Minggu Kedua Perang
Kolom isu regional dan eskalasi global dalam miskalkulasi geopolitik dan militer
KARANGAN PANDANGKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA
Munir Shafiq
3/11/20262 min read


Minggu Kedua Perang
Memasuki minggu kedua perang dengan intensitas yang terus meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin dihadapkan pada bukti bahwa perhitungan awalnya ternyata keliru.
Bahkan sebelum minggu pertama berakhir, ia secara terbuka menyatakan keheranannya karena Iran tidak menunjukkan tanda-tanda tunduk ataupun menyerah.
Harapan tersebut sepenuhnya pupus setelah terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai wali-e faqih ketiga Republik Islam Iran—setelah Imam Khomeini dan Imam Khamenei.
Ia dikenal mewarisi banyak sifat ayahnya, terutama kemampuan untuk melanjutkan perang dengan keyakinan dan keteguhan. Hal ini menggagalkan perhitungan Trump dan menempatkannya di hadapan kemungkinan konflik berkepanjangan.
Pernyataan Trump pada 9 Maret 2026 tentang dekatnya akhir perang, serta tanggapan Korps Garda Revolusi Islam yang menegaskan bahwa Iranlah yang “menentukan bagaimana dan kapan perang ini berakhir”, menunjukkan bahwa pada minggu kedua konflik telah mulai terlihat perubahan dalam distribusi inisiatif di medan tempur—bukan menguntungkan Trump maupun Netanyahu.
Perubahan ini menjadi semakin jelas setelah Iran menggunakan jenis rudal dengan tingkat teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan pada minggu pertama perang.
Serangan-serangan tersebut menimbulkan kerusakan luas di sejumlah kota—dari Negev hingga Haifa, dengan penekanan khusus pada Tel Aviv.
Analisis yang cermat terhadap posisi kedua pemimpin—Trump yang berusaha memetik hasil politik secepat mungkin, dan Netanyahu yang langkah-langkahnya dalam banyak hal didorong oleh keinginan mempertahankan kekuasaan lebih daripada perhitungan militer-politik yang tepat—memungkinkan kesimpulan awal ini ditarik.
Hal ini juga berkaitan dengan karakter respons Iran terhadap agresi militer yang dihadapinya.
Di sisi lain, efektivitas operasi Hizbullah dalam perang ini juga terlihat meningkat dibandingkan dengan minggu pertama.
Perkembangan ini mulai mengirimkan sinyal penting mengenai kemungkinan arah perkembangan perang—bertentangan dengan perkiraan yang sebelumnya dibangun oleh Trump.
Perubahan-perubahan awal pada minggu kedua perang ini sekaligus menunjukkan kecilnya kemungkinan tercapainya tujuan untuk menggulingkan rezim Iran dan menggantinya dengan kepemimpinan serta sistem baru—dengan pola yang menyerupai skenario Venezuela.
Di sinilah tampak dengan sangat jelas kedalaman kesalahpahaman yang dialami oleh Trump dan Netanyahu.
Tujuan pertama mereka adalah menghancurkan sistem yang didirikan oleh Imam Khomeini dan diperkuat oleh Imam Khamenei—sebuah sistem yang kini telah mencapai tingkat perkembangan yang signifikan.
Hal itu terlihat, antara lain, dari kemajuan teknologi rudal balistik Iran, serta dari kekokohan struktur politik internalnya.
Di samping itu, perang juga memperlihatkan sesuatu yang lain: sikap jutaan rakyat yang, di tengah pemboman dan suasana duka, berpamitan kepada syahid, Imam Sayyid Ali Khamenei.
Di sini bertemu tiga unsur sekaligus: kekuatan struktur internal, keteguhan posisi tempur, dan kehendak rakyat.
Menarik pula dicatat bahwa pendekatan yang dapat disebut sebagai “orientalisme trumpis” memperlihatkan kecenderungan meremehkan rakyat Iran—sebuah bangsa dengan sejarah yang sangat tua, bangsa yang tidak mungkin diperangi sambil pada saat yang sama dituntut untuk menyerah.
Tentu saja, masih terlalu dini untuk menarik semua kesimpulan akhir dari perubahan yang muncul antara minggu pertama dan minggu kedua perang.
Tidak diragukan bahwa perang berskala besar seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran memerlukan kesabaran; pengalaman sejarah menunjukkan bahwa perang semacam ini dapat berkembang ke berbagai arah.
Namun demikian, analisis yang cermat terhadap posisi Trump—yang tergesa-gesa memetik hasil—dan Netanyahu—yang terutama digerakkan oleh keinginan mempertahankan kekuasaan, bukan oleh kalkulasi militer-politik yang ketat—memungkinkan penarikan kesimpulan awal ini, bersama dengan karakter respons Iran terhadap agresi militer.
Keunggulan di udara saja tidak cukup untuk memenangkan perang melawan kepemimpinan yang kuat, kader yang siap tempur, dan rakyat yang berani di darat.
Munir Shafiq
penulis dan pemikir Palestina
#Iran #AmerikaSerikat #TimurTengah
