutupan atau kebangkrutan, harga kemudian cenderung stabil—namun pada saat itu guncangan telah lebih dahulu menghantam sektor-sektor industri secara luas.
Sektor yang paling rentan terhadap guncangan ini adalah sektor di mana energi menyumbang lebih dari dua puluh persen biaya produksi, seperti petrokimia, pupuk, aluminium, baja, semen, kaca, dan kertas, selain juga sektor pelayaran dan penerbangan. Perusahaan besar seperti BASF, Dow, dan LyondellBasell di industri kimia; ArcelorMittal, Nippon Steel, dan U.S. Steel di industri baja; Alcoa dan Rusal di aluminium; Maersk dan MSC di pelayaran; serta American Airlines, United, dan Lufthansa di sektor penerbangan merupakan contoh langsung dari sektor-sektor tersebut. Penjualan gabungan perusahaan-perusahaan ini mencapai sekitar 723 miliar dolar per tahun dan secara langsung mempekerjakan hampir satu juta pekerja, dengan dampak tidak langsung yang jauh lebih luas melalui rantai pasokan.
Dalam skenario semacam ini, keruntuhan ekonomi terjadi melalui rantai penularan. Prosesnya dimulai dari kenaikan harga minyak dan gas, diikuti peningkatan biaya transportasi, asuransi, dan pembiayaan, yang kemudian menggerus margin keuntungan industri berat. Setelah itu harga saham menurun dan perusahaan mulai menggunakan likuiditas atau menjual aset untuk mempertahankan nilai pasar mereka. Ketika kerugian meluas, krisis merambat ke sektor utang dan jaminan, lalu ke bank, perusahaan pembiayaan, dan perdagangan komoditas. Pada tahap ini, “kehancuran permintaan” berubah menjadi kebangkrutan dan penutupan nyata.
Penularan krisis ini tidak bermula dari bank, tetapi dapat berakhir di sana. Lembaga keuangan yang paling rentan adalah yang terlibat dalam pembiayaan industri berat, perdagangan energi dan komoditas, transportasi, pelayaran, serta pasar derivatif. Karena itu pusat-pusat keuangan di New York, Washington, dan Chicago sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak, karena hal itu memberi tekanan pada kredit, jaminan, pembiayaan perdagangan, dan penetapan harga kontrak berjangka. Tidak mengherankan jika dengan cepat muncul seruan untuk membahas penggunaan cadangan minyak strategis di tingkat negara-negara G7, dan opsi ini juga diajukan di dalam Senat Amerika Serikat.
Secara politik, negara-negara yang paling berkepentingan menghentikan pendarahan ini adalah Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, negara-negara Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Namun bobot penentu tetap berada di Washington, karena Amerika Serikat memegang tiga lingkaran sekaligus: keputusan militer, sistem keuangan global, serta pasar dolar dan cadangan internasional. Jika Amerika Serikat bergerak menuju penghentian perang, peluang de-eskalasi meningkat. Jika perang tetap terbuka, ekonomi global akan terus berada di bawah tekanan.
Di dalam Amerika Serikat sendiri, tekanan politik dapat muncul seiring terdampaknya sektor industri dan keuangan. Dalam komposisi Senat saat ini, Partai Republik memiliki 53 kursi, dibandingkan 45 untuk Partai Demokrat dan 2 independen. Di negara bagian penghasil energi menonjol tokoh-tokoh Republik seperti Ted Cruz dan John Cornyn dari Texas, John Kennedy dan Bill Cassidy dari Louisiana, serta Shelley Moore Capito dan Jim Justice dari Virginia Barat. Sementara di negara bagian industri, keuangan, dan teknologi muncul nama-nama seperti Elissa Slotkin dan Gary Peters dari Michigan, Dave McCormick dan John Fetterman dari Pennsylvania, Chuck Schumer dan Kirsten Gillibrand dari New York, Adam Schiff dan Alex Padilla dari California, Maria Cantwell dan Patty Murray dari Washington, Mark Warner dan Tim Kaine dari Virginia, serta Bernie Moreno dan Jon Husted dari Ohio.
Peta ini penting karena negara bagian energi cenderung mendorong retorika penangkalan dan kekuatan, sementara negara bagian industri, keuangan, dan teknologi menjadi jauh lebih sensitif ketika harga minyak melonjak dan ancaman mulai mendekati lapangan pekerjaan, pasar saham, dan inflasi.
