Perang terhadap Iran dan Transformasi Tatanan Internasional
Hentinya denyut jantung tatanan lama dan menunggu jelang kelahiran tatanan baru, oleh analis politik dan hubungan internasional
KARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA
Ali A. I.
3/11/20264 min read


Perang terhadap Iran dan Transformasi Tatanan Internasional
Perang yang sedang berlangsung hari ini melampaui batas konfrontasi militer yang tengah terjadi dan berubah menjadi proses kelahiran bagi sebuah tatanan internasional baru. Garis-garis utamanya akan tampak lebih jelas setelah pertempuran antara Iran di satu pihak serta Amerika Serikat dan Israel di pihak lain berakhir, karena hasilnya akan membentuk kembali keseimbangan kekuatan di dunia.
Situasi saat ini mengingatkan pada sebuah gambaran sejarah yang masih kuat dalam ingatan. Pada tahun 2003, Presiden Amerika Serikat George W. Bush berdiri di atas geladak kapal induk untuk mengumumkan “Mission Accomplished” setelah invasi ke Irak. Pada saat itu, momen tersebut tampak seolah-olah menandai berakhirnya sebuah era dan membuka babak baru dominasi Amerika di dunia.
Namun tahun-tahun berikutnya menunjukkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Momen itu justru menjadi awal dari fase panjang kelelahan strategis dan berbagai transformasi.
Perang yang dimaksudkan Washington untuk membentuk ulang dunia dan Timur Tengah pada akhirnya justru membentuk ulang Amerika Serikat sendiri, baik secara politik maupun ekonomi.
Paradoks semacam ini telah berulang lebih dari sekali dalam sejarah imperium. Pengumuman kemenangan yang terlalu dini sering kali berubah menjadi tanda adanya kebuntuan strategis yang tersembunyi di balik bahasa kemenangan.
Dalam banyak kasus, pengumuman kemenangan lebih mencerminkan keinginan untuk mengakhiri konflik daripada menjadi cerminan kemenangan nyata di medan perang.
Perang Irak meninggalkan luka mendalam dalam struktur kekuatan Amerika. Biaya perang tersebut melampaui delapan triliun dolar, disertai tekanan ekonomi besar yang pada akhirnya bermuara pada krisis keuangan global tahun 2008.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor ekonomi. Ia juga menjalar ke kehidupan politik domestik Amerika, memunculkan retakan dalam struktur negara yang dalam, serta memperlihatkan perubahan yang sebelumnya tidak lazim dalam lanskap politik Amerika: mulai dari terpilihnya Barack Obama sebagai presiden hingga munculnya fenomena populisme yang terkait dengan Donald Trump dan melemahnya konsensus tradisional dalam kalangan elite yang berkuasa.
Pengalaman Irak menjadikan perang yang sedang berlangsung saat ini sebagai titik baru dalam jalur transformasi yang mulai tampak sejak awal abad ke-21. Konflik yang sedang terjadi merupakan ujian terakhir bagi kemampuan Amerika Serikat untuk mempertahankan posisi hegemoniknya dalam struktur internasional yang berubah dengan cepat.
Paradoksnya, perang Irak berlangsung di bawah naungan kaum neokonservatif yang meyakini mitos Armageddon dan kembalinya Mesias, serta berada di bawah pengaruh kuat lobi Israel dan Benjamin Netanyahu secara pribadi. Hari ini, lobi yang sama bersama Netanyahu kembali menyeret Amerika Serikat ke dalam perang baru demi mewujudkan mitos dan ilusi yang sama, sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Perang Amerika Serikat.
Namun konfrontasi yang berlangsung hari ini juga memperlihatkan perubahan penting dalam sifat kekuatan militer.
Perang-perang modern menunjukkan bahwa senjata berbiaya rendah—seperti drone dan rudal yang relatif sederhana—mampu menguras sistem pertahanan yang sangat kompleks dan mahal. Ketika biaya sebuah rudal pencegat mencapai jutaan dolar, sementara biaya drone atau rudal penyerang hanya puluhan ribu dolar, tampak jelas adanya ketidakseimbangan dalam persamaan biaya militer. Perbedaan biaya ini kini menjadi bagian dari dinamika konflik itu sendiri.
Perubahan militer ini juga berkaitan erat dengan variabel ekonomi yang sangat penting.
Jalur laut perdagangan energi global kini menjadi bagian dari dinamika konflik. Selat Hormuz menempati posisi sentral dalam persamaan ini, karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Setiap gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di sana segera tercermin dalam harga energi dan pasar keuangan, lalu dampaknya merambat ke seluruh ekonomi global.
Tekanan-tekanan ini kembali memunculkan pertanyaan yang lebih mendalam mengenai stabilitas sistem ekonomi dunia.
Perang, kenaikan harga energi, dan meluasnya pengeluaran militer menempatkan ekonomi Amerika di bawah tekanan yang semakin berat.
Dalam situasi seperti ini, perdebatan mengenai kebijakan moneter yang pernah digunakan pada krisis sebelumnya kembali muncul. Salah satu yang paling menonjol adalah perluasan basis moneter melalui pencetakan dolar dan injeksi likuiditas ke pasar. Instrumen-instrumen tersebut digunakan setelah krisis keuangan global melalui program pelonggaran kuantitatif.
Namun konteks internasional telah berubah selama satu dekade terakhir.
Sejumlah negara mulai mencari jalur perdagangan di luar sistem dolar. Hal ini sebagian didorong oleh munculnya kekuatan ekonomi baru seperti Tiongkok dan Rusia.
Seiring meluasnya kecenderungan tersebut, kebijakan pencetakan uang dalam skala besar menjadi semakin sensitif. Setiap ekspansi besar dalam basis moneter berpotensi menekan kepercayaan global terhadap dolar.
Pengalaman perang modern juga kembali mengingatkan pada batas-batas kekuatan militer konvensional. Keunggulan militer tidak selalu cukup untuk menentukan hasil akhir dalam konflik yang kompleks.
Serangan udara memang mampu menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur, tetapi jarang sekali mampu mengakhiri perang. Pengalaman Irak, Afghanistan, Lebanon, dan Gaza menunjukkan bahwa dominasi udara saja tidak cukup untuk memaksakan hasil politik yang menentukan.
Sementara itu, perang darat menghadirkan dilema yang berbeda. Dalam jenis konfrontasi ini, kesenjangan teknologi antara pihak-pihak yang bertikai cenderung menyempit.
Pertempuran berubah menjadi kontak langsung, di mana pengalaman lapangan dan metode perang nonkonvensional menjadi semakin penting. Di sinilah strategi perang gerilya muncul sebagai cara yang mampu mengurangi dampak keunggulan militer dan membentuk ulang medan konflik.
Dalam konteks ini hadir pula salah satu prinsip klasik dalam pemikiran militer yang dirumuskan oleh pemikir Tiongkok Sun Tzu. Ia menegaskan bahwa seorang komandan harus menampilkan kekuatan ketika ia lemah, dan menampilkan kelemahan ketika ia kuat. Pemilihan medan perang dan waktu konfrontasi merupakan bagian dari persamaan kekuatan sama pentingnya dengan keunggulan persenjataan.
Di antara skenario paling berbahaya yang mungkin muncul dari perang ini adalah kemungkinan eskalasi nuklir. Penargetan fasilitas nuklir membuka pintu bagi tingkat risiko yang sama sekali baru.
Meskipun penggunaan langsung senjata nuklir masih dianggap kecil kemungkinannya karena berbagai pembatas militer dan politik yang melingkupinya, institusi militer di negara-negara besar memahami bahwa setiap langkah menuju arah tersebut dapat memicu rangkaian konsekuensi yang sangat sulit dikendalikan.
Faktor geografi juga menempati posisi penting dalam perhitungan strategis.
Negara dengan wilayah yang luas memiliki kemampuan relatif lebih besar untuk menyerap dampak serangan yang merusak. Sebaliknya, wilayah kecil dengan kepadatan penduduk tinggi jauh lebih rentan terhadap dampak lingkungan dan kemanusiaan yang dahsyat jika senjata nuklir digunakan.
Di balik perkembangan ini muncul kemungkinan bahwa perang dapat berubah menjadi konflik jangka panjang. Strategi kelelahan melalui waktu dapat menjadi alat untuk melemahkan lawan secara ekonomi dan militer.
Kemungkinan ini semakin besar dalam jaringan hubungan internasional yang menghubungkan kekuatan seperti Iran, Rusia, dan Tiongkok, dengan kemungkinan keterlibatan pihak-pihak lain pada berbagai tingkat dalam keseimbangan kekuatan global.
Imperium tidak pernah runtuh dalam satu pukulan. Keruntuhan biasanya dimulai dengan fase panjang kelelahan strategis, di mana unsur-unsur kekuatan ekonomi, militer, dan politik mereka perlahan terkikis.
Dalam kerangka ini, perang yang sedang berlangsung tampak sebagai penutup bagi tatanan internasional yang terbentuk setelah berakhirnya Perang Dingin, ketika Amerika Serikat tampak sebagai satu-satunya kekuatan hegemonik di dunia.
Kini semakin banyak tanda yang menunjukkan bahwa fase tersebut mendekati akhirnya. Kebangkitan kekuatan-kekuatan internasional baru membuka jalan bagi redistribusi pengaruh dalam sistem global.
Pada titik inilah keseimbangan kekuatan dunia mulai berubah.
Jika perang-perang besar pada abad ke-20 mengakhiri imperium kolonial tradisional, maka transformasi yang sedang berlangsung hari ini membuka jalan bagi fase berbeda, di mana tatanan internasional baru dengan pusat-pusat kekuatan yang lebih beragam sedang terbentuk.
