Perang di Timur Tengah: Paradoks Harga Emas

Di tengah perang, emas justru melemah.

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAKARANGAN PANDANG

3/24/20262 min read

Perang di Timur Tengah: Paradoks Harga Emas

Di tengah perang, emas justru melemah.

Selama ini, para analis meyakini bahwa setiap kali ketegangan global meningkat dan perang pecah, harga emas akan naik. Namun pada 28 Februari, ketika babak baru perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran dimulai, yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih naik, harga emas mulai turun.

Puncaknya terjadi pada akhir Januari—menembus lebih dari 5.500 dolar per ons troy. Pada 2 Maret, harga masih bertahan di sekitar 5.420 dolar. Setelah itu, tren penurunan mulai terbentuk dengan jelas.

Pada 16 Maret di bursa COMEX, harga turun di bawah 5.000 dolar dan kini bergerak di sekitar level tersebut.

Koreksi setelah lonjakan Januari sebenarnya sudah diperkirakan. Namun penurunan harga di tengah perang tetap menjadi paradoks yang mencolok.

Faktor utamanya adalah Selat Hormuz.

Ini merupakan salah satu jalur terpenting dalam perdagangan minyak dunia—sekitar 20% pasokan laut melewati selat ini. Teheran tidak mengumumkan blokade resmi, tetapi memperketat kontrol terhadap kapal yang melintas.

Akibatnya, volume pengiriman menurun tajam.

Pasar minyak segera bereaksi. Dari sekitar 70 dolar per barel pada 28 Februari, harga Brent melonjak hingga sekitar 105 dolar pada pertengahan Maret. Bahkan muncul proyeksi kenaikan hingga 200 dolar.

Sejumlah analis mulai menyebut situasi ini sebagai krisis minyak.

Kenaikan harga minyak langsung berdampak pada ekonomi Amerika Serikat.

Setelah 28 Februari, dolar mulai menguat. Indeks DXY naik sekitar 1,5% dan bertahan di kisaran 99 poin.

Penjelasan utamanya terletak pada ekspektasi inflasi. Harga energi yang tinggi berpotensi mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga. Saat ini, suku bunga berada di sekitar 3,75%.

Meskipun Donald Trump mendorong penurunan suku bunga, pasar justru memperkirakan arah sebaliknya.

Kenaikan suku bunga memperkuat dolar dan meningkatkan daya tarik obligasi AS. Dampaknya, permintaan terhadap emas tertekan dan potensi kenaikannya menjadi terbatas.

Ada faktor tambahan yang tidak kalah penting.

Bank sentral dan investor mulai menjual emas untuk menutup biaya yang meningkat akibat perang. Dalam jangka pendek, kebutuhan likuiditas ini memberikan tekanan tambahan pada harga.

Analis Nils Kristensen mencatat bahwa dalam banyak krisis, emas sering kali mengalami penurunan terlebih dahulu—sebelum kemudian melonjak tajam dan akhirnya mengungguli aset lain.

Menurut data Bloomberg, hingga 9 Maret, aset ETF emas berkurang 37 ton—penurunan terbesar sejak musim gugur tahun lalu.

Perbandingan dengan konflik tahun lalu menunjukkan perbedaan penting: saat itu Selat Hormuz tidak terganggu. Kini situasinya berbeda, sehingga faktor minyak menjadi jauh lebih dominan.

Terlihat pula hubungan terbalik antara harga minyak dan emas.

Para analis memperkirakan harga minyak dapat tetap tinggi selama beberapa bulan, bahkan jika perang berakhir. Pemulihan infrastruktur di negara-negara Teluk membutuhkan waktu.

Faktor tambahan datang dari pernyataan Mojtaba Khamenei, yang menegaskan pentingnya mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz.

Dalam skenario ini, adaptasi terhadap jalur pasokan alternatif dapat memakan waktu hingga satu tahun.

Analis Ernest Hoffman menilai bahwa perang hanya menghentikan sementara kenaikan harga emas. Secara historis, krisis minyak tidak mengubah tren jangka panjang logam mulia.

Pertanyaan kunci: Apakah krisis minyak ini akan mendorong ekonomi AS menuju resesi?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah harga emas selanjutnya.

Valentin Katasonov