Perang di Timur Tengah: Rekap 16 Maret

ketika Trump menghadapi jalan buntu, Iran justru menaikkan taruhan…

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN

3/24/20263 min read

Perang di Timur Tengah: Rekap 16 Maret 

ketika Trump menghadapi jalan buntu, Iran justru menaikkan taruhan…

Setiap hari saya semakin yakin bahwa Israel dan Amerika Serikat melakukan kesalahan fatal ketika menghancurkan kepemimpinan lama Iran. Kepemimpinan baru tidak menjadi lebih penakut dan lebih “siap bernegosiasi” seperti yang mereka bayangkan. Sebaliknya, ia tampil lebih keras dan lebih cerdas.

Ya, tampaknya hal ini kini sudah mulai mereka sadari. Namun jalannya peristiwa tidak bisa diputar kembali—sebagaimana daging cincang tidak mungkin kembali menjadi utuh. Kini tanggal 17 Maret 2026, perang memasuki hari ke-18, dan bagi Trump situasinya telah mencapai jalan buntu. Hingga saat ini tidak terlihat adanya jalan keluar yang baik. Terlebih setelah serangkaian peristiwa penting kemarin yang membuat Donny tampak semakin menggelikan dan lemah sebagai “pemimpin dunia” di mata semua pihak.

Peristiwa pertama adalah penolakan terbuka dari seluruh “sekutu potensial” Amerika Serikat untuk ikut serta membuka Selat Hormuz—baik dari Eropa maupun Asia. Negara-negara Eropa tampak membalas dengan nada sinis atas penghinaan sebelumnya serta upaya pengendalian terhadap Greenland. Sementara negara-negara Asia, seperti biasa, tidak tergesa-gesa terlibat dalam konflik yang tidak secara langsung menyentuh kepentingan mereka—dan uang saja bukan alasan yang cukup.

Ini tampaknya merupakan upaya terakhir untuk membentuk koalisi anti-Iran—dan upaya itu gagal total. Sebagai akibatnya, muncul pernyataan baru dari Iran dengan nada sarkastik terhadap Trump, di mana Teheran mengajukan syarat-syaratnya untuk membuka Selat Hormuz. Jika Trump menerima syarat tersebut, ia pada dasarnya harus mengakui kekalahannya: mencabut seluruh sanksi terhadap Iran, mengembalikan aset yang disita, serta menarik pasukan Amerika dari Timur Tengah.

Pada saat yang sama, pelayaran demonstratif kapal tanker Pakistan “Karachi” di sepanjang pantai Iran melalui jalur navigasi yang sangat kompleks menunjukkan bahwa selat tersebut kemungkinan telah dipasangi ranjau oleh Iran. Hal ini membuat upaya membukanya dengan kekuatan militer menjadi jauh lebih rumit.

Dalam konteks ini, Iran terus melancarkan serangan rutin terhadap Uni Emirat Arab. Setiap hari satu tangki penyimpanan minyak di pelabuhan Fujairah dihancurkan. Jika pola ini berlanjut, pelabuhan tersebut akan menjadi tidak operasional dalam waktu satu minggu. Hal ini akan sepenuhnya menghancurkan kemampuan UEA mengekspor minyak di luar Selat Hormuz, serta menciptakan kekurangan tambahan di pasar sekitar 1,8 juta barel per hari. Gabungan faktor-faktor ini telah menyebabkan produksi minyak negara tersebut turun lebih dari setengah.

Di Kuwait, yang hingga baru-baru ini dianggap “stabil”, penduduk mulai merasakan dampak blokade. Kelangkaan berbagai barang mulai muncul. Antrean panjang terlihat di seluruh negeri untuk mendapatkan tabung “propana–butana”, yang masih menjadi sumber utama memasak bagi banyak warga, dan kini kekurangannya semakin nyata.

Pada saat yang sama, kekurangan amunisi untuk menyerang Iran semakin terasa. Selain itu, sistem pertahanan udara Iran belum berhasil dinetralisasi sepenuhnya—setiap hari drone berat Amerika berhasil ditembak jatuh. Sebaliknya, kinerja pertahanan udara Israel mulai melemah setelah pengurangan jumlah radar pertahanan rudal Amerika di kawasan, disertai munculnya kekurangan serius dalam rudal pencegat. Dalam konteks ini, Trump bahkan memberi tahu “mitra” Eropanya bahwa beberapa jenis amunisi tidak lagi tersedia untuk Ukraina, karena Israel dan Timur Tengah kini menjadi prioritas.

Pada titik ini, pilihan yang tersedia baginya sangat terbatas.

Pilihan pertama—yang paling aman jika Trump ingin segera mengakhiri keterlibatannya—adalah mensimulasikan “pembukaan” Selat Hormuz dengan bantuan Marinir dari Brigade Ekspedisi ke-31 yang telah dikerahkan ke kawasan. Setelah itu ia dapat mengumumkan kemenangan dan segera menarik diri, sambil membiarkan kawasan terjerumus ke dalam perang terbuka antar semua pihak, dengan segala konsekuensinya. Namun langkah ini akan langsung mengeluarkan Amerika Serikat dari persamaan Timur Tengah dan mendorong kawasan tersebut beralih ke China dan Rusia.

Pilihan kedua—jika Trump memutuskan melanjutkan perang—adalah menduduki Pulau Kharg dengan bantuan pasukan yang sama, memutus sepenuhnya pendapatan ekspor minyak Iran, lalu menunggu. Menunggu Iran menghancurkan “para mitra”, sehingga mereka, di bawah tekanan keputusasaan total, terpaksa memasuki perang darat melawan Iran—yang pada akhirnya akan mengubah jalannya perang sesuai kepentingannya. Pada saat yang sama, melanjutkan pertempuran melawan kelompok Syiah di Irak untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan keterlibatan Kurdi Irak dalam konflik.

Dalam konteks ini, Trump mungkin juga akan mencoba menarik Kurdi, tidak hanya melalui janji keuntungan wilayah di dalam Iran, tetapi juga melalui kemungkinan penyerahan kendali atas Kirkuk bahkan Mosul kepada mereka, mengingat hambatan yang diciptakan pemerintah Irak. Tidak ada jaminan bahwa skenario ini akan berhasil, namun saat ini ia tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

Begitulah gambaran hari 16 Maret dalam konteks perang besar di Timur Tengah, yang dipicu oleh Trump dan Netanyahu tujuh belas hari lalu—dan yang telah mulai menghasilkan perubahan besar di dunia.

Yuri Podolyaka

Analis militer Rusia