Iran Mungkin Menjadi Tempat di Mana Tatanan Dunia yang Dipimpin Amerika Serikat Berakhir

Hegemoni Amerika Serikat tampak terurai secara nyata di depan mata, seiring serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan tersingkapnya kerapuhan jaminan keamanan Amerika.

KARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA

Kashif Hasan Khan

3/14/20265 min read

Iran Mungkin Menjadi Tempat di Mana Tatanan Dunia yang Dipimpin Amerika Serikat Berakhir

Hegemoni Amerika Serikat tampak terurai secara nyata di depan mata, seiring serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan tersingkapnya kerapuhan jaminan keamanan Amerika.

Oleh: Kashif Hasan Khan

14 Maret 2026

Dalam karya monumentalnya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, sejarawan Edward Gibbon berpendapat bahwa imperium jarang runtuh secara tiba-tiba. Kemunduran mereka biasanya berlangsung secara bertahap, dibentuk oleh perubahan struktural jangka panjang.

Namun sejarah juga mencatat bahwa terkadang satu kesalahan strategis dalam penilaian dapat mempercepat proses tersebut. Pertanyaan yang patut diajukan hari ini adalah apakah Amerika Serikat sedang mendekati momen semacam itu.

Serangan bersama yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 memicu perdebatan tajam di kalangan peneliti dan pengamat politik. Konflik militer di Asia Barat bukanlah fenomena yang asing, tetapi episode ini berpotensi membawa konsekuensi yang jauh melampaui medan tempur langsung.

Sebagian analis bahkan membandingkannya dengan Krisis Suez tahun 1956, ketika Inggris dan Prancis berupaya merebut Terusan Suez setelah Mesir memutuskan untuk menasionalisasikannya.

Walaupun operasi tersebut pada awalnya mencapai keberhasilan militer, secara politik ia runtuh setelah Amerika Serikat memaksa sekutu-sekutu Eropanya untuk mundur. Krisis itu memperlihatkan bahwa Inggris tidak lagi mampu bertindak sebagai kekuatan global yang independen, dan menjadi simbol berakhirnya dominasi imperium Inggris.

Hari ini, serangan terhadap Iran mungkin menandai titik balik geopolitik yang serupa. Selama lebih dari tujuh dekade, Amerika Serikat menjadi poros tatanan dunia, bukan hanya melalui kekuatan militernya, tetapi juga melalui institusi, aturan, dan pengaturan ekonomi yang membentuk sistem internasional setelah Perang Dunia Kedua.

Banyak ekonomi berkembang, termasuk kekuatan-kekuatan baru yang sedang naik, tumbuh di dalam kerangka tersebut. Kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan industri besar serta meningkatnya integrasi Rusia ke dalam pasar global sebagian besar berlangsung di dalam sistem ekonomi yang terbentuk di bawah kepemimpinan Amerika.

Karena itu legitimasi kepemimpinan Amerika tidak hanya bertumpu pada kekuatan semata, melainkan juga pada keyakinan bahwa sistem yang dibangunnya menyediakan stabilitas serta keuntungan ekonomi bersama. Tidak ada kawasan yang lebih penting secara strategis bagi pengaturan ini dibandingkan Asia Barat.

Fondasi Kepemimpinan Amerika di Asia Barat

Asia Barat sejak lama merupakan salah satu kawasan paling bergejolak dalam politik internasional. Sejak berdirinya Israel pada tahun 1948, konflik berulang antara Israel dan negara-negara Arab, disertai rivalitas sektarian serta perang saudara, telah menciptakan kondisi ketidakstabilan yang berkepanjangan.

Namun kawasan ini juga memiliki cadangan minyak yang sangat besar, menjadikan stabilitas politiknya sebagai unsur penting bagi berfungsinya ekonomi global.

Untuk mengelola realitas strategis tersebut, Amerika Serikat membangun kerangka keamanan dan energi yang kemudian menjadi pusat pengaruh globalnya. Sejak dekade 1970-an Washington memberikan jaminan keamanan kepada monarki-monarki Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Sebagai imbalannya, negara-negara tersebut sepakat untuk menetapkan harga dan memperdagangkan minyak terutama dalam dolar Amerika Serikat. Pengaturan ini kemudian dikenal sebagai sistem petrodollar.

Sistem tersebut memperkuat posisi sentral dolar dalam sistem keuangan global, sekaligus menjamin pasokan energi yang stabil.

Hubungan ini berfungsi sebagai kesepakatan strategis yang jelas: negara-negara Teluk memperoleh perlindungan keamanan di kawasan yang sarat rivalitas geopolitik, sementara Amerika Serikat memperoleh stabilitas energi serta pengaruh finansial.

Seiring waktu, pengaturan ini turut mendukung pembangunan ekonomi di Teluk sekaligus mengukuhkan posisi Washington sebagai kekuatan eksternal utama yang membentuk keamanan kawasan.

Namun Iran selama bertahun-tahun berada di luar sistem ini.

Setelah Revolusi Islam tahun 1979, hubungan antara Teheran dan Washington memburuk secara tajam. Iran kemudian memposisikan diri sebagai kekuatan yang menantang pengaruh Amerika, sambil membangun jaringan aliansi regional dengan aktor-aktor seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

Hubungan-hubungan tersebut memperdalam ketegangan kawasan dan sekaligus memperkuat ketergantungan monarki-monarki Teluk pada jaminan keamanan Amerika.

Selama beberapa dekade strategi Amerika di Asia Barat bertumpu pada tiga pilar utama:

  1. Menahan Iran

  2. Mempertahankan sistem petrodollar

  3. Menjamin keamanan mitra-mitra Teluk

Kerangka ini memungkinkan Washington membentuk dinamika kawasan sambil mempertahankan kepemimpinannya yang lebih luas di tingkat global.

Mengapa Sistem Regional Dapat Retak

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa fondasi sistem ini mulai mengalami guncangan.

Serangan terhadap Iran pada Februari 2026 memunculkan pertanyaan serius mengenai kredibilitas dan keberlanjutan kepemimpinan Amerika di kawasan.

Salah satu sumber kekhawatiran berkaitan dengan kepercayaan diplomatik. Laporan menunjukkan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sedang berlangsung di Oman ketika serangan pertama terjadi.

Meluncurkan operasi militer di tengah proses diplomatik berpotensi merusak kepercayaan terhadap jalur perundingan. Dalam diplomasi internasional, kredibilitas tetap menjadi sumber daya yang sangat penting bahkan di antara para rival strategis.

Selain itu, perdebatan luas juga muncul mengenai legitimasi operasi tersebut. Menurut berbagai laporan, serangan itu tidak memperoleh otorisasi resmi dari Kongres Amerika Serikat dan juga tidak mendapatkan persetujuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tindakan yang melampaui mekanisme internasional yang dikenal secara luas hampir pasti menimbulkan pertanyaan mengenai aturan yang mengatur penggunaan kekuatan serta konsistensi tatanan internasional.

Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa dampak regional dari peristiwa ini mengungkapkan sejumlah kerentanan yang semakin nyata.

Serangan balasan Iran menargetkan infrastruktur dan lokasi strategis yang berkaitan dengan negara-negara Teluk. Bagi pemerintah-pemerintah tersebut, hal ini memunculkan pertanyaan mendasar:

Jika Amerika Serikat tidak mampu melindungi mereka dari eskalasi regional, apakah ia masih dapat berperan sebagai penjamin keamanan yang dapat diandalkan?

Kekhawatiran ini sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir negara-negara Teluk mulai mendiversifikasi hubungan strategis mereka.

Kehadiran ekonomi Tiongkok yang semakin besar di kawasan menciptakan kemitraan alternatif yang sebelumnya tidak tersedia. Melalui investasi besar, proyek infrastruktur, dan kerja sama energi, Beijing secara bertahap memperkuat posisinya sebagai aktor ekonomi utama di Asia Barat.

Tiongkok juga mulai memainkan peran diplomatik. Kesepakatan tahun 2023 untuk memulihkan hubungan antara Arab Saudi dan Iran—yang dimediasi oleh Beijing—menunjukkan bahwa aktor diplomatik baru mulai muncul di kawasan yang secara historis didominasi oleh mediasi Amerika.

Pada saat yang sama, konsekuensi ekonomi dari konflik yang meningkat dapat meluas jauh melampaui Timur Tengah.

Gangguan apa pun di Selat Hormuz—jalur laut sempit yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia—dapat memicu lonjakan tajam harga energi.

Jika harga minyak melampaui 100 dolar per barel, tekanan inflasi akan meningkat di seluruh ekonomi global, mempengaruhi negara-negara maju maupun ekonomi berkembang.

Kekhawatiran yang lebih luas adalah bahwa Amerika Serikat justru dapat melemahkan sistem yang selama ini menopang kepemimpinannya sendiri.

Tatanan internasional pasca Perang Dunia Kedua memperoleh legitimasi karena dipandang mampu menyediakan stabilitas, aturan yang dapat diprediksi, dan pertumbuhan ekonomi.

Namun jika Washington mulai dipersepsikan sebagai kekuatan yang menciptakan ketidakstabilan alih-alih menjaganya, maka kredibilitas kepemimpinannya dapat terkikis secara bertahap.

Dinamika ini sudah mulai terlihat dalam meningkatnya minat banyak negara untuk mendiversifikasi sistem ekonomi dan keuangan mereka.

Inisiatif di dalam kelompok BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan yang didominasi Barat mencerminkan pencarian yang lebih luas terhadap alternatif bagi sistem yang ada.

Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyatakan berakhirnya kepemimpinan global Amerika.

Amerika Serikat tetap merupakan kekuatan militer terkuat di dunia dan masih menempati posisi sentral dalam keuangan global serta teknologi.

Namun sistem hegemonik jarang runtuh secara tiba-tiba. Biasanya ia melemah secara bertahap seiring menurunnya kepercayaan terhadap kekuatan yang mendominasi.

Perdebatan yang muncul setelah serangan Februari 2026 terhadap Iran mencerminkan situasi ketidakpastian strategis tersebut.

Jika kredibilitas jaminan keamanan Amerika terus terkikis di kawasan-kawasan yang selama ini menjadi fondasi pengaruhnya, maka tatanan dunia dapat secara bertahap bergerak menuju struktur multipolar.

Dalam kondisi itu, kekuatan-kekuatan baru yang sedang naik, para aktor regional, serta aliansi ekonomi baru akan memainkan peran yang semakin besar dalam membentuk politik internasional.

Pertanyaannya adalah apakah peristiwa-peristiwa tahun 2026 pada akhirnya akan terbukti sebagai titik balik historis.

Namun sejarah menunjukkan bahwa momen-momen ekspansi strategis yang berlebihan sering kali mempercepat perubahan yang lebih dalam.

Bagi Amerika Serikat, tantangan yang dihadapi adalah apakah ia mampu menyesuaikan kepemimpinannya dengan dunia yang sedang berubah—atau justru menyaksikan terkikisnya secara perlahan sistem yang dahulu ia bangun sendiri.

Kashif Hasan Khan

Dekan Sekolah Pascasarjana dan Ketua Departemen Ekonomi

Paragon International University, Phnom Penh – Kamboja

credited to: Asian Times 

https://asiatimes.com/2026/03/iran-may-be-where-the-us-led-world-order-ends/