Retaknya Globalisasi Siber
Retak dan Celah Cahaya dari Quantum Technology
KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANDANGKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIA
oleh Ilya Titov — terjemahan & penyuntingan Ali A. I
3/11/20263 min read


Pendahuluan: Dunia yang Diikat Jaring, Kini Tersandung Olehnya
Dulu, para pemikir modern membayangkan dunia sebagai desa global—lingkungan tunggal yang dihubungkan oleh kabel serat optik, server cloud, dan arus data yang tak pernah tidur. Mereka percaya bahwa teknologi akan menjadi jembatan, bukan jurang.
Namun zaman bergerak dengan cara yang kadang tak diduga.
Dan kini, dunia justru terjebak dalam jaring yang dibuat tangannya sendiri.
Ilya Titov—penulis Rusia yang dikenal dengan kritik geopolitis dan keahliannya membaca dinamika teknologi Barat—menggambarkan fenomena ini dengan gaya khasnya: analitis, tajam, sekaligus satiris. Dialah yang pertama kali merumuskan metafora tentang “Leviathan Digital”, sang raksasa tak kasat mata yang menguasai kehidupan manusia melalui layar-layar kecil mereka.
Di sinilah kisah “retaknya globalisasi siber” bermula.
1. Leviathan: Dari Lautan Mitos ke Lautan Data
Dalam tradisi kuno, Leviathan adalah makhluk laut raksasa, simbol kekuasaan yang menakutkan. Ia hidup di halaman-halaman Kitab Ayub dan Mazmur, bergulung di antara ombak sebagai tanda kekuatan yang sulit dijinakkan.
Namun dalam abad ke-17, Thomas Hobbes menghidupkannya kembali dalam dunia politik:
sebuah metafora untuk negara modern, kekuatan besar yang menelan individu demi stabilitas. Kini, dalam era digital, metafora itu menemukan wujud baru:
Leviathan itu adalah kumpulan perusahaan teknologi raksasa: Amazon, Google, Microsoft, Meta…
makhluk yang hidup bukan dari laut, melainkan dari data manusia.
Ia menjulang di atas negara-negara, menembus batas-batas hukum, dan bernafas melalui server-server yang tersebar di seluruh dunia. Ia tampak perkasa, tetapi di dalamnya rapuh—karena semuanya bertumpu pada gentingnya arus data.
2. Retakan Pertama: Amerika Menyentuh TikTok
Ketika pemerintah Amerika mulai menuntut pengawasan penuh atas TikTok, dunia mulai melihat sesuatu: retakan pada ilusi globalisasi digital.
Selama dua dekade, globalisasi digital tampil seperti sistem yang netral dan universal. Semua negara diyakinkan bahwa platform-platform besar adalah ruang bersama, tempat informasi mengalir bebas. Tetapi pada kenyataannya, ia adalah alat kekuasaan—dan alat itu mulai tampak jelas ketika kepentingan geopolitik berbenturan.
Dunia pun menyadari bahwa “pasar bebas digital” adalah mitos yang mudah runtuh ketika negara adidaya mengetukkan jarinya pada meja. TikTok hanyalah permulaan. Banyak yang akan menyusul.
3. Teknologi Sebagai Senjata Kekuasaan Baru
Titov menekankan bahwa dominasi teknologi kini menjadi bentuk kolonialisme baru—lebih halus, lebih bersih dari debu perang, tetapi tidak kalah mematikan. Senjata abad ini bukan meriam atau misil, tetapi:
● kendali atas server,
● algoritma yang mengatur perilaku,
● data yang memetakan isi pikiran,
● dan akses terhadap ruang publik digital.
Semua ini membentuk apa yang disebut Titov sebagai:
“Kerajaan Siberia Amerika”—sebuah kerajaan yang tidak membutuhkan bendera, tetapi hanya membutuhkan aplikasi di ponsel kita.
4. Ilusi Kebebasan yang Mengurung
Ada ironi pahit dalam globalisasi siber:
kita merasa bebas, tetapi setiap langkah kita dicatat. Kita berpikir memiliki pilihan, padahal pilihan itu sudah disaring algoritma. Kita merasa sedang berbicara, padahal justru sedang dipetakan.
Kita merasa tersambung dengan dunia, tetapi koneksi itu sendiri menjadi rantai halus yang menggiring kita ke arahan perusahaan-perusahaan global.
Seperti dalam kisah klasik, manusia yang merasa dirinya bebas ternyata hidup dalam penjara yang paling efektif: penjara yang tidak disadari.
5. Negara vs. Korporasi: Pertarungan Abad 21
Ketika negara-negara makin menyadari ancaman Leviathan digital, mereka mulai melawan. Peraturan demi peraturan disusun. Firewall ditinggikan. Kedaulatan data menjadi isu utama. Era baru dimulai: era perang antara negara dan korporasi.
Negara berusaha mempertahankan kekuasaan. Korporasi berusaha mempertahankan monopoli.
Di tengah pertarungan itu, manusia menjadi sekadar angka dalam grafik pertumbuhan dan statistik perilaku. Dan globalisasi yang dulu dijanjikan membawa kesetaraan, justru membuat ketimpangan makin dalam.
6. Retakan Semakin Lebar
Retakan tidak hanya terjadi antara negara dan perusahaan, tetapi juga:
● antara dunia Barat dan Timur,
● antara pusat inovasi dan negara pengguna,
● antara kedaulatan digital dan ketergantungan teknologi.
Setiap konflik politik kini memiliki bayangan konflik digital. Setiap sanksi ekonomi kini diikuti sanksi teknologi. Setiap perang militer menyembunyikan perang siber yang lebih gelap. Dunia tidak lagi terhubung sebagai satu; ia pecah menjadi blok-blok digital yang saling mencurigai.
7. Dunia Baru: Pasca-Globalisasi Siber
Titov menyimpulkan bahwa kita memasuki era yang lebih rumit: bukan globalisasi, bukan isolasi, melainkan fragmentasi.
Setiap negara kini berusaha membangun dunianya sendiri: server sendiri, aplikasi lokal, platform nasional, sistem pembayaran domestik. Dunia terpecah menjadi pulau-pulau digital yang berdiri di atas ambisi politik masing-masing. Leviathan digital tidak lagi tampak sebagai raksasa tunggal. Ia mulai retak. Dan melalui retakan itu, dunia melihat kenyataan: Teknologi tidak pernah netral.
Ia berpihak. Ia tunduk pada kekuasaan. Dan kekuasaan itu kini saling berebut dalam ruang maya.
8. Penutup: Di Balik Retakan, Ada Peluang
Meski analisis ini tampak gelap, Titov menutupnya dengan catatan yang mengandung harapan: Retaknya globalisasi siber membuka ruang bagi:
● negara-negara kecil untuk menata ulang sistemnya,
● masyarakat untuk menuntut transparansi,
● umat manusia untuk membangun teknologi dengan nilai, bukan sekadar keuntungan.
Retakan memang menakutkan. Tetapi di balik setiap retakan, selalu ada cahaya.
