Run Forest Run

Ekologi hari ini

Riyasi

5/8/20241 min read

Pernah dengar kisah tentang pulau Run di Maluku? Mundur ke 300 tahun lalu, kerajaan Inggris dengan perwakilan EIC (English East india Company) berebut lapak dengan Belanda melalui perwakilan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di nusantara. Tepatnya di pulau Run.

Pulau Run jadi rebutan karena rempah-rempah sedang tren kala itu, dan Run adalah pulau penghasil buah pala terbaik. Tanahnya subur dan masyarakatnya mau jadi buruh murah. Pala diyakini lebih berharga daripada emas oleh bangas Eropa jaman dulu karena semua bagian buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, bahan farmasi, kosmetik, aromaterapi bahkan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

EIC berusaha keras untuk merebut pulau itu, beberapa pertempuran tak terhindarkan, ratusan orang tak berdosa mati di tengah perebutan lapak. Tapi Run belum berhasil EIC dapat. Akhirnya EIC pakai cara lain, ia bernegosiasi dengan VOC untuk menukar Run dengan daratan luas Manhattan (waktu itu namanya masih Nieuw Amsterdam). Melalui perjanjian Breda kesepakatan berhasil. EIC kini dapat memonopoli buah pala.

Sayangnya tidak sampai tiga tahun, rempah-rempah tidak ngetren lagi. Prancis dengan tren “kemurnian” makanan cepat mengalahkan tren lama. Harga pala menurun drastis, Run dipindahtangankan ke koloni lain, dan kini Run hanyalah pulau terpencil yang terisolasi.

Kisah Qarun sudah memberitahukan bahwa keserakahan tidak akan berujung untung. Namun keserakahan tidak hanya menimpa diri sendiri, layaknya Run dan penduduknya mereka terus saja kena barunya dari keserakahan kolonial. Bisa jadi keserakahan kita juga menyiksa orang lain tanpa sadar.