Risiko Pembiaran Reformis terhadap Partisipasi Zilennial

Risiko Pembiaran Reformis terhadap Partisipasi Zilennial

KARANGAN PANDANGWEEKLY CIVIC SYMPOSIUM

raz

8/10/20262 min read

Risiko Pembiaran Reformis terhadap Partisipasi Zilennial

Risiko terbesar dari pembiaran (neglect) dalam agenda reformasi adalah menurunnya minat generasi Zilennial untuk berpartisipasi dalam pembagian kerja sosial. Fenomena ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai hambatan struktural: barriers to action yang semakin tinggi, beban antargenerasi (sandwich generation), hingga minimnya figur kepemimpinan yang mampu menjadi representasi aspirasi mereka.

Meningkatnya ketidakpastian tersebut berakar pada lemahnya proses pengambilan keputusan para pemangku kebijakan, terlepas dari jabatan, posisi, maupun skala organisasinya. Banyak keputusan dibangun di atas pemahaman yang kurang memadai mengenai siapa sesungguhnya generasi Zilennial: bagaimana minatnya, atribut sosialnya, orientasi politiknya, serta kebutuhan ekonominya. Ketika objek yang hendak dipahami keliru dibaca, maka kebijakan yang lahir pun berpotensi meleset dari persoalan yang hendak diselesaikan.

Keadaan ini menuntut peninjauan ulang terhadap keputusan dan kebijakan yang telah diambil beserta konsekuensi konflik yang ditimbulkannya. Sangat mungkin pendekatan reformis tidak pernah mengalami pemutakhiran, sementara data, asumsi, maupun rancangan kebijakan yang menjadi landasannya telah kehilangan relevansi terhadap perubahan keadaan.

Lebih jauh, kegagalan tidak hanya terletak pada keputusan yang kurang tepat, melainkan juga pada ketidakmampuan mengembangkan pembelajaran darinya. Selama peristiwa, keputusan, dan dampaknya tidak dikaji secara kritis dan induktif, kita sesungguhnya belum belajar dari kesalahan.

Oleh karena itu, diperlukan ukuran keberhasilan yang terhubung dengan mekanisme umpan balik (feedback), sekaligus membuka ruang kolaborasi dan partisipasi yang lebih luas sebagai instrumen untuk mengurangi risiko dan ketidakpastian. Pengukuran tidak cukup berhenti pada keluaran (output), tetapi harus mampu menjelaskan akibat (outcome) dan konsekuensi kebijakan terhadap masyarakat.

Karena itu, peningkatan kapasitas para pemangku kebijakan dalam decision-process excellence menjadi suatu keharusan. Hal tersebut menuntut peta yang jelas mengenai hubungan antara keputusan, dampaknya, faktor-faktor keberhasilan, serta pelajaran dari kegagalan masa lalu. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berpusat pada manfaat yang diterima, tetapi juga memberi perhatian pada mereka yang menjadi korban dari keputusan yang serampangan.

Pada akhirnya, yang perlu ditinjau ulang bukan hanya kebijakannya, melainkan juga asumsi-asumsi yang mendasari cara kita membaca realitas. Pembacaan yang lebih holistik diperlukan agar peta persoalan hari ini—termasuk konflik di persimpangan antargenerasi—dapat dipahami secara lebih utuh. Proses tersebut harus ditempuh melalui tahapan yang sistematis, dengan pengujian asumsi-asumsi strategis sebagai fondasinya.

Dengan demikian, pertanyaan mendasar dalam perumusan kebijakan perlu diubah. Bukan lagi, “Program apa yang harus kita bangun?”, melainkan: “Apa yang telah kita lakukan kemarin? Di mana posisi kita hari ini? Tantangan dan risiko apa yang menanti esok?” Dari rangkaian pertanyaan tersebut, keberhasilan masa lalu dapat dijadikan pijakan, kegagalan menjadi bahan pembelajaran, dan masa depan dapat dirancang berdasarkan pemahaman yang lebih utuh terhadap lintasan keputusan yang telah ditempuh.

Dikarang oleh Raz

Contact

Contact us on IG

© 2025. All rights reserved.