Karangan tentang Ahmed T. Kuru mengenai Dunia Islam

Membedah Esai “Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan: Perbandingan Lintas Zaman dan Kawasan di Dunia Islam” dan Sebagai orang beragama Islam, satu pertanyaan ambigu plus masih relevan hingga kini: "mengapa peradaban Islam cenderung tertinggal?"

WEEKLY CIVIC SYMPOSIUMKARANGAN PANDANG

Asbabur Riyasy adalah Columnist Manager di Premature Authoring Hub

8/12/20265 min read

Membedah Esai “Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan: Perbandingan Lintas Zaman dan Kawasan di Dunia Muslim”

Sebagai orang beragama Islam, satu pertanyaan ambigu plus masih relevan hingga kini: "mengapa peradaban Islam cenderung tertinggal?"

Perihal ketertinggalan yang dimaksud meninggalkan banyak spekulasi, apakah dari sisi perkembangan teknologi, produk kebudayaan, ilmu pengetahuan, tata pemerintahan, atau dari segala lini? Sudah sangat lama pertanyaan ini bersemayam di dalam kepala tanpa mendapat asupan jawaban.

Di tahun 2020, cetakan pertama buku Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan karya penulis Ahmet T Kuru, seorang guru besar ilmu politik dan direktur Center for Islamic and Arabic Studies di San Diego University, USA, seakan muncul sebagai jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

Kuru lahir di Turki sebagai seorang muslim, pertanyaan yang sama juga sudah ada dalam benaknya semenjak kecil. Saat dewasa dan berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, Kuru meneliti pertanyaannya tersebut.

Dari tesisnya ia berusaha menjawab tiga spekulasi keliru yang (1) menganggap ajaran agama Islam yang menjadi penyebab ketertinggalan negara-negara berpendudukan muslim, (2) menyepakati bahwa dominasi agama sebagai penyebab kemunduran sosio-ekonomi, dan (3) mengira kolonialisme Barat menjadi alasan utama stagnasi negara-negara mayoritas muslim. Semua anggapan ini sekilas terdengar meyakinkan, tapi tidak sepenuhnya benar.

Kuru membantah anggapan pertama karena selama rentan sejarah dari abad ke-7 hingga ke-12 dunia Islam banyak melahirkan intelektual berkaliber internasional seperti Farabi, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi. Pemikiran mereka mulai diadopsi peradaban Eropa di abad ke-12 dengan menerjemahkannya.

Penghargaan islam terhadap ilmu pengetahuan juga sangat tinggi. Sebagaimana Kuru mencatat dalam bukunya, sebuah perpustakaan milik seorang Khalifah di Kairo diperkirakan menampung lebih dari 200.000 buku. Belum lagi perpustakaan ternama, Cordova, yang diperkirakan menyimpan lebih dari 400.000 buku. Sementara peradaban Barat masih didominasi cakrawala pengetahuannya oleh otoritas gereja dan wacana Bibel semata.

"Baghdad menjadi pusat ilmu, tapi ada banyak kota muslim penting lain dengan perpustakaan dan para sarjana penting, seperti Damsyik dan Halab di Suriah, Basrah di Irak, Nisyapur, Rayy, dan Thus di Timur Iran dan Balkh, Bukhara, Urgenic, dan Merw di Asia Tengah." Hal 131.

Dominasi agama juga tidak dapat menjelaskan secara utuh penyebab ketertinggalan Islam. Peradaban Islam tidak sepenuhnya menolak eksistensi agama lain. Pada masa kepemimpinan Umayyah, orang Islam, Katolik, dan Yahudi hidup berdampingan tanpa ada "ghetto" (Gated Community).

Intelektual muslim juga mempelajari ilmu pengetahuan dari bangsa Romawi dan Yunani. Peradaban Islam tidak sepenuhnya menutup diri dari ilmu pengetahuan di luar batas teologis ajarannya.

Lalu mengenai kolonialisme Barat, sedikitnya memang memberikan dampak buruk pada perkembangan peradaban Islam. Sebelum kolonialisme Barat, wilayah kerajaan muslim juga beberapa kali di invasi. Pertama oleh Tentara Salib yang bolak-balik merebut daerah-daerah pemerintahan Islam.

Setelahnya disusul dengan Bangsa Mongol yang menyebabkan banyak kerusakan materil di berbagai daerah kerajaan Islam. Invasi ini memperlambat moda produksi karena Mongol memusnahkan atau mengusir hampir 90% populasi.

"Jumlah orang terbunuh di kota-kota tertentu berlebihan. Namun , saya masih akan mengutip mereka: Herat (2.400.000), Nisyapur (1.747.000), Merw (1.300.000). dan Rayy (500.000)." Hal 211.

Terakhir, invasi Mongol dilanjutkan oleh Timur Lenk. Ia menguasai banyak kerajaan muslim dan menjarah beberapa diantaranya.

Namun dalam masa-masa tergempur, peradaban Islam masih dapat bangkit kembali. Bahkan dari rentan abad ke-12 hingga ke-14 kala invasi terjadi, peradaban Islam masih dapat melahirkan intelektual seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Rusyd. Ditambah setelah abad panjang invasi silih berganti, berdiri tiga negara militer Islam ternama; Osmani, Seljuk, dan Mughal.

Lantas apa yang ingin profesor muslim ini katakan mengenai kemunduran peradaban Islam?

Kemunduran Islam

Argumen utama Kuru adalah persekutuan Negara-Ulama. Ulama (baca: intelektual) dalam konsep Islam memiliki otoritas akan pengetahuan. Dalam artian, pengetahuannya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan umat muslim.

Pada awal Kekhalifahan Umayyah, ulama hidup tidak begitu dekat dengan pemerintahan. Pada awal berdirinya kekhalifahan Umayyah, model pemerintahan ini belum mendapat banyak pengakuan dari umat muslim. Peradaban Islam baru saja selesai dari masa kepemimpinan empat sahabat nabi, dan setelah keempatnya meninggal, "Khalifah" tidak lagi ada, seharusnya.

Namun pemimpin Umayyah mengambil legitimasi "Khalifah" dan mendirikan kepemimpinannya, dan dilanjut oleh Abbasiyah. Karena konsep "Khalifah" tidak begitu diakui kalangan muslim kala itu, pemerintah perlu membuat legitimasi.

Persekutuan Ulama-Negara adalah salah satu caranya. Ulama berfungsi sebagai penjaga legitimasi paham dan pengetahuan yang disepakati negara. Misal pada saat pemerintahan Abbasiyah, pemimpinnya yang merupakan seorang Sunni ingin memperkuat legitimasi ke-Sunni-an dengan meminggirkan paham-paham kelompok lain (Syi'ah, Mu'tazilah, dll) dengan mendukung ulama-ulama Sunni dengan modal dan pengaruh.

Salah satu contoh ternama adalah Ghazali. Dengan pandangan Asy'ariyah dan kritiknya terhadap ulama keturunan Ismailiyah Ibnu Sina, pemerintah Abbasiyah membantu mencetak dan menyebarluaskan tulisan-tulisannya, juga menjadikan Ghazali pengajar di institusi pendidikan yang dinaungi pemerintah. Semuanya dilakukan untuk menyingkirkan ulama seperti Ibnu Sina yang pemikirannya tidak sejalan dengan pemikiran pemerintah.

Ditambah Ghazali juga mempromosikan legitimasi negara melalui sebuah hadis (yang diragukan keasliannya):

الْدِّيْنُ أَسَاسٌ وَالسَّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أَسَاسَ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

(Agama adalah fondasi dan kekuasaan/pemerintahan adalah penjaganya. Apa yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, dan apa yang tidak memiliki penjaga akan sia-sia/lenyap).

Ulama juga mendapatkan keuntungan dari kerjasamanya dengan pemerintah. Mereka mendapatkan perlindungan dan dukungan. Ditambah pada masa pemerintahan Abbasiyah, banyak pejabat mendonasikan kelebihan hartanya untuk membuat yayasan pendidikan. Yayasan ini menaungi banyak institusi pendidikan.

Dari institusi tersebut banyak ulama direkrut untuk mengajar dan menghasilkan ulama baru yang sejalan dengan pemerintah. Madrasah model ini Kuru sebut sebagai madrasah Nizamiyah.

Skema lain adalah mempromosikan stempel "Kafir" kepada ulama-ulama terutama yang mempelajari filsafat atau ilmu-ilmu di luar teologi agama Islam. Karena ilmu-ilmu ini distigmakan sebagai kontaminasi peradaban Barat.

Dampak buruk skema ini pada skala paling dasar adalah menghilangkan dinamisme intelektual muslim. Ketiadaan dinamisme intelektual menghambat inovasi, disinilah letak stagnasi yang kini disebut "kemunduran".

Selain gagasan utama Kuru, sistem Iqta, pemungutan upeti oleh pejabat militer negara menjadi suporter kemandekan peradaban Islam. Sistem Iqta simpelnya adalah pajak. Uang pajak digunakan untuk melaksanakan program pemerintah.

Masalah dari pajak adalah pengaruhnya yang mempersempit ruang pedagang, petani, pengrajin, dan kelas lainnya di luar Pejabat dan Militer. Kuru menyebutkan, hanya dua kelas terakhir yang diuntungkan dari sistem pemerintahan ini. Alhasil, inisiatif pertanian dan perdagangan menurun.

Munculnya legitimasi negara militer adalah konsekuensi sejarah dari tiga invasi (Tentara Salib, Mongol, dan Temur) sebelumnya. Teror invasi meninggalkan trauma pada kaum muslim. Ingatan akan kehancuran dan kebengisan para agresor menjadi bahan untuk merasionalkan negara militer.

Kemajuan Barat

Di sisi lain ketika peradaban Islam mulai melambat akibat restriksi terhadap intelektual dan kelas di luar Pejabat dan Militer, Eropa mengalami kemajuan dengan tiga terobosan utama: (1) Institusionalisasi Gereja Katolik dan kerajaan. (2) Pendirian lembaga-lembaga universitas. Pada masa ini lahir pemikir revolusioner dari Aquinas sampai Martin Luther, dari Copernicus hingga Galileo dan Isaac Newton. (3) Kelas pedagang menjadi garda terdepan sebagai motor penggerak terobosan ekonomi Eropa Barat.

Tesis mengenai kemunduran peradaban Islam tidak simpel. Kondisi eksternal dan internal sama-sama mempengaruhi stagnasi. Argumen utama adalah persekutuan Ulama-Negara. Ketika independensi hilang, dan kekuasaan melakukan pembungkaman berlebihan, peradaban akan sulit berkembang. Butuh kemerdekaan untuk sebuah kemajuan.

Peminggiran ruang pedagang atas ruang pejabat dan militer turut andil menghasilkan suasana sosio-ekonomi yang kurang produktif. Kelas pejabat dan militer hanya bisa menghambat inovasi ekonomi.

Di sisi luar, tren invasi mempengaruhi “lomba” peradaban Islam dan Eropa. Meski tidak sepenuhnya meluluhlantakkan peradaban, tapi Eropa bisa lebih leluasa mengembangkan diri sementara peradaban Islam sedang digempur berkali-kali.

Kuru menerangkan sebab kemunduran peradaban Islam tidaklah tunggal, sama seperti kisah peradaban lainnya, kemajuan dan kemundurannya melalui proses panjang dan variasi kejadian.

Tapi satu hal peringatan Kuru, intelektual (baca:Ulama) adalah bagian penting dari neraca kemajuan dan kemunduran peradaban Islam.

Asbabur Riyasy adalah Columnist Manager di Premature Authoring Hub

Contact

Contact us on IG

© 2025. All rights reserved.