Perang yang Dikelola oleh Algoritma

Perang yang Dikelola oleh Algoritma Mesin penentu siapa yang mati: 20 detik untuk menentukan target

KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIANKARANGAN PANDANG

Ali A. I. et, al.

3/24/20263 min read

Perang yang Dikelola oleh Algoritma

Mesin yang memilih siapa yang mati: 20 detik untuk menentukan target

Pada tahun 1996, dua peneliti militer Amerika, Harlan Ullman dan James Wade, mengembangkan konsep militer yang dikenal sebagai Rapid Dominance (dominasi cepat), dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh National Defense University dan didukung oleh Pentagon. Konsep ini menjelaskan penggunaan daya tembak maksimum dengan pengarahan cepat, luas, dan simultan untuk mencapai kendali operasional penuh atas lawan—bukan hanya secara militer, tetapi juga secara kognitif dan psikologis—dalam waktu sesingkat mungkin. Gagasannya adalah melumpuhkan kemampuan lawan untuk memahami dan merespons melalui serangan intensif dan beruntun, sehingga sistem komando dan militernya tidak mampu mencerna apa yang terjadi sebelum sempat berpikir untuk merespons.

Dalam satu detik, lawan bersiap untuk bertempur. Pada detik berikutnya, ia dikuasai rasa takut dan kelumpuhan psikologis di bawah tekanan serangan yang cepat dan berlapis, hingga satu-satunya tujuan yang tersisa adalah mencari jalan keluar atau menyerah seketika. Dalam literatur militer, ini disebut Rapid Dominance. Dunia mengenalnya sebagai shock and awe.

Penerapan awal yang paling menonjol terjadi di Irak pada tahun 2003. Pada jam-jam pertama, sedikitnya 500 target diserang. Dalam minggu-minggu pertama, jumlahnya meningkat menjadi 5000 target. Sebuah eskalasi bertahap namun mengejutkan, berbasis pada saturasi kekuatan dan penghancuran semua yang diklasifikasikan oleh basis data intelijen sebagai bagian dari struktur negara target.

Kemudian, Terjadi Peralihan

Bukan sekadar peralihan digital, tetapi juga psikologis dan strategis. Apa yang terjadi kemudian di Iran merupakan penggandaan model ini ke tingkat yang berbeda. Amerika Serikat sendiri menargetkan sedikitnya 1000 sasaran militer dan sipil pada tahap awal. Angka ini bukan batas.

Dalam waktu hanya lima belas hari, jumlah target yang diserang mencapai sekitar 15.000. Kita berhadapan dengan laju mendekati 1000 target per hari. Ritme ini telah melampaui batas perang konvensional.

Kampanye ini menelan biaya sekitar satu miliar dolar per hari. Ia bergantung pada bank target yang beroperasi secara waktu nyata: target ditentukan pada hari pelaksanaan atau paling lambat sehari sebelumnya. Perencanaan tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan, melainkan hitungan jam.

Sebelum Transformasi Ini, Muncul Masalah yang Mengungkap Celah

Pada hari pertama, sebuah lokasi di kota Minab dibombardir berdasarkan data intelijen dari tahun 2013. Lokasi tersebut telah berubah menjadi sekolah dasar bernama Pohon Baik. Ini bukan insiden terisolasi. Sejumlah laporan Barat mencatat kesalahan penargetan akibat penggunaan data usang atau tidak diperbarui, di mana lokasi yang telah berubah fungsi sepenuhnya tetap diserang. Contoh-contoh ini mengungkap cacat struktural: kesenjangan antara data statis dan realitas yang berubah.

Di Sinilah Project Maven Muncul

Pada tahun 2017, Pentagon memulai Project Maven untuk menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat perang langsung. Target utamanya adalah China. Proyek ini memicu kontroversi luas karena gagasan bahwa mesin akan memilih target. Meski demikian, perusahaan besar seperti Amazon, Microsoft, dan Google dilibatkan. Google kemudian mundur akibat tekanan internal.

Sebaliknya, Palantir muncul sebagai aktor paling berpengaruh dan secara praktis mengelola infrastruktur sistem, dengan integrasi teknologi dari Amazon, Microsoft, dan Anduril, yang menyediakan platform operasional lapangan serta sistem integrasi antara perangkat lunak dan sistem tempur.

Sistem ini mengumpulkan data dari lebih dari 175 sumber: satelit, komunikasi, video, dan radar. Semua itu diubah menjadi bank target hidup. Ia mengidentifikasi target, merencanakan serangan, mengevaluasi hasil, dan merekomendasikan jenis senjata yang paling sesuai untuk setiap target.

Sebelumnya, menyiapkan satu serangan bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun penuh, melibatkan ribuan analis. Hanya sekitar 4% data yang dapat dianalisis.

Kini, Persamaan itu Berubah

Dalam latihan Scarlet Dragon, sebuah unit membutuhkan 2000 personel untuk mencapai tingkat tertentu dalam operasi penargetan. Hasil yang sama dicapai oleh hanya 20 orang, dengan kecepatan lebih tinggi.

Saat ini, lebih dari 200.000 personel militer menggunakan sistem tersebut, dan NATO mulai menggunakannya sejak 2025. Sistem ini telah digunakan di Ukraina, Irak, Suriah, dan Yaman. Iran menjadi pengujian terbesar: perang penuh yang dikelola oleh kecerdasan buatan.

Pengembangan Terus Berlanjut

Target berikutnya adalah mengidentifikasi 1000 sasaran dalam satu jam, bukan 24 jam, dengan integrasi kawanan drone yang mampu mendeteksi dan menyerang secara otomatis, bahkan saat koneksi terputus.

Di latar belakang, bank target lain sedang dibangun

Sejak 2022, data luas tentang China telah dikumpulkan: kapal perang, pelabuhan, pangkalan militer, dan pabrik. Sebuah struktur lengkap yang siap ditargetkan.

Kemampuan Ini Tidak Sepenuhnya Akurat

Kecerdasan buatan melakukan kesalahan. Dan ketika ia salah, dampaknya menjadi bencana.

Di Gaza, laporan mengungkap bahwa sistem menghasilkan daftar target tanpa akhir. Saat satu target diserang, ada 36.000 target lain yang menunggu. Evaluasi untuk setiap target bisa tidak lebih dari 20 detik. Manusia tidak lagi menjadi pengambil keputusan—ia menjadi prosedur formal.

Sekadar Tanda Tangan

Dario Amodei memperingatkan bahwa mengeluarkan manusia dari lingkaran pengambilan keputusan membuka jalur yang berbahaya.

Keberadaan manusia dulu memberikan batas minimum perlindungan, karena manusia dapat menolak perintah yang melanggar hukum. Dalam sistem otomatis, perlindungan ini menghilang.

Di sini muncul persoalan lain: konsep “hukum” itu sendiri. Apa yang didefinisikan sebagai legal dalam sistem ini adalah produk hukum yang ditetapkan negara, sementara di tempat lain diterjemahkan sebagai kehancuran luas. Dengan masuknya era ini, kehancuran tersebut berlipat ganda.

Apa yang terjadi di Gaza, di Yaman, di Iran, mengikuti pola yang sama: mesin menghasilkan target tanpa henti, manusia direduksi menjadi tanda tangan, dan kesalahan berubah menjadi pembantaian.

Dalam lintasan ini, perang bukan lagi keputusan manusia sepenuhnya. Ia telah menjadi proses kalkulasi.

Lebih cepat. Lebih padat. Lebih sedikit pengawasan.

Iran adalah permulaan.

Sebuah ujian.

Kita sedang menyaksikan akhir dari perang sebagaimana kita mengenalnya—dan awal dari era baru yang berada di luar kendali.