Lebih Dekat dengan Sosrokartono: Pemikir Jawa yang Bertindak

Lebih Dekat dengan Sosrokartono: Pemikir Jawa yang Bertindak

KARANGAN PANDANGWEEKLY CIVIC SYMPOSIUM

Firmansyah Artha

8/10/20266 min read

Lebih Dekat dengan Sosrokartono:

Pemikir Jawa yang Bertindak

Sugih Tanpo Bondo

Digdoyo Tanpo Aji

Trimah Mawi Pasrah

Sepi Pamrih Tebih Ajrih

I. Mengenal Sosrokartono

Sejarah tidak mengingat semua orang dengan kadar yang sama. Ada nama yang terus dibesar-besarkan, ada pula yang perlahan menghilang dari ingatan kolektif, meskipun pengaruhnya tidak kalah besar. Ada tokoh yang terus hidup dalam buku pelajaran, naskah pidato kenegaraan, dan identitas nasional. Sebaliknya, ada pula mereka yang berperan di balik lahirnya gagasan-gagasan besar, tetapi nyaris tak memperoleh ruang dalam kesadaran publik. Sejarah memang begitu, tampak lebih mudah mengingat simbol daripada proses intelektual yang melahirkan simbol tersebut.

Paradoks kian jelas dalam sejarah modern. Nama Raden Ajeng Kartini telah lama menjadi simbol atas emansipasi perempuan dan kebangkitan kesadaran intelektual. Surat-suratnya dibaca berbagai generasi, pemikirannya masih terus dikaji hingga saat ini, serta ulang tahunnya diperingati sebagai hari penting nasional. Namun di balik sosok Kartini yang sedemikian akrab, kita tidak pernah benar-benar memahami lingkungan intelektual yang membentuk keluasan cara berpikirnya. Seolah ide-ide cemerlang muncul begitu saja dari seorang individu tanpa ruang dialog, pengalaman, dan perjumpaan yang mengasahnya.

Maka, kita perlu mengenal nama Raden Mas Panji Sosrokartono. Selama ini ia lebih sering dikenal sebagai kakak Kartini atau sebagai poliglot yang menguasai puluhan bahasa asing. Padahal, dua hal itu belumlah cukup menggambarkan betapa luas dan dalam warisan intelektualnya. Sosrokartono merupakan bagian dari generasi awal bumiputra yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bukan cuma jalan menuju mobilitas sosial, tetapi sarana memahami manusia dalam membangun peradaban. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa dampak dari wawasan tidak berujung pada hasrat untuk menguasai, tetapi pada kerelaan untuk mengabdi.

Sosrokartono lahir di Jepara pada 10 April 1877 dalam lingkungan priyayi yang berada di persimpangan dua dunia. Ia tumbuh di tengah kebudayaan Jawa yang kental akan tata krama dan laku batin. Di sisi lain, kebijakan kolonial mulai membuka kesempatan bagi sebagian kecil kaum bumiputra untuk mengenal sistem pendidikan Belanda. Pertemuan dua tradisi yang membentuk watak intelektual Sosrokartono yang terbuka terhadap ideologi modern tanpa tercerabut dari akar budaya. Mikul dhuwur mendhem jero.

Kesempatan menempuh Pendidikan formal di Europeesche Lagere School (ELS), Hogere Burgerschool (HBS), hingga pendidikan tinggi di Leiden tidak cuma memberinya akses terhadap ilmu, tetapi juga mempertemukannya dengan dunia yang jauh lebih luas daripada Jepara. Di Eropa, ia menyaksikan bagaimana pengetahuan berkembang pesat, bagaimana berbagai bangsa saling berinteraksi, dan bagaimana bahasa menjadi medium yang memungkinkan perbedaan dipersatukan. Pengalaman itu membentuk keyakinan bahwa pendidikan adalah latihan dalam memahami karakter manusia dari berbagai latar belakang.

Bagi Sosrokartono, setiap bahasa menghadirkan cara pandang, nilai, dan pengalaman sejarah yang unik. Menguasai bahasa berarti belajar memasuki cara berpikir orang lain. Kesadaran tersebut menjelaskan alasan mengapa ia dapat dipercaya menjadi penerjemah dalam berbagai forum internasional pada masa Perang Dunia I. Di tengah dunia yang terpecah oleh konflik, ia menjalankan peran yang tidak bertumpu pada senjata, melainkan pada kemampuan menjembatani pemahaman antar manusia.

Ketika ia kembali ke tanah air, Sosrokartono memilih jalan pengabdian. Melalui Dar Oes Salam di Bandung, ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani masyarakat serta membimbing mereka yang datang mencari pertolongan. Pilihan yang diambil membuktikan bahwa nilai tertinggi ilmu terletak pada manfaat yang diberikannya kepada sesama.

II. Kartono dan Kartini

Tidak ada pemikiran agung yang tercipta pada rongga yang hampa. Gagasan tumbuh karena ada perjumpaan. Demikian pula dengan Kartini. Selama ini, Kartini lebih sering dipahami sebagai sosok yang secara individual menggugat ketidakadilan terhadap perempuan Jawa. Padahal keberanian intelektual itu berkembang dalam sebuah lingkungan keluarga yang walau hidup di bawah tatanan feodal dan kolonial, tetap memberi ruang bagi perbincangan tentang pendidikan, kebudayaan, dan kesetaraan. Kehadiran Sosrokartono lebih penting daripada sekadar hubungan antara kakak dengan adik.

Dalam surat-suratnya, Kartini beberapa kali menyebut Sosrokartono dengan kekaguman. Keberhasilan Sosrokartono membuka jalan menuju dunia akademik internasional memberi keyakinan kepada Kartini bahwa keterbelakangan itu bukan suatu kodrat, melainkan keadaan yang dapat diatasi melalui pendidikan. Baginya, kehadiran sosok seperti itu memperluas cakrawala berpikirnya tentang kemungkinan-kemungkinan baru bagi bangsa yang terbelakang.

Pengaruh Sosrokartono tidak dipahami sebagai hubungan guru dan murid. Tidak ada bukti kalau ia mewariskan suatu doktrin tertentu kepada Kartini. Yang diwariskannya justru lebih mendasar, yakni sebuah iklim intelektual yang memandang ilmu pengetahuan sebagai jalan pembebasan. Sarana mencapai kemerdekaan. Di dalam keluarga Sosroningrat, pendidikan tidak semata-mata diperlakukan sebagai cara memperoleh kedudukan sosial, tetapi juga menjadi strategi memperbaiki paradigma terhadap manusia dan dunia.

Kesamaan pijakan tersebut kemudian mengantarkan Kartini dan Sosrokartono pada dua orientasi pembaruan yang berbeda, namun saling menyempurnakan. Kartini memusatkan perhatian pada pembebasan struktur sosial. Ia melihat bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai apabila perempuan dipinggirkan dari pendidikan. Karena itu, perjuangannya diarahkan untuk membuka kesempatan yang sama bagi setiap manusia agar dapat mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi jenis kelamin dan strata sosial.

Sementara itu, Sosrokartono bergerak dari arah yang berbeda. Perhatiannya tidak pertama-tama tertuju pada perubahan struktur sosial, melainkan pada pembentukan kualitas manusia yang nantinya menggerakkan perubahan. Baginya, ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan akal, tetapi juga mematangkan watak. Kemajuan sosial akan kehilangan artinya apabila tidak disertai dengan pertumbuhan integritas, penguasaan diri, dan kesediaan mengabdi kepada kepentingan yang lebih besar.

Kartini menulis tentang “freedom”, Sosrokartono menulis tentang tanggung jawab yang menyertai. Kartini memandang bahwa ketidakadilan harus dilawan melalui pembaruan pendidikan, Sosrokartono memandang bahwa pembaharuan hanya mungkin diwujudkan oleh manusia yang terlebih dahulu berhasil memperbaharui dirinya sendiri. Sungguh pemikiran yang saling melengkapi.

III. Empat Butir Filsafat

Berbeda dengan banyak pemikir yang menyusun teori dalam wujud buku atau risalah, Sosrokartono mewariskan filsafat yang tumbuh dari laku hidup. Petuah-petuahnya ialah hasil perenungan seorang intelektual yang telah tuntas melihat dunia, memahami keragaman manusia, lalu sampai pada keyakinan bahwa kemajuan peradaban bergantung pada kualitas batin manusia.

Gagasan pertama berangkat dari keyakinan bahwa perubahan sosial selalu dimulai dari pembentukan karakter. Sosrokartono melihat bahwa pendidikan bukan semata proses mengisi akal dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter agar manusia mampu mengendalikan diri. Karena itu “Sugih Tanpo Bondo” tidak sedang mengajarkan penolakan terhadap kekayaan materi. Bahwa kekayaan yang paling menentukan tidak hanya apa yang dimiliki secara materiil, melainkan nilai-nilai luhur yang melekat menjadi bagian dari diri. Kekayaan mudah lenyap, tidak dengan karakter.

Pandangan tersebut mengandung kritik yang masih cocok hingga sekarang. Modernitas sering mengukur keberhasilan melalui pencapaian yang tampak di permukaan. Sosrokartono mengajukan ukuran yang berbeda. Baginya, manusia tidak menjadi besar karena memiliki banyak hal, tetapi karena mampu menguasai dirinya sendiri. Tanpa disiplin diri, ilmu rawan menjadi kesombongan, kekuasaan menjadi penyalahgunaan wewenang, dan kebebasan menjadi pemuas nafsu pribadi.

Dari pembentukan diri itu lahir gagasan kedua soal otoritas moral. Melalui “Digdoyo Tanpo Aji”, Sosrokartono mengingatkan bahwa kewibawaan tidak pernah bergantung pada simbol-simbol kekuasaan belaka. Dalam lingkup masyarakat tradisional, simbol itu mungkin berupa pusaka. Lalu dalam kehidupan modern, ia berubah menjadi jabatan, kekayaan, popularitas, viralitas, atau pengaruh. Namun hakikatnya masih sama bahwa hal tersebut mungkin bisa menghadirkan kekuasaan, tetapi tidak otomatis melahirkan kepercayaan.

Sosrokartono menilai bahwa kepemimpinan itu perkara keteladanan. Sumber utama kepemimpinan bukan legitimasi formal, melainkan kualitas moral. Pandangan ini menjelaskan mengapa Sosrokartono tidak pernah memisahkan kecerdasan dari kebijaksanaan. Pengetahuan memang memperluas kemampuan manusia, tetapi integritas yang sebetulnya menentukan ke arah mana kemampuan itu dimanfaatkan.

“Trimah Mawi Pasrah” dapat disalahpahami sebagai anjuran untuk bersikap pasif atau menyerah kepada takdir. Padahal dalam tradisi kebatinan Jawa, kata "pasrah" itu bukan antonim dari “usaha”, tetapi merupakan puncak dari “usaha” itu sendiri. Manusia dituntut bekerja secara optimal dengan menggunakan seluruh kemampuan akal dan tenaga, kemudian menerima hasilnya dengan lapang dada sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Sikap yang demikian memunculkan kerendahan hati sehingga keberhasilan tidak disertai kesombongan, sedangkan kegagalan tidak berubah menjadi keputusasaan. “Trimah Mawi Pasrah” adalah kekuatan moral yang membuat manusia tetap teguh menghadapi ketidakpastian hidup.

Gagasan keempat dapat dimaknai sebagai puncak dari keseluruhan filsafat yaitu pengabdian. “Sepi Pamrih Tebih Ajrih” sering dipahami sebagai ajakan untuk tidak memiliki kepentingan pribadi. Penafsiran tersebut tampak terlalu sederhana. Yang mau ditekankan Sosrokartono adalah kemampuan menempatkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan bersama. “Tebih Ajrih” memuat keberanian moral untuk tetap berpihak kepada kebenaran walaupun pilihan itu tidak selalu membawa keuntungan pribadi.

Pandangan itu sejalan dengan pilihan hidup yang Sosrokartono ambil. Setelah memperoleh pengakuan sebagai intelektual dunia, alih-alih memanfaatkan reputasi internasional untuk mengejar kedudukan dalam birokrasi kolonial Hindia Belanda. Ia malah mendedikasikan sisa hidupnya untuk melayani masyarakat di tanah air. Ia tidak hanya berani bicara tentang pengabdian, tetapi menerapkannya sebagai bentuk konsistensi intelektual. Keteladanan semacam ini menjadi vital karena menunjukkan ukuran tertinggi seorang pemikir yang tidak hanya mengunggulkan kecemerlangan gagasan, tetapi kesediaan dalam mempertanggungjawabkan gagasan tersebut dalam realitas kehidupan.

Jika empat butir gagasan tersebut dirangkai, kita dapat melihat bahwa filsafat Sosrokartono menawarkan sebuah proses yang utuh. Pembentukan diri melahirkan integritas, integritas melahirkan kewibawaan, kewibawaan menemukan maknanya ketika diarahkan untuk melayani sesama lewat jalan pengabdian.

IV. Relevansi bagi Generasi Saat Ini

Hari-hari ini obrolan tentang kepemimpinan sering berpusat pada pertanyaan siapa yang layak menjadi pemimpin. Padahal yang lebih fundamental justru terletak pada bagaimana masyarakat menentukan standar kepemimpinan. Tolok ukur tata kelola. Ketika ukuran keberhasilan lebih ditentukan oleh popularitas, kemampuan memoles citra, dan kemenangan dalam kompetisi politik, kualitas moral perlahan mulai terpinggirkan. Akhirnya panggung publik lebih banyak memberikan kesempatan bagi figur yang pandai menarik perhatian daripada pemimpin yang mampu menghadirkan kepercayaan. Dalam keadaan seperti ini, kritik Sosrokartono terasa begitu dekat.

Persoalan serupa juga terlihat dalam ranah birokrasi. Reformasi kelembagaan selama dua dekade terakhir relatif menghasilkan kemajuan, mulai dari digitalisasi di bidang pelayanan hingga penyederhanaan prosedur. Namun sebaik apa pun regulasi disusun, kualitas pelayanan publik tetap bergantung pada karakter orang yang menjalankan. Integritas tidak bisa diprogram lewat aplikasi, pun empati tidak dapat digantikan oleh teknologi. Birokrasi disebut berhasil ketika aparatur memandang jabatan sebagai amanah untuk melayani, bukan sebagai fasilitas untuk menikmati layanan.

Tantangan yang tidak kalah besar datang dari demokrasi. Adanya demokrasi memang dapat memperluas hak berbicara, sementara teknologi membuat setiap orang dapat menjadi produsen dan distributor informasi. Perkembangan ini mungkin memperkaya dialektika publik. Tapi faktanya algoritma media sosial cenderung mengutamakan konten yang memancing perhatian, bukan yang memperdalam pemahaman. Ini membuat percakapan publik bergerak lebih cepat daripada proses berpikir itu sendiri.

Di titik ini kita sepakat bahwa pemikiran Sosrokartono adalah perspektif yang melampaui zamannya. Filsafat yang radikal. Ketika ia menekankan urgensi pengendalian diri, integritas, dan pengabdian, sesungguhnya ia sedang menyampaikan bahwa kemajuan teknologi tidak pernah dapat menggantikan kebijaksanaan serta kematangan karakter.

Kita tak boleh kehilangan Sosrokartono dari catatan sejarah. Saat dimana generasi lebih sering memuja apa yang tampak oleh mata. Sosrokartono hadir menawarkan pentingnya apa yang membentuk jiwa. Masa depan sebuah bangsa tak hanya diukir oleh mereka yang riuh dikenang. Bukan tentang siapa yang berdiri gagah di bawah terangnya lampu. Melainkan oleh nilai-nilai mulia yang dengan setia dipelihara walau sorotan sejarah sudah berlalu.

Dikarang oleh Firmansyah Artha

Contact

Contact us on IG

© 2025. All rights reserved.