Reformasi

Reformasi masih dikadali

Riyasi

3/1/20261 min read

Bila dihitung dari tahun 2025, Reformasi sudah beranjak menuju umurnya yang ke-27. Dihitung dari 1998, sudah 2 dekade lebih agenda Reformasi berjalan. Dalam catatan sejarah gerakan mahasiswa, agenda Reformasi ada 6: Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, mengamandemen UUD 1945 (terutama mengenai kekuasaan presiden), 1)Menghapus dwifungsi ABRI, 2)Memberantas KKN, 3)Menegakkan supremasi Hukum dan HAM, dan 4)Memberikan Otonomi Daerah seluas-luasnya.

Semua agenda tersebut hanyalah langkah awal demi menyongsong cita-cita Reformasi sesungguhnya yaitu menciptakan Indonesia yang demokratis, berkeadilan, dan sejahtera. Sayangnya, bahkan dari langkah paling awal saja, satu pun belum ada yang berhasil.

Hingga kini Soeharto tak pernah diadili (entah kalau di akhirat) dan kroni-kroninya masih berkuasa. UUD 1945 selalu diabaikan pemerintah. Dwifungsi ABRI tak pernah hilang, justru berevolusi menjadi multifungsi ABRI. KKN semakin merajalela. Hukum dan HAM jangankan kuat, dilirik saja sudah bersyukur. Beberapa daerah mendapatkan otonominya dan lain daripada pembangunan daerah, malah raja-raja kecil yang bangkit.

Indonesia terbalik 180 derajat dari apa yang dicita-citakan dalam balutan agenda Reformasi. Sampai-sampai pada hari pahlawan 10 November 2025, Soeharto, penjahat HAM, bapak 9 naga, pemicu kemarahan rakyat hingga 1998, dinobatkan menjadi pahlawan. Penobatan paling membagongkan dalam sejarah Indonesia. Orang yang seharusnya diadili atas kesalahan-kesalahannya tapi tidak jadi, justru bangkit dari kubur, kembali menyapa rakyat dengan senyum tipisnya yang mencekam dan berkata ‘piye? wenak jamanku to!’.

Dengan ini dinyatakan Reformasi telah bergabung dalam Klub 27, bersama Kurt Cobain dan Jimi Hendrix. Umurnya tak dapat lagi bertambah, Reformasi akan terus terkubur bersama agenda-agendanya yang tak pernah tercapai.

Kini sudah waktunya memikirkan strategi yang lebih radikal, bukan teroris, tapi lebih mendasar. Bisa jadi dimulai dari diri sendiri, berusaha peka terhadap politik dan menggabungkan diri dengan orang-orang yang masih peduli akan Indonesia yang demokratis, berkeadilan, dan sejahtera.