Menghormati Sang Ulama Besar Al-‘Alwani… Sebuah Kata dari Generasi yang Meneruskan Panji

Sekapur sirih dari murid kepada gurunda

KARANGAN PANDANGKARANGAN PENDAHULUKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA

Ali A. I

3/11/20262 min read

Pendahuluan: Sebuah Pidato yang Tak Sekadar Kata

Di Istanbul, pada sebuah konferensi ilmiah yang diselenggarakan untuk menghormati warisan ilmiah almarhum Dr. Ṭāhā Jābir al-‘Alwānī, aku mendengar sebuah pidato yang tak lekang oleh waktu — disampaikan oleh Dr. Muhammad Tutunji, anggota Dewan Pengawas Institut Internasional Pemikiran Islam.

Pidatonya bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah cahaya lembut yang turun ke hati para hadirin. Tidak mengherankan—Dr. Muhammad adalah putra dari guru kami yang mulia, Dr. Ahmad Tutunji, dan benar kata pepatah Arab:

“Barang siapa menyerupai ayahnya, ia tidak zalim.”

Pidatonya penuh kedalaman dan keseimbangan: tidak berlebihan, tidak meniru, tetapi berdenyut dengan kesetiaan dan visi yang diperbarui. Ia tidak hanya mengangkat prestasi ilmiah al-‘Alwani, tetapi menggali inti dirinya — kemanusiaannya, akhlaknya, dan roh pembaharuannya. Sebuah ajakan halus namun tegas untuk meneruskan jalan panjang yang telah ia buka.

I. Sifat-sifat Kemanusiaan Al-‘Alwani

Al-‘Alwani adalah sosok yang akrab bagi semua orang—ia berbicara kepada ilmuwan dan murid, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dengan keramahan yang sama. Ia dekat, mudah didekati, dan rendah hati — seperti seseorang yang mewarisi kelembutan Nabi ﷺ dalam interaksi sehari-harinya.

Ia selalu mendengar dengan jujur, membuka ruang diskusi, memberi dorongan bagi kaum muda untuk berfikir, bertanya, dan bahkan berdebat, tanpa ketakutan. Dalam kehidupan sehari-harinya, Al-Qur’an adalah napasnya: Ia membacanya, merenunginya, mengutipnya dalam percakapan dan keputusan — sehingga seluruh perilakunya menjadi cermin dari apa yang ia fahami dari Kitabullah.

II. Visi Pemikiran & Proyek Pembaharuannya

Al-‘Alwani adalah seorang mujaddid, pembaru zaman ini—seorang mata hati yang mampu menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa kini. Ia memandang Islam bukan sekadar ritual, tetapi metodologi hidup yang menyeluruh, mencakup:

manusia,

masyarakat,

alam,

dan pembangunan peradaban.

Dari sinilah ia menjadi salah satu pemimpin gerakan “Islamisasi Ilmu” pada awal 1980-an, yang kemudian ia kembangkan menjadi konsep “Integrasi Ilmu (Takāmul al-Ma‘rifah)” — gagasan bahwa wahyu dan akal tidak saling berbenturan, tetapi saling menyempurnakan. Proyek intelektualnya berdiri di atas tiga pilar besar:

1. Tauhid — sebagai bingkai kosmologis.

2. Tazkiyah — penyucian diri sebagai fondasi etika.

3. ‘Imran — pembangunan manusia dan peradaban.

Ia meyakini bahwa kebangkitan umat hanya lahir dari perpaduan harmonis antara wahyu dan ilmu kemanusiaan modern, dalam satu kerangka pemikiran yang utuh.

III. Fokus Utama: Al-Qur’an sebagai Sumber Hidup

Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, al-‘Alwani memusatkan seluruh tenaganya pada studi Al-Qur’an, menulis lebih dari sepuluh buku yang berputar pada tema:

“Engkau harus menghidupi Al-Qur’an dan merenunginya.”

Ia menegaskan bahwa maqāṣid syarī‘ah hanya dapat dipahami dari maqāṣid Al-Qur’an sendiri — bukan dari bacaan luar, bukan dari konstruksi fikih semata, melainkan dari petunjuk langsung Kitabullah.

Dalam dua karyanya — “Problematika Memahami Sunnah Nabawiyyah” dan “Dialog Mengenai Berita dalam Sunnah” — ia menjelaskan metodologi:

Al-Qur’an sebagai hakim dan penjelas,

Sunnah sebagai penerapan hidup dari petunjuk Al-Qur’an.

Dan karya puncaknya yang terbit setelah wafatnya—“Tafsir Al-Qur’an bi al-Qur’an”—menjadi lompatan besar dalam pendekatan tadabbur kontemporer. Karya-karyanya diterjemahkan ke bahasa Rusia dan berbagai bahasa Asia Tengah serta Kaukasus.

IV. Lembaga-lembaga yang Didirikannya

Selain Institut Internasional Pemikiran Islam, al-‘Alwani mendirikan:

Universitas Qurtubah,

Pusat Studi Al-Qur’an Ṭāhā Jābir al-‘Alwānī,

yang kini menjadi mercusuar intelektual dalam proyek pembaruan pemikiran dan peradaban Islam.

V. Sebuah Seruan untuk Meneruskan Perjalanan

Pidato Dr. Muhammad Tutunji bukanlah sekadar penghormatan kepada seorang tokoh besar—melainkan permulaan baru.

Ia menyeru para ulama dan peneliti untuk melanjutkan jalan al-‘Alwani dalam:

memperbarui pemahaman kita terhadap Al-Qur’an,

memajukan proyek integrasi ilmu,

membangun peradaban,

mengutamakan persatuan dan kerja kolektif,

dan menjadikan pemikirannya sebagai proyek aktif, bukan “warisan mati”.

Ia menutup dengan kata-kata yang layak diukir:

“Fikrah al-‘Alwani bukan peninggalan. Ia adalah perjalanan—yang harus kita teruskan.”

Dan akhirnya, seruan itu memuncak:

“Mari kita bersatu. Mari fokus pada masa depan. Mari membangun, bukan berpecah. Mari benar-benar menghormati hidupnya, pesannya, dan visinya.”