Mearsheimer dan Walt: pembicaraan tentang solusi damai hanyalah ilusi

Dialog tentang solusi damai

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN

4/2/20263 min read

Mearsheimer dan Walt: pembicaraan tentang solusi damai hanyalah ilusi

Dialog dengan John Mearsheimer dan Stephen Walt mengenai perang dengan Iran, membahas batas-batas kekuatan Amerika Serikat, kemungkinan eskalasi, serta implikasi ekonomi dan strategis dari konflik terhadap tatanan internasional, dalam kerangka pendekatan realis yang kritis.

Tom Switzer: Selamat datang di program “Switzerland”. Saya Tom Switzer. Hari ini saya ditemani dua narasumber: Profesor John Mearsheimer dari University of Chicago dan Profesor Stephen Walt dari Harvard University.

Tom Switzer: Presiden Trump menunda ancamannya untuk menghancurkan fasilitas energi Iran hingga 6 April, dengan klaim bahwa negosiasi rinci dan produktif dengan Teheran sedang berlangsung, sementara pihak Iran membantahnya secara tegas. John, apa yang sebenarnya terjadi?

John Mearsheimer: Saya kira Anda tidak merumuskannya secara tepat, Tom. Tidak ada “ketidakpastian” global; yang ada adalah kepastian global bahwa Presiden Trump berbohong. Iran memiliki kepentingan yang sangat mendalam untuk mempertahankan perang ini karena bagi mereka situasinya berjalan sangat baik. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula leverage yang mereka miliki. Trump sedang mencari jalan keluar dan berharap mencapai kesepakatan dengan syarat yang menguntungkan, tetapi struktur insentif di pihak Iran justru bergerak ke arah yang berlawanan.

Stephen Walt: Ada rumor tentang mediasi oleh Pakistan, tetapi tidak ada yang menyatakan bahwa negosiasi serius sedang berlangsung. Gagasan tentang adanya perundingan nyata hanyalah khayalan. Pemerintah terlihat jelas kehilangan arah; mereka berasumsi bahwa rezim akan runtuh dengan cepat, dan karena itu tidak terjadi, sekarang mereka bertindak secara improvisatif.

Tom Switzer: John, para pendukung pendekatan ini mengatakan bahwa pengerahan 3.000 pasukan lintas udara dan 5.000 marinir akan menciptakan perubahan geopolitik. Bagaimana tanggapan Anda?

John Mearsheimer: Itu pandangan yang terlepas dari realitas. Dalam Perang Teluk 1991 kita masuk dengan lebih dari 700 ribu tentara. Pada tahun 2003 jumlahnya sekitar 200 ribu. Sekarang kita berbicara tentang memasuki Iran—sebuah negara yang jauh lebih besar dari segi wilayah dan populasi, dengan medan yang kompleks dan sulit—dengan kekuatan tidak lebih dari 10 ribu infanteri ringan, lalu mengklaim itu akan membuat perbedaan? Argumen itu sulit dianggap serius. Ini memberi gambaran jelas tentang kualitas wacana yang beredar di Barat.

Stephen Walt: Perang bukan soal siapa yang mampu menghancurkan lebih banyak; perang adalah soal siapa yang mampu memaksakan kehendaknya. Kita memenangkan setiap pertempuran di Vietnam tetapi kalah dalam perang. Taliban tidak mengalahkan kita dalam pertempuran terbuka, demikian pula pemberontak di Irak, namun hasil akhirnya tetap kekalahan. Bagi Iran, ini adalah persoalan eksistensial.

Tom Switzer: Mari kita beralih ke dimensi ekonomi. John, Anda menyebut minyak, tetapi bagaimana dengan arus lainnya?

John Mearsheimer: Ini bukan hanya soal energi; ini juga mencakup pupuk. Sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia melewati kawasan Teluk. Terhentinya aliran ini akan menimbulkan dampak besar terhadap pasokan pangan global, dengan konsekuensi berat bagi negara-negara berkembang. Dampaknya bisa melampaui krisis minyak 1973. Kita seperti kapal Titanic yang sedang bergerak menuju gunung es.

Tom Switzer: Apakah Washington mampu menghentikan ekspor minyak Iran dari Pulau Kharg?

John Mearsheimer: Mereka tidak ingin menghentikannya! Kita justru membutuhkan ekspor tersebut agar tidak terjerumus ke dalam jurang ekonomi. Karena itu, sanksi terhadap Rusia dan Iran dilonggarkan secara diam-diam. Trump memang pernah menyerang Pulau Kharg sekali, tetapi ia berupaya keras membatasi serangan hanya pada target militer, bukan infrastruktur energi, karena ia memahami bahwa pasar global tetap membutuhkan pasokan minyak tersebut.

Stephen Walt: Perang ini juga menjadi kejutan bagi sekutu kita. Di Asia, kita menarik sistem THAAD dan Patriot untuk melindungi Israel, yang mengirimkan sinyal kepada Jepang dan Korea Selatan bahwa mereka berada di prioritas bawah. Di Eropa, kita dipersepsikan sebagai tidak kompeten dan tidak dapat diandalkan.

John Mearsheimer: Rusia dan China adalah pihak yang diuntungkan. Kita menjauh dari Asia, dan itu merupakan keuntungan besar bagi Beijing. Rusia diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan melemahnya dukungan terhadap Ukraina. Seperti yang dikatakan Napoleon: “Jangan pernah mengganggu musuh ketika ia sedang melakukan kesalahan.”

Video:

https://youtu.be/NyvFSpZ7yYs?is=nTnY8rzlymJlUwIb

Dalam dialog yang dipandu oleh jurnalis Tom Switzer ini, program menghadirkan dua pemikir utama aliran realisme dalam hubungan internasional: John Mearsheimer, profesor ilmu politik di University of Chicago, dan Stephen Walt, profesor hubungan internasional di Harvard University. Percakapan ini membahas perkembangan perang dengan Iran, batas-batas kekuatan militer Amerika, kemungkinan eskalasi maupun penyelesaian, serta implikasi ekonomi dan strategis konflik terhadap tatanan internasional. Dialog ini mencerminkan pendekatan analitis-kritis yang berfokus pada keseimbangan kekuatan dan kalkulasi kepentingan, jauh dari retorika politik resmi.