Kekokohan Gunung dan Cahaya yang Tak Pernah Padam

Kisah tentang Syekh Ilyas Haji Al-Aqwashi

KARANGAN PANDANGKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA

Ali A. I.

3/11/20267 min read

Kekokohan Gunung dan Cahaya yang Tak Pernah Padam

Pertemuan Pertama di Vostotchnaya

Pada musim semi tahun 1992, takdir membawa langkahku ke tanah Kirgizstan. Bersamaku waktu itu beberapa tokoh besar dari dunia filantropi Kuwait—Syekh Yusuf Al-Haji, Syekh Abdullah Al-Mutawwi‘—dua lelaki yang hidupnya seperti mata air yang tak pernah kering.

Kami menuju sebuah desa kecil di pinggiran Bishkek. Desa itu tampak seperti berada di tepi dunia: rumah-rumah sederhana, ladang yang menghampar jauh hingga menyentuh garis langit, dan kesunyian yang hanya sesekali dipecah oleh gemericik air atau gema azan yang hanyut bersama angin. Di tengah kesunyian itulah tinggal seorang lelaki yang membuat desa terpencil ini menjadi mercusuar ilmu dan cahaya: Syekh Ilyas bin Al-Hajj Ali Al-Aqwashi.

Kami memasuki rumahnya yang sederhana. Beliau menyambut dengan senyum lebar, wajah yang memancarkan wibawa tua dan kejernihan jiwa muda. Usianya sudah melewati delapan puluh, namun matanya—dua genang cahaya bening—berkilau dengan kecerdasan yang tidak gosong dimakan zaman. Ia duduk bersama kami, menanyakan kabar kami dengan kelembutan seorang ayah, lalu menanyakan kondisi kaum Muslim di Palestina. Setelah itu ia menyebut nama-nama desa di Daghestan satu per satu dengan hafalan yang begitu hidup—seakan-akan ia sedang menyebut nama anak-anaknya sendiri.

Sejak detik itu aku mengerti: ini bukan rumah biasa. Ini taman rohani, tempat kesunyian berubah menjadi dzikir, dan keteguhan berubah menjadi udara yang kita hirup. Dan kami belum tahu bahwa pertemuan itu akan menjadi salah satu tikungan hidup yang diam-diam mengajari manusia makna sabar dan iman.

Masa Kanak-kanak di Aqwasha

Syekh Ilyas lahir pada tahun 1909, di kota pegunungan Aqwasha, Daghestan—sebuah tempat yang dikenal karena para ulamanya, karena ketangguhan lelaki-lelakinya, karena masyarakatnya yang memeluk agama seperti memeluk napas sendiri. Ia tumbuh di bawah asuhan ayahnya, Syekh Al-Islam Al-Hajj Ali Al-Aqwashi, seorang tokoh yang kedudukannya setara mufti agung. Dari rumah itu, hatinya kecil-kecil sudah disiram cinta terhadap ilmu. Ia belajar pada ayah dan saudara-saudaranya—semuanya ulama terpandang—lalu pada para guru besar kota itu. Sejak muda ia dikenal anggun, pendiam, tenang, duduk dalam halaqah ilmu dengan kerendahan hati yang indah, mendengar sebelum berbicara, dan berbicara dengan kata yang terpilih. Memori dan lisannya kelak menjadi dua pedang yang tak berkarat oleh usia.

Di Neraka Siberia: Ujian Iman

Ia hidup melalui masa-masa bergolak: perang dunia pertama, kejatuhan keluarga Tsar, bangkitnya rezim Soviet—lalu datanglah gelombang penindasan yang menyapu ulama dan orang-orang beragama. Syekh Ilyas termasuk yang ditangkap dan dibuang ke Siberia: tanah dingin, tanah bisu, tanah yang menggigit tubuh manusia hingga batas putusnya harapan. Di sana ia menghadapi dingin yang mematahkan tulang, lapar yang membuat dunia berayun, dan kesunyian yang hanya dipatahkan oleh lantunan ayat yang dibisikkan para tahanan secara sembunyi-sembunyi. Di ujung malam yang kejam itu, ia berkata dalam hatinya sesuatu yang kelak dituliskan: “Malam kezaliman tak akan panjang. Negeri batil itu seperti jam—dan jam itu akan berhenti.”

Ketika Tubuh Membeku, Namun Iman Tetap Menyala

Masa penahanannya bukan hari atau bulan—tetapi tahun-tahun panjang, berlapis pemindahan kamp, pemindahan penjara, pemindahan penderitaan. Seluruh keluarganya diberi nasib serupa. Dua saudara tuanya ditangkap lebih dahulu—tahun 1928. Ia menyusul pada 1932. Beberapa dikirim ke barat Siberia, yang lain ke timur jauh, ke Chita, ke Vladivostok, hingga ke Khabarovsk. Mereka bekerja paksa, memasang rel kereta di tengah badai salju, bertahan hidup dengan remah roti yang bahkan burung pun enggan memakannya.

Dalam catatan tangannya, ia menulis kalimat-kalimat yang menusuk seperti angin dingin Siberia sendiri—aku tak dapat menerjemahkan semuanya di sini karena panjang, namun satu kalimat cukup merangkum semuanya: “Daging kami membeku, tetapi iman kami tidak.”

Para tahanan diangkut dalam gerbong seperti barang, berdesakan, kelaparan, digigit penyakit, dan banyak yang mati sebelum tiba di kamp tujuan. Tetapi Syekh Ilyas—dengan tubuh yang ringkih namun hati yang terdidik oleh langit—tetap menjaga shalatnya, dzikirnya, hafalan Qur’annya… meski harus dilakukan di antara suara lokomotif dan derak baja. Ia kembali dari pengasingan sebagai tubuh yang rapuh, namun dengan jiwa yang tinggi laksana awan di puncak gunung.

Tekad yang Tidak Tertundukkan

Kebanyakan manusia yang diseret melalui neraka kamp-kamp Soviet akan kembali sebagai bayang-bayang dirinya sendiri—retak, takut, patah. Memang itulah tujuan gulag: bukan sekadar memenjarakan tubuh, tetapi mematahkan jiwa, mengikis iman setipis hujan yang mengikis batu.

Namun Syekh Ilyas keluar dari kegelapan itu dengan hati yang lebih jernih daripada ketika ia masuk, dan tekad yang lebih utuh daripada logam yang hendak mereka patahkan. Ia kembali mengajar Qur’an, secara sembunyi-sembunyi. Ia membina generasi baru, menyalakan bara tauhid di dada para pemuda yang tumbuh dalam bayang-bayang ateisme negara. Ia mengajar dengan kesabaran para nabi, karena ia yakin: “Ilmu adalah amanah, dan amanah harus ditunaikan, meski dunia sedang runtuh.” Dan dengan itu, ia membuat penguasa tak berdaya: mereka mampu membekukan Siberia, tetapi tidak mampu membekukan iman di dadanya.

Saksi Iman, Saksi Sastra

Tulisan-tulisan Syekh Ilyas mengingatkan kita pada lembaran-lembaran yang ditulis Aleksandr Solzhenitsyn—sastrawan Rusia yang juga keluar dari gulag dengan luka yang serupa namun pandangan yang berbeda. Kedua lelaki itu—satu dari pegunungan Daghestan, satu dari jantung Rusia—tidak pernah saling bertemu; namun penderitaan memperkenalkan mereka satu sama lain di balik tirai sejarah. Keduanya melihat manusia dihancurkan oleh tirani. Keduanya melihat roti yang tak pernah cukup, dan dingin yang membunuh ingatan. Namun keduanya menolak tunduk.

Tetapi perbedaan mereka terletak pada cahaya yang menjadi pegangan: Solzhenitsyn memandang dunia dari sudut kesadaran moral seorang manusia yang diterkam negara tanpa jiwa. Syekh Ilyas memandang dari sudut seorang mukmin, yang melihat cobaan sebagai medan tempaan menuju Allah. Solzhenitsyn menemukan kekosongan di tengah peradaban yang memuja negara. Syekh Ilyas menemukan kedekatan dengan Tuhan di tengah kegelapan itu. Keduanya benar—namun jalan mereka bertemu di titik yang sama: Bahwa manusia tidak boleh tunduk pada tirani. Dan kata-kata yang jujur adalah palu yang memecahkan tembok keheningan.

Luka Manusia, Luka Bersama

Apa yang ditulis Syekh Ilyas dan Solzhenitsyn adalah dua bahasa yang berbeda—Arab dan Rusia—tetapi keduanya sedang menulis tentang manusia yang sama: manusia yang kelaparan, kedinginan, kehilangan nama, kehilangan wajah, tetapi tidak kehilangan harga diri terakhirnya.

Di Siberia yang membeku, air mata berubah menjadi es sebelum sempat jatuh. Di sana, sepotong roti menjadi mimpi, dan tarikan napas adalah perlawanan. Namun di sana pula, Syekh Ilyas mendapati sesuatu yang tak dapat dibekukan salju manapun: keimanan yang berakar dalam, yang tidak tunduk pada negara, tidak tunduk pada kelas, tidak tunduk pada paksaan zaman. Jika Solzhenitsyn menulis dengan pena yang meneteskan darah dan kemarahan, maka Syekh Ilyas menulis dengan pena yang meneteskan doa dan ketenangan. Dan dunia membutuhkan keduanya.

Vostotchnaya: Mihrab Cahaya di Bawah Salju

Setelah bertahun-tahun diseret dari satu kamp ke kamp lain, dari satu desa tambang ke desa tambang lain, takdir membawanya ke sebuah desa kecil di Kirgizstan—Vostotchnaya. Desa itu menjadi rumah bagi orang-orang buangan dari banyak bangsa: orang Dagestan, Donggan, Uighur, Kirgiz, Kazakh—bangsa-bangsa yang dipaksa keluar dari tanah asalnya tetapi tidak pernah kehilangan iman. Syekh Ilyas membuat rumahnya—yang berdinding kayu tipis dan berlantai tanah dingin—menjadi sekolah rahasia. Ia mengajar anak-anak mengucapkan huruf-huruf pertama dari Kitabullah. Ia menguatkan hati para pemuda agar tidak hancur ditelan zaman. Ia menghibur orang-orang tua agar tidak padam harapannya.

Rumah itu kecil, tetapi dari rumah kecil itu keluar generasi yang kelak kembali ke Daghestan dan Asia Tengah, meneruskan warisan yang pernah ingin dibunuh oleh negara. Pada usia sembilan puluh—ketika kebanyakan manusia sudah lupa dunia—Syekh Ilyas masih menandai tanah untuk pembangunan masjid baru. Tangan tuanya gemetar, tetapi niatnya tidak pernah gemetar. Ia berkata kepada murid-muridnya: “Peliharalah agama kalian sebagaimana kalian menjaga napas kalian. Karena hidup itu sendiri berasal darinya.”

Kitab yang Meneteskan Air Mata

Pada kunjungan kami tahun 1992, Syekh Ilyas memberikan kepada kami sebuah manuskrip yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Bukan buku biasa. Melainkan kesaksian hidup, ditulis dengan tinta yang seakan-akan bercampur air mata. Halaman-halamannya bercerita tentang masa kecilnya di rumah ilmu; tentang perang yang membuat Daghestan terbelah; tentang dusta propaganda komunis yang menjual mimpi kesetaraan tetapi membangun negara atas pondasi ketakutan; tentang kawan-kawannya yang mati di Siberia tanpa nama, tanpa batu nisan; tentang keajaiban bertahan hidup yang tidak mungkin kecuali dengan pertolongan Allah. Dan ia menutup bukunya dengan syukur karena sempat menyaksikan tumbangnya negara yang menindas agama itu. Kitab itu bukan sekadar kenangan—ia adalah dokumen iman.

Edisi Baru, Cahaya Lama yang Terus Menyala

Setelah bertahun-tahun tersimpan dalam bentuk manuskrip, kitab Syekh Ilyas akhirnya diterbitkan kembali di Daghestan. Seorang peneliti muda, Ahmad As-Saltawi, menghabiskan waktu panjang untuk meneliti istilah-istilahnya, menafsirkan maksud-maksudnya, dan menyunting gaya tulisannya tanpa menghilangkan ruhnya. Kitab itu diterbitkan dengan pembukaan ayat:

﴿ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا ﻊﻔﻧﺗ ىرﻛذﻟا نﺈﻓ رﻛذو ﴾

— “Dan ingatkanlah, sebab peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”

Buku itu menjadi saksi yang menolak dilenyapkan oleh sejarah. Negara mungkin berusaha menghapus agama, tetapi tulisan seorang ulama—yang keluar dari Siberia dengan dada penuh iman—menolak untuk padam. Sebagaimana salju tidak bisa memadamkan bara dalam hati seorang mukmin, demikian pula kekuasaan tidak pernah mampu memadamkan kalimat yang ditulis dengan kejujuran. Dua Kesaksian yang Mematahkan Keheningan

Syekh Ilyas dan Solzhenitsyn

Bertahun-tahun setelah gulag, dan ribuan kilometer dari pegunungan Daghestan, seorang lelaki lain berdiri di Stockholm tahun 1974—A. Solzhenitsyn—menerima Nobel Sastra dan berkata: “Satu kata yang jujur dapat mengatasi dunia.” Kalimat itu, yang lahir dari penderitaan gulag Rusia, seakan juga mewakili buku Syekh Ilyas yang lahir dari salju Siberia Muslim. Keduanya tidak pernah bertemu. Namun keduanya adalah dua saksi pada satu kejahatan besar: penindasan manusia oleh negara yang ingin menggantikan Tuhan. Solzhenitsyn menulis untuk menyelamatkan suara manusia dari hilang. Syekh Ilyas menulis untuk menjaga cahaya iman agar tidak padam. Dua jalan, satu tujuan: membela martabat manusia.

Syekh Ilyas: Manusia Sebelum Ia Seorang Ulama

Bagi murid-muridnya, Syekh Ilyas bukan hanya seorang ulama, tetapi seorang manusia yang memancarkan kelembutan yang membuat orang di sekelilingnya merasa diterima. Ia duduk bersama mereka seperti seorang ayah duduk bersama anak-anaknya. Ia mendengar lebih banyak daripada ia berbicara. Dan bila ia berbicara, setiap katanya seperti tetes embun di pagi pegunungan—jernih, ringan, tetapi meninggalkan bekas panjang. Wajahnya memancarkan keikhlasan yang telah melalui badai panjang; senyumnya seperti sebuah penegasan bahwa iman membuat seorang mukmin tetap kokoh meski seluruh dunia mencoba menghancurkannya. Mereka yang hadir di dekatnya merasakan dua hal sekaligus: ketenangan orang saleh, dan keteguhan orang yang pernah menatap wajah maut namun tidak takut padanya.


Ghirahnya untuk Umat

Meskipun hidup dalam masa pengasingan, pemiskinan, dan larangan dakwah, Syekh Ilyas tidak pernah berhenti memikirkan umat Muhammad. Ia bertanya tentang Palestina, tentang kaum Muslim di Kaukasus, tentang keadaan pemuda di Asia Tengah. Seakan-akan dunia Islam seluruhnya adalah sebuah amanah yang harus dia pikul meski bahunya sudah rapuh. Ketika ia berbicara tentang kondisi Muslim yang tertindas, matanya berkaca-kaca—bukan karena ia lemah, tetapi karena hatinya terlalu luas untuk memikul luka umat. Karena itu, para muridnya berkata: “Kami melihat dunia Islam dalam sorot mata Syekh, dan kami melihat kesabaran para nabi dalam hidupnya.”

Akhir Perjalanan: Cahaya yang Tidak Padam

Meski tubuhnya melemah, ia tidak pernah mengeluh. Meski ingatannya menua, ia tidak pernah berhenti mengulang nama Allah. Meski matanya kabur, ia tetap melihat dunia dengan kejernihan seorang mukmin. Dalam usia hampir satu abad, ia masih mengulang pesan:  “Peganglah agama kalian. Jangan lepaskan, meski dunia menawarkan semuanya sebagai gantinya.” Ketika ajal menjemputnya, ia meninggalkan dunia dengan cara yang sama ia menghadapinya: dengan tenang, tenang seperti gunung di bawah cahaya fajar. Ia tidak meninggalkan harta. Ia tidak meninggalkan jabatan. Ia meninggalkan cahaya—dan cahaya tidak mengenal kubur.

Warisan yang Kekal

Hari ini, di desa-desa Kirgizstan dan lembah-lembah Daghestan, masih berdiri para muridnya.

Ada yang menjadi qari, ada yang menjadi mufti, ada yang menjadi guru di kota-kota yang dulu pernah merayap dalam kegelapan komunis.

Nama Syekh Ilyas hidup di bibir mereka seperti doa, dan di hati mereka seperti bara kecil yang tidak pernah padam: bahwa iman dapat bertahan bahkan di tengah salju paling dingin di bumi.  Dan manusia dapat tetap teguh, bahkan ketika seluruh zaman bersekongkol untuk meruntuhkannya.