Perang di Timur Tengah: Rekap 21 Maret

serangan rudal Iran dengan jangkauan 4000 km…

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN

3/24/20262 min read

Perang di Timur Tengah: Rekap 21 Maret

serangan rudal Iran dengan jangkauan 4000 km…

Kemungkinan besar ini adalah berita paling menonjol kemarin, jika dilihat dari besarnya dampak globalnya. Isunya tidak terbatas pada kawasan semata, melainkan terutama menyangkut Eropa dan kemungkinan keterlibatannya dalam perang. Melalui upaya menargetkan Pulau Diego Garcia, Iran menunjukkan bahwa jangkauan rudalnya telah meningkat secara nyata. Artinya, area potensi serangan tidak lagi terbatas pada Timur Tengah, melainkan kini mencakup sebagian besar wilayah Eropa. Dalam konteks ini, asal rudal tidak memiliki arti yang menentukan—baik berasal dari Iran maupun Korea Utara.

Saya tidak menutup kemungkinan tersebut. Hal ini berkaitan dengan posisi Kim Jong Un, yang dengan arsenal nuklirnya dan dalam kerangka hubungan hampir aliansi dengan Rusia, tidak memedulikan opini Amerika Serikat maupun apa yang disebut “komunitas internasional”. Ia, bersama negaranya, berada dalam posisi yang sulit ditekan secara langsung, yang memberinya ruang lebih luas untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih aktif—atau lebih tepatnya, kebijakan ekonomi. Pernyataannya, yang nyaris luput dari perhatian, tentang kesiapan memasok rudal ke Iran, pada akhirnya bisa saja bukan tanpa makna, terutama mengingat adanya opsi untuk mentransfer rudal tersebut atau bahkan merakitnya di dalam wilayah Iran.

Topik ini akan dibahas secara terpisah, sementara untuk saat ini cukup ditegaskan bahwa kemungkinan tersebut memang ada.

Logika yang sama juga mendorong Korea Utara untuk menjual rudalnya kepada Iran, terutama karena rudal tersebut akan digunakan untuk tujuan yang memang sejak awal dirancang—yaitu menyerang sekutu Amerika Serikat dan pangkalan militernya. Dari sudut pandang ini, Korea Utara menjadi saluran paling sesuai untuk setiap bentuk dukungan militer kepada Iran, bahkan jika dukungan tersebut dilakukan atas permintaan dan pendanaan dari China atau bahkan Rusia.

Bagaimanapun, serangan itu telah terjadi. Ini adalah fakta. Dan pada jarak lebih dari 4000 kilometer. Hal ini mengubah keseimbangan dalam persamaan strategis perang dan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan balasan.

Berita kedua yang menonjol di front Timur Tengah adalah serangan rudal yang menargetkan kota Dimona di Israel, pusat program nuklir Israel. Serangan ini tampak sebagai respons terhadap serangan Israel ke Bushehr, lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang dibangun oleh Rusia.

Sejauh ini, reaktor itu sendiri belum menjadi target langsung. Saya tegaskan—belum. Namun keberhasilan serangan rudal tersebut, yakni kemampuannya menembus sistem pertahanan rudal Israel, merupakan sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi Israel.

Tidak ada ruang untuk membicarakan efisiensi penggunaan rudal pencegat dalam konteks ini. Reaktor Dimona adalah fasilitas keamanan kunci, yang seharusnya berada di bawah perlindungan maksimum dalam sistem pertahanan rudal. Jika serangan berhasil menembus, maka hal itu membuka ruang bagi penilaian strategis yang berat bagi Netanyahu.

Dalam kerangka ini, pernyataan Trump—atau lebih tepatnya ancamannya—untuk menyerang sektor energi Iran dalam 48 jam jika Selat Hormuz tidak dibuka, tampak naif dan mencerminkan ketidakberdayaan.

Pernyataan tersebut secara implisit mengakui kelemahan sekaligus membongkar kontradiksi pernyataan sebelumnya. Permintaannya agar selat dibuka berarti bahwa selat tersebut memang tertutup, bukan terbuka sebagaimana yang sebelumnya diklaim—dan hal ini kini jelas. Selain itu, bentuk permintaan itu sendiri menunjukkan ketidakmampuannya untuk memaksakan kehendak melalui kekuatan.

Respons Iran dalam konteks ini dapat dipahami. Teheran, seperti biasa, menyampaikan pesan keras kepada Trump melalui platform “X”, menegaskan kesiapan untuk eskalasi, serta mengancam—yang memicu kekhawatiran di kalangan para “pangeran” di kawasan—penghancuran total infrastruktur energi, mulai dari produksi dan pengolahan hingga pusat data dan fasilitas desalinasi.

Sebelumnya, pada kasus Qatar, Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk melaksanakan ancaman semacam itu dengan relatif mudah.

Dalam praktiknya, skenario inilah yang justru dibutuhkan oleh Israel. Oleh karena itu, hal ini tidak dipandang sebagai kemungkinan teoritis semata. Pengalaman terbaru menunjukkan bahwa Netanyahu, ketika menginginkan sesuatu, mampu memperolehnya dari Trump.

Demikian gambaran hari 21 Maret dalam konteks perang besar di Timur Tengah…

Yuri Podolyaka

Analis militer Rusia