Perang dan Pekan Keenamnya

Delegitimasi, disintegrasi aliansi barat dan senjata makan tuan

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN

4/6/20262 min read

Perang dan Pekan Keenamnya

Menjelang pekan keenam perang agresi Amerika–Zionis terhadap Iran—yang dikecam oleh mayoritas negara di dunia, masyarakat internasional, serta hukum internasional—dunia menanti pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tujuannya jelas: mengetahui keputusan akhirnya, apakah perang akan dilanjutkan atau dihentikan. Namun pidato Trump, yang dikenal berubah-ubah dari hari ke hari, terdengar tidak terarah. Pidato itu bahkan tidak mencerminkan situasi negatif yang ia hadapi sendiri, setelah tingkat popularitasnya di Amerika Serikat merosot hingga 17 persen—angka yang belum pernah dicapai oleh presiden Amerika mana pun sebelumnya, termasuk Joe Biden.

Trump kini menghadapi krisis yang mengancam kepemimpinannya di dalam negeri. Gelombang protes besar-besaran, yang melibatkan hingga delapan juta orang, mendorong massa turun ke jalan menentang perang. Konsumen Amerika menghadapi kenaikan harga, sementara kekacauan domestik mulai terasa luas. Sistem penerbangan yang sebelumnya tertata ikut terdampak—mulai dari keterlambatan prosedur hingga pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan. Pada saat yang sama, perpecahan semakin tajam di kedua partai, di Kongres, bahkan di dalam gerakan “MAGA” yang menjadi inti basis pendukungnya. Suara-suara yang menyatakan bahwa perang Trump terhadap Iran bukanlah perang mereka—melainkan perang Netanyahu yang menyeret Trump ke dalamnya—semakin menguat. Dalam konteks ini, perlu dicatat bahwa tekanan internal di Amerika Serikat merupakan faktor utama yang mendorong Trump ke arah penghentian perang sekaligus menahan eskalasinya lebih jauh.

Dalam kerangka inilah pidatonya pada fajar 2 April 2026 harus dipahami. Meskipun kerugian domestik terus meningkat, ia tidak menunjukkan arah menuju penghentian perang. Penjelasannya tidak hanya berkaitan dengan sifatnya yang berubah-ubah, keras kepala, atau keberpihakan ideologisnya terhadap Zionisme. Faktor lain adalah tekanan yang berkaitan dengan berkas-berkas kasus Epstein. Berkas tersebut tidak hanya mencakup tuduhan penyimpangan seksual, tetapi juga menunjuk pada kejahatan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Selain itu, Trump juga menghadapi isolasi internasional yang semakin dalam. Kebijakannya telah memicu krisis ekonomi yang memengaruhi pasar minyak, jalur distribusi barang, dan perdagangan global. Penutupan Selat Hormuz memperparah krisis tersebut, terutama di tengah kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb.

Tantangan paling serius muncul dalam krisis hubungan dengan negara-negara Eropa. Krisis ini mulai mengancam keberlangsungan Aliansi Atlantik Utara itu sendiri. Trump membangun hubungan dengan sekutu-sekutu Eropa dalam kerangka superioritas, dengan nada merendahkan, bahkan mengarah pada pengabaian. Pendekatan semacam ini pada akhirnya akan menimbulkan biaya besar bagi Amerika Serikat. Penilaian yang meremehkan peran Eropa dalam politik global—baik secara strategis, militer, ekonomi, maupun peradaban—tidak sesuai dengan realitas.

Pendekatan terhadap NATO dan Eropa seperti ini hanya akan memperdalam isolasinya dan semakin melemahkan posisinya. Situasi tersebut menuntut darinya, pada 2 April, sebuah pidato yang berbeda kepada bangsa. Pidato itu seharusnya diarahkan untuk mengakhiri perang yang semakin berbalik merugikannya dan berubah menjadi bencana yang mengarah pada kekalahan.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian pengamat mempertimbangkan kemungkinan bahwa, jika tekanan terus meningkat, Trump dapat mengambil langkah menggunakan senjata nuklir, bahkan dalam skala terbatas. Namun langkah semacam itu tidak akan dibiarkan tanpa respons—baik dari opini publik global, sikap negara-negara, maupun reaksi internal di Amerika Serikat sendiri. Jika Iran tetap bertahan dan menolak menyerah bahkan di bawah serangan nuklir, maka hasil akhirnya akan menjadi kekalahan telak bagi Trump dan Netanyahu. Senjata semacam itu pada akhirnya menghancurkan pihak yang menggunakannya terlebih dahulu.

Munir Shafiq

3 April 2026

Munir Shafiq adalah seorang pemikir Palestina dan salah satu analis politik terkemuka di dunia Arab.