Pengamatan Seorang Arab di Negeri Tatar
Dalam Pencarian Kenangan Masa Lalu dan Persimpangan Perjalanan Hidup
KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PEMBERIAN
ALI A. I.
5/28/20264 min read


Pengamatan Seorang Arab di Negeri Tatar
Di antara tradisi indah yang tersebar di desa-desa Tatar saat hari raya, yang menarik perhatianku dan ingin kusampaikan di sini, adalah tradisi menghidupkan takbir berjamaah pada pagi Idul Fitri maupun Idul Adha—sebuah tradisi yang menghadirkan nuansa ruhani, kegembiraan, dan kehangatan yang bersumber dari sunnah bertakbir pada hari raya. Belakangan ini, beredar sejumlah video dari desa-desa Tatar di wilayah Nizhny Novgorod Oblast yang mendokumentasikan pemandangan tersebut, memperlihatkan bagaimana tradisi itu masih hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat setempat.
Di desa Ryabushkina, sebuah desa Tatar besar yang termasuk salah satu desa Tatar tertua di kawasan itu, para lelaki berkumpul sejak pagi buta pada hari raya di dekat pemakaman desa. Di sana mereka mendoakan kerabat dan kenalan mereka yang telah wafat dan meninggalkan dunia ini. Aku mendapati orang-orang Tatar sangat setia menjaga kenangan terhadap para almarhum dari keluarga mereka; dalam majelis-majelis yang mereka hadiri, mereka selalu menyebut nama-nama mereka dan mendoakan mereka. Bahkan mereka memiliki buku khusus yang berisi nama-nama orang yang telah wafat, lalu menyerahkannya kepada mullah dalam majelis agar nama-nama itu disebut, didoakan, dan dihadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada mereka. Pada pagi hari raya, mereka pun menziarahi kubur-kubur itu dan mendoakannya. Keluarga-keluarga biasanya telah membersihkan area pemakaman dari rumput liar dan semak-semak agar memudahkan orang berjalan di sana pada pagi hari raya.
Setelah itu, mereka bergerak dalam sebuah arak-arakan indah, berbaris rapi dengan para sesepuh di barisan depan. Mereka menyusuri jalan-jalan desa sambil bertahlil dan bertakbir. Di setiap persimpangan jalan mereka berhenti sejenak untuk meninggikan suara takbir, hingga akhirnya tiba di masjid sambil terus melantunkan takbir hari raya. Sesampainya di depan masjid, mereka berdiri sejenak, kembali meninggikan suara takbir dan tahlil sebelum masuk untuk menunaikan shalat dan mendengarkan khutbah. Setelah shalat, mereka saling memberi ucapan selamat, lalu pulang ke rumah masing-masing.
Aku mengetahui dari penduduk desa bahwa tradisi ini sudah sangat tua dan mengakar, diwariskan turun-temurun dari ayah dan kakek mereka, bukan fenomena baru.
Di desa-desa lain, seperti desa Shubino di kawasan Sergach yang masih berada dalam provinsi yang sama, para lelaki datang dari berbagai arah sambil melantunkan takbir hari raya, dan para perempuan turut serta dalam arak-arakan itu hingga seluruh rombongan bertemu di masjid desa. Di sana mereka berdiri dalam barisan yang saling berhadapan, melantunkan takbir hari raya bersama-sama sebelum masuk ke masjid untuk menunaikan salat dan mendengarkan khutbah.
Usai salat, masing-masing kembali ke rumah untuk menyembelih hewan kurban—jika memang berniat berkurban—dengan kehadiran mullah yang mendoakan para pemilik kurban agar diberi kebaikan, keberkahan, dan diterima amalnya. Hal ini berlangsung sepanjang tiga hari raya. Setelah itu dimulailah kunjungan kepada keluarga dan kerabat, serta pembagian daging kurban kepada sanak saudara dan orang-orang yang membutuhkan.
Yang menarik, dalam majelis-majelis tempat daging kurban disajikan, makanan tidak mulai disantap sebelum takbir hari raya dilantunkan, bahkan jika hidangan itu disajikan beberapa waktu setelah hari raya berlalu. Ketika diberitahukan kepada mullah bahwa daging tersebut berasal dari hewan kurban, ia akan bertakbir, lalu seluruh hadirin mengikuti dengan melantunkan takbir hari raya.
Di kotaku, Nablus—kota yang sangat kurindukan beserta detail-detail kecilnya—kami dahulu juga memiliki tradisi hari raya yang, sampai batas tertentu, mirip dengan yang dilakukan orang-orang Tatar.
Aku masih ingat bagaimana kami bersiap menyambut hari raya dengan menziarahi makam orang-orang yang telah wafat, membersihkan rumput liar dan duri-duri di sekitarnya bila ada, lalu mengikat pelepah kurma di atas kuburan. Selalu ada orang yang berjualan pelepah kurma di dekat pagar pemakaman pada hari-hari menjelang hari raya. Itu adalah perdagangan yang cukup ramai, dengan harga yang berbeda-beda tergantung panjang dan kesegaran pelepahnya. Maka pada pagi hari raya, pemakaman tampak seolah berubah menjadi hutan hijau kecil dari pelepah-pelepah kurma yang menjulang di atas makam-makam.
Namun seiring berlalunya waktu, tradisi itu perlahan mulai memudar hingga akhirnya hilang sama sekali. Aku sendiri tidak tahu pasti kapan tepatnya ia benar-benar lenyap, tetapi ketika aku meninggalkan Nablus pada pertengahan tahun delapan puluhan, kebiasaan itu masih ada.
Sebagian syekh di kota menentang praktik ini dan menganggapnya sebagai bid‘ah, sementara yang lain berdalil dengan sejumlah riwayat lemah yang disebutkan dalam persoalan tersebut. Namun kebanyakan orang tidak terlalu memedulikan perdebatan itu, sebab tradisi tersebut sudah begitu mengakar dan diwariskan turun-temurun di kota kami.
Para lelaki biasanya menuju pemakaman langsung setelah shalat Ied. Seusai shalat, engkau akan melihat mereka seolah sedang berada dalam sebuah iring-iringan panjang atau arak-arakan bersama. Di sana mereka berkumpul di sekitar makam keluarga yang telah wafat dan membaca Surah Yasin secara berjamaah dengan suara lantang. Jumlah orang yang hadir berbeda-beda tergantung besar kecilnya keluarga dan kedudukannya; kadang engkau melihat puluhan orang berkumpul di sekitar satu makam, sementara di makam lain mungkin hanya ada satu atau dua orang saja.
Perempuan pada umumnya tidak datang ke pemakaman saat hari raya; ziarah tersebut biasanya hanya dilakukan oleh kaum lelaki.
Di antara tradisi indah lainnya, penduduk kota juga biasa mengunjungi rumah keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, sebagai bentuk penghiburan dan penguatan hati pada hari raya pertama yang mereka lalui setelah ditinggal wafat orang tercinta. Penduduk Nablus memang dikenal dengan kebiasaan mulia ini.
Tradisi lain yang juga kuingat adalah kebiasaan warga kota mengunjungi makam para syuhada pada pagi hari raya, meskipun mereka tidak memiliki hubungan pribadi dengan para syuhada atau keluarga mereka.
Namun hari raya di Nablus memiliki kebahagiaan tersendiri, khususnya bagi anak-anak—kebahagiaan yang hampir serupa di sebagian besar wilayah Palestina—dan aku belum menemukan sesuatu yang benar-benar setara dengannya di tengah masyarakat Tatar.
Anak-anak biasanya telah bersiap menyambut hari raya jauh-jauh hari dengan penuh antusias. Orang tua akan menyiapkan mereka dengan membeli pakaian baru, lalu mereka keluar pada pagi hari raya dengan penuh kebanggaan, saling memamerkan pakaian dan sepatu baru mereka satu sama lain.
Mereka juga menantikan kunjungan keluarga selama hari-hari raya, sebab orang-orang dewasa terbiasa memberi mereka sejumlah uang kecil yang dikenal dengan sebutan “eidi” atau uang hari raya. Anak-anak merasa sangat gembira menerimanya, hingga jumlah yang terkumpul selama beberapa hari raya terasa—menurut ukuran dunia kecil mereka—sebagai jumlah yang cukup besar. Biasanya uang itu mereka habiskan untuk membeli mainan, replika senjata api, petasan, es krim, dan berbagai hal lain yang disukai anak-anak.
Orang-orang dewasa pun memiliki cara tersendiri dalam menyambut hari raya. Mereka menyiapkan kue-kue khas hari raya yang disuguhkan kepada keluarga dan tamu yang datang berkunjung selama hari raya, dan sering kali sebagian darinya dikirim kepada tetangga serta kerabat.
Di kota kami juga terdapat sebuah lapangan luas yang dikenal dengan nama “Sahat al-‘Ied” atau Lapangan Hari Raya. Di sana dipasang ayunan dan berbagai permainan sehingga tempat itu tampak seperti taman hiburan kecil. Di tempat itulah engkau akan menemukan sebagian besar anak-anak kota berlomba menaiki wahana permainan, membeli manisan dan es krim, serta menghabiskan waktu berjam-jam dalam kegembiraan dan permainan.
Sementara di kalangan orang-orang Tatar, setidaknya di daerah-daerah yang pernah kukunjungi dan kusaksikan, aku belum menemukan sesuatu yang benar-benar serupa dalam bentuk seperti itu. Mungkin saja ada tradisi sejenis di wilayah lain yang belum sempat kukunjungi. Orang-orang Tatar tersebar di bentangan wilayah Rusia yang sangat luas, dan meskipun adat-istiadat mereka memiliki banyak kemiripan, di antara mereka juga terdapat keragaman yang besar—sebuah topik luas yang layak diteliti dan direnungkan lebih jauh.
