Perang di Timur Tengah: Hasil 19 Maret
mengapa Amerika Serikat mulai menuju pencabutan sanksi terhadap Iran
KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN
3/24/20262 min read


Perang di Timur Tengah: Hasil 19 Maret
mengapa Amerika Serikat mulai menuju pencabutan sanksi terhadap Iran
Berita mengenai kemungkinan Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap Iran dan mengizinkannya menjual minyak “yang tertahan” senilai antara 15 hingga 20 miliar dolar, yang diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, tampak mengejutkan pada pandangan pertama.
Kenyataannya, tanker minyak Iran yang hingga 28 Februari 2026 dikejar oleh pemerintahan Trump, kini berlayar berdampingan dengan kapal perang Amerika. Yang tersisa hanyalah mengawalnya hingga titik bongkar. Hal ini terjadi bersamaan dengan peningkatan nyata ekspor minyak Iran secara global, di tengah kekurangan pasokan yang tajam, terutama dari minyak mentah Timur Tengah.
Fakta-fakta ini mengungkap besarnya kegagalan yang dialami Amerika Serikat dalam petualangan Iran. Ini juga mencerminkan upaya tergesa-gesa dari pemerintahan Gedung Putih untuk menemukan jalan keluar guna meredakan krisis harga di pasar energi, yang menghantam Amerika sendiri sebagaimana menghantam Eropa dan Asia.
Pasar saat ini tidak mampu berfungsi tanpa minyak Iran. Pergerakan tanker China, India, dan Pakistan melalui Selat Hormuz kini terkait langsung dengan keberlanjutan ekspor energi Iran.
Dalam konteks ini, serangan Israel terhadap ladang gas “South Pars” di Iran menjadi pukulan berat bagi Amerika Serikat. Benjamin Netanyahu berupaya menembus batas fase perang saat ini, menyeret Washington ke keterlibatan yang lebih dalam, dan mendorong para “raja” Teluk untuk berpihak pada kepentingan Israel serta masuk ke dalam konfrontasi langsung dengan Teheran.
Respons Iran, yang mengeluarkan sekitar 17% kapasitas produksi LNG Qatar, disertai dengan respons Amerika yang dingin, menunjukkan dengan jelas bahwa eskalasi tidak lagi menjadi pilihan utama bagi Trump. Ia mencari jalan keluar, terutama untuk dirinya sendiri.
Batas waktu enam puluh hari yang diberikan untuk perang tampak tidak dapat diperpanjang oleh Kongres Amerika, terutama setelah kesaksian Tulsi Gabbard dalam sidang dengar pendapat, serta wawancara keras dari mantan Direktur Pusat Nasional Penanggulangan Terorisme Joe Kent, yang menegaskan tidak adanya ancaman langsung dari Iran dan bahwa Iran pada dasarnya tidak berupaya memperoleh senjata nuklir.
Di dalam negeri Amerika, penolakan publik terhadap perang bertemu dengan realitas bahwa militer dan armada tidak siap untuk operasi jangka panjang, terutama operasi darat. Masalah pada kapal induk “Gerald Ford”, yang terpaksa meninggalkan area operasi, mengungkap adanya kelemahan struktural. Kekuatan Amerika tampak besar di atas kertas, sementara yang benar-benar dapat dikerahkan untuk perang hanya sebagian kecil darinya.
Sebaliknya, kinerja Iran muncul sebagai faktor tekanan yang efektif. Laporan media Amerika menunjukkan bahwa Iran berhasil mengenai jet tempur F-35. Masuknya sarana tempur baru, seperti drone serang dan kapal tanpa awak, memperlihatkan bahwa pasukan Amerika tidak siap menghadapi jenis konfrontasi ini.
Semua ini mendorong Trump untuk bertindak lebih hati-hati, karena tekanan politik dalam negeri dapat berkembang menjadi ancaman langsung terhadap posisinya.
Di sisi lain, Teheran berupaya membeli waktu dan memperpanjang konflik sejauh mungkin—hingga akhir April—ketika Amerika Serikat akan dipaksa mengevaluasi kembali kehadiran militernya jika tidak terjadi peristiwa luar biasa.
Para mitra regional Amerika juga tidak lagi menginginkan kelanjutan perang, dan mendorong penyelesaiannya dengan cepat, karena kelanjutannya menjadi ancaman eksistensial bagi ekonomi mereka. Mereka siap menanggung biaya penyelesaian, termasuk memberikan kompensasi parsial kepada Iran atas kerugiannya.
Satu-satunya pihak yang tetap mendorong kelanjutan perang adalah pihak yang memulainya sejak awal: Israel. Serangan terakhirnya terhadap infrastruktur gas Iran menunjukkan kesiapan untuk melangkah lebih jauh.
Faktor ini menjadi sumber ketidakpastian terbesar dalam perang ini, sekaligus ancaman paling langsung terhadap stabilitas kawasan.
Yuri Podolyaka
Analis militer Rusia
