Sebelum Badai… Kenangan Musim Panas Tajikistan 1989

Memoir Prosais tentang bara sulut politik dan cetus pertama sebelum runtuhnya soviet

KARANGAN PANDANGKARANGAN PANTAU ALIH LINGUA

Ali A.I

3/11/202610 min read

Musim panas tahun 1989, takdir membawaku ke Tajikistan—negeri yang bernaung dalam bayang-bayang pegunungan Pamir dan kesejukan sungai-sungainya. Perjalanan itu membuka bagi aku dunia baru: nampak sederhana, tetapi dalam maknanya.

Di rumah-rumah tanah liat yang sederhana, aku merasakan hangatnya keramahan; di lereng gunung aku melihat bagaimana kejernihan alam berpadu dengan keceriaan pertemuan. Di tepi sungai aku duduk di samping seorang tua agung yang bercerita tentang keteguhan, sementara di ibu kota Dushanbe aku merenungi dialektika antara pedesaan dan perkotaan.

aku mengunjungi “hujrah” (ruang belajar) yang telah berubah menjadi pabrik pembentuk lelaki muslim, lalu menutup perjalanan di pasar sentral, tempat suara para pedagang bercampur dengan aroma roti dan rempah—seakan intisari seluruh bangsa. Hari-hari itu terasa damai, seolah tak mengenal apa pun selain kejernihan dan ketenangan.

Kami tak tahu bahwa hanya dua tahun kemudian, gambaran penuh warna itu akan retak; ketenangan yang memenuhi desa, pasar, dan ruang-ruang belajar berubah menjadi api neraka. Ini adalah kisah ketenteraman yang mendahului badai… dan kenangan perjalanan pertamaku ke Tajikistan, sebelum ia tenggelam dalam masa darah dan api.

(1) Awal Kisah – Kenangan Kulyab

Musim panas 1989 kami menuju sebuah desa tenang di daerah Kulyab. Di sana kami diterima oleh sahabat kami, insinyur Sayyid Ibrahim. Malam itu kami duduk di rumah sederhananya, diliputi hangatnya sambutan dan sunyinya desa yang bernaung di bawah bayangan gunung.

aku adalah orang keempat: tuan rumah Sayyid Ibrahim, bersama Sayyid Omar dan Khalid, lalu diriku. Api lampu minyak menari di dinding tanah liat, membentuk bayangan seakan ikut serta dalam percakapan kami. Sayyid Ibrahim tersenyum dan berkata sambil memandang jauh:

“Besok kita naik ke gunung. Ada aliran air segar dan pepohonan dengan buah-buahan alami…”

Rumah itu bertingkat dua; kami berada di lantai atas, sedangkan keluarganya tinggal di bawah. Rumah itu dikelilingi kebun kecil yang ditanami sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Di sudut halaman ada kandang sederhana: seekor sapi atau dua, kandang ayam, dan tungku tanah liat tempat setiap pagi aroma roti non yang lezat tercium.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku melihat pemandangan asing: gadis desa dengan sekop kayu mengumpulkan kotoran sapi, mencampurkannya dengan jerami, membentuk bulatan dan menjemurnya di bawah matahari. aku heran:

“Untuk apa mereka melakukan itu?”

Sayyid Ibrahim tertawa:

“Itu minyak kami; bahan bakar terbaik untuk musim dingin. Setelah kering, ia jadi sumber energi yang tak tergantikan.”

Sebelum naik ke atas, ia mengajak kami menjenguk ayahnya yang sakit di ruang samping. Ia membungkuk lembut dan berkata:

“Ayah, saudara kita berbangsa Arab ini datang menjengukmu.”

Ia menoleh ke arahku dan memintaku untuk membacakan beberapa ayat dari Qur’an. aku membacakan apa yang kuhafal, dan terlihat, wajah lelaki tua itu berseri dengan selayang senyum ringan, seakan napasnya hidup kembali oleh cahaya bacaan. Kami mendoakannya dan kepada semua muslim, lalu naik ke atas.

aku terkesan dengan kebiasaan indah orang Tajik—juga tersebar luas di Asia Tengah—yakni sebelum duduk mereka berdiri, mengangkat tangan berdoa, Ya Rabb kami, turunkanlah kepada kami tempat tinggal penuh berkah, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi tempat. Kemudian mereka mengusap wajah sambil berkata: Amin, baru duduk.

Setelah shalat zuhur dan asar, kami berkumpul di meja penuh hidangan. Sayyid Ibrahim menyajikan makanan keakungannya: plov Tajik—campuran nasi, wortel, dan daging kambing berlemak dimasak perlahan hingga aromanya memenuhi rumah. Di sampingnya ada saus tomat dan bawang sederhana. Makanan itu sungguh nikmat, memadukan kekayaan rasa dan hangatnya kebersamaan.

Malam pun tiba, dan lelahnya perjalanan membuat kami beristirahat di alas sederhana. Sebelum tidur, sekelebat tanya menyeruak di hati: mengapa aku tak merasa asing di sini, ribuan kilometer dari tanah air Palestina dan Moskow, yang telah menjadi rumah keduaku? Apa yang membuatku dekat dengan sahabat-sahabat ini, meski berbeda bangsa dan bahasa? Jawaban tiba dari bait syair yang kuingat dari Syekh Yusuf al-Qaradawi: “Islam adalah ayah dan ibuku, kami bersaudara dalam naungannya…” aku terlelap tidur, tiada mengetahui bahwa aku baru saja membuka halaman dalam ingatan yang akan mengabadi.

(2) Menyambut Fajar

Kami bangun pagi dengan suara ayam jantan memuji Penciptanya. aku tak mendengar azan, tapi Sayyid Ibrahim mengajak kami berwudhu, untuk beribadah. Air dingin menyentuh kulit, membangunkan perasaan, menghapus sisa kantuk.

Perempuan di rumah sudah menyiapkan roti sejak subuh; aroma obi-non segar naik dari tungku tanah liat memenuhi rumah. Kami shalat fajar, lalu membaca ayat-ayat Qur’an. Tak lama Sayyid Ibrahim membawa sarapan: roti panas, teh herbal gunung, dan keju lokal yang unik rasanya.

Sambil makan, Khalid melucu. Ia menirukan suara, gerak wajah, bahkan tangan gemetar Sayyid Ibrahim saat suatu ketika istrinya mengangkat telepon. Ceritanya membuat kami tergelak hingga perut sakit; Ia langsung bertanya, "Apakah Sayyid Ibrahim ada di rumah ini atau di rumah lain hari ini?" Sang istri merasa malu, dan sebelum sempat bertanya apa pun, Sayyid Ibrahim menyambar telepon, memohon, "Tolong katakan padanya kau bercanda!" – dan KKhalid menirukan suaranya, menirukan raut wajahnya, dan menggoyangkan tangannya seolah gemetar ketakutan. Kami tertawa terbahak-bahak, terutama ketika ia menjelaskan bagaimana suara piring pecah terdengar di latar belakang, dan Sayyid Ibrahim mengulangi dengan suara gemetar, "Tolong katakan padanya... ini keterlaluan!"

Pagi itu kami mendaki gunung. Jalan setapak membawa kami ke pemandangan bak taman surga: pepohonan rindang, air mengalir, bebatuan mengkilap bagai mutiara. Sayyid Ibrahim menunjuk pohon dengan buah kecil:

“Ini murbei hitam, manis rasanya. Makanlah, tapi jangan banyak. Setelahnya minumlah banyak air, kalau tidak perut bisa sakit.” Sayyid Omar rupanya tak peduli; ia melahap banyak hingga jari-jarinya berwarna ungu. Tak lama ia meringis kesakitan. Sayyid Ibrahim menegurnya, sementara Khalid tak berhenti tertawa.

Di puncak, kami shalat duha, membaca zikir diiringi suara gemericik air dan kicauan burung. Siang hari kami turun kembali, dada penuh kejernihan alam dan semangat persaudaraan.

(3) Di Tepi Sungai – Syekh Abdullah Nuri

Perjalanan berlanjut ke Kurgan-Tyube, ke rumah saudara Khalid, seorang polisi lalu lintas. Dari sana kami menuju sebuah kolkhoz tempat tinggal Syekh Abdullah Nuri—pendiri gerakan Islam bawah tanah di Tajikistan.

Syekh menyambut kami dengan wajah bercahaya, berbaju jubah tradisional, dan di kepalanya topi hitam khas Asia Tengah. Kami duduk di bangku kayu di atas aliran air gunung yang jernih. Anak-anak bermain di sungai, rumah tangga menyiapkan hidangan, dan kami disuguhi semangka dingin serta melon “torpedo” yang manis bak madu. Suasana tenang itu membawaku pada renungan: Subhanallah, kalau keindahan dunia begini, bagaimana dengan keindahan surga?

Sambil menyeruput teh dalam piala, Syekh bercerita. Dengan suara tenang tapi menghunjam, ia mengisahkan bagaimana mereka menjaga agama di bawah cengkeraman komunis: mengajar Qur’an berbisik dari rumah ke rumah, menyembunyikan pelajar di hujrah bawah tanah, seluruh desa melindungi mereka.

Ia juga menyebut buku-buku yang mengilhami: karya Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Abul A‘la Maududi, dan terutama “Bukan dari Islam” karya Syekh Muhammad al-Ghazali. aku takjub mendengar gaung al-Ghazali sampai ke pelosok Soviet.


Kemudian ia menceritakan masa mudanya, terinspirasi Revolusi Islam Iran, membentuk gerakan bawah tanah, mendengarkan radio Republik Islam meski dipenuhi gangguan siaran.

Seorang sahabatnya, Najmuddin, bergabung. Ia pernah dipenjara di Siberia, dan berseloroh dalam bahasa Rusia: “sidet—duduk,” maksudnya “dipenjara”. Kami semua tertawa. aku pun bercerita tentang Palestina, intifada, dan Syekh Ahmad Yasin. Pertemuan ditutup shalat maghrib dan mendoakan harapan kemenangan bagi yang tertindas. aku keluar dari rumah Syekh dengan dada penuh keyakinan: agama ini tak bisa dipenjara, tak bisa ditakuti tirani.

(4) Dushanbe – Dua Wajah Ibu Kota

Kami tiba di Dushanbe, ibu kota Tajikistan, saat malam. Di tengah perjalanan, Sayid Omar tersenyum dan berkata, “Tahukah kau, kata ‘Dushanbe’ artinya ‘Senin’? Kota ini tumbuh dari pasar yang dulu diadakan tiap hari Senin. Lalu sempat dinamai ‘Stalinabad’, tapi saat Khrushchev memerangi kultus Stalinis, nama lama dikembalikan.”

Jalan menuju kota berbeda jauh dari jalanan desa yang dilindungi bayang-bayang gunung dan aliran sungai. Di sini, aspal melapisi rute kami, tiang listrik berjajar di sisi jalan, menyebarkan cahaya redup yang hanya samar-samar melawan gelap. Di desa, kegelapan sempurna — hanya diterangi bulan atau lentera yang dibawa orang-orang. Di sini, kegelapan bercampur dengan sinar pucat, membentuk siluet samar kota, tapi tak pernah seterang dan sejujur desa.

Wajah kota memperlihatkan dua sisi yang saling bertentangan: sisi modern — teratur, penuh lampu jalan, gedung-gedung beton menjulang seperti kotak-kotak abu-abu tak berhias. Dan sisi lama — rumah-rumah pribadi yang lebih banyak jumlahnya, masih menyimpan sisa hangatnya pedesaan.

Khalid tertawa sambil menunjuk bangunan dan bercanda, “Rumah-rumah ini seperti barak… orang dulu enggan tinggal karena toiletnya di dalam!” Kami pun tertawa keras — kalimatnya lebih jitu dari deskripsi mana pun.

Kami tertidur, letih oleh hari-hari perjalanan. Saat fajar, perbedaan itu lebih terasa: Di desa, kokok ayam dan aroma roti dari tungku tanah menyambut pagi. Tapi di kota, suara bus

langka memecah jalan-jalan kosong, mengantar para pekerja ke hari yang monoton. Udara penuh dengan bau solar dan asap pabrik jauh — pagi di sini memiliki rasa dan aroma berbeda.

Walaupun Dushanbe adalah ibu kota, aku merasa ia belum sepenuhnya bebas dari denyut desa. Di wajah-wajah yang lewat, kulihat paradoks: garis-garis lelah akibat kerja keras, tapi di mata mereka masih tertinggal kejernihan sungai dan gunung.

Aku menyadari bahwa perjalanan kami bukan hanya perpindahan tempat — tetapi peralihan di antara dua dunia: dari rumah tanah liat, ke gunung pembawa kehidupan, ke syekh penanam harapan, hingga kota yang menyimpan dialektika masa lalu dan masa depan.

(5) Hujrah... Pabrik Lelaki

Pagi itu aku memasuki rumah Sayid Omar. Rumahnya sederhana, tapi ada kerapian yang terasa seperti disiplin lama yang tak pernah luntur. Dinding-dindingnya dilapisi kapur putih, lantainya kayu, dan karpet wol tebal membentang di atasnya, menghangatkan setiap langkah. Di sudut ruangan berdiri bangku kecil dengan peralatan teh dan bejana tanah liat berbagai bentuk. Di meja rendah di hadapan kami, mangkuk-mangkuk kecil berisi kacang, kismis, dan roti non yang masih hangat—aromanya mengingatkan pada pagi yang bersih dan belum disentuh dunia.

Tak ada kursi, tak ada sofa. Hanya permadani di lantai, sebagaimana lazimnya rumah-rumah di tanah ini. Di luar, kebun kecil tumbuh di sekeliling rumah, penuh dengan pohon buah yang memberi teduh dan kesegaran. Sayid Omar tersenyum pelan sambil menuangkan teh. “Hari ini,” katanya, “kau akan melihat sendiri apa yang kemarin diceritakan Syekh Abdullah… ruang-ruang pengajaran—hujrah.”

Ia membawaku ke dalam, ke kamar-kamar kecil. Luasnya tak lebih dari empat meter, tapi di dalamnya tersimpan dunia yang jauh lebih besar. Anak-anak muda duduk melingkar, berhadap-hadapan. Di depan mereka, buku tulis lusuh terbuka, dan mereka membaca pelan-pelan dari halaman-halamannya, dengan suara yang masih goyah—mencoba menghafalkan apa yang didiktekan oleh sang syekh saat fajar. Di mata mereka kulihat cahaya tekad, dan dalam huruf-huruf mereka yang gemetar, ada janji masa depan yang terang.

Apa yang kulihat di sana bukan sekadar pelajaran membaca dan menulis. Ini adalah upaya bertahan peradaban.

Salah satu hal yang mengejutkanku: seorang pemuda dari Tatarstan ikut duduk di antara mereka. Ia datang dari jauh, demi ilmu. Aku menjabat tangannya dengan hangat — kehadirannya seperti jawaban dari pertanyaan yang belum kuajukan: bagaimana mungkin tempat sesunyi ini menjadi pelabuhan bagi begitu banyak cita-cita?

Kurikulum mereka dimulai dari bahasa Arab, lalu lanjut ke Al-Qur’an, kemudian fikih dalam mazhab Hanafi. Setelah menyelesaikan dasar-dasar itu, mereka masuk ke pemikiran Islam modern. Salah satu dari mereka menatapku dan bertanya: “Antum ikut mazhab apa?”

Aku menjawab, “Maliki.”

Alisnya terangkat. “Bukankah orang Palestina itu Syafi’i?”

Aku tersenyum, kagum dengan ketajamannya. “Kebanyakan memang begitu. Tapi di antara kami, ada juga yang bermadzhab lain. Di kota aku ada masjid milik Hanbali. Ada juga keluarga keturunan Maroko, mereka Maliki. Tapi untuk urusan peradilan, sejak zaman Ottoman, kami memakai hukum Hanafi—karena itu mazhab mereka.” Pemuda itu tersenyum puas. Mendengar bahwa Hanafi juga hidup di Palestina, seakan memberinya alasan baru untuk merasa dekat.

Saat itu aku tahu: hujrah-hujrah ini bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah sel-sel hidup; ruang kecil yang menjaga agama tetap bernapas. Pabrik-pabrik sunyi yang menghasilkan lelaki, bukan produk; lelaki yang tak patah oleh tekanan zaman.

Aku berpikir: Inilah rahasia mengapa umat ini bisa bangkit kembali; dari kamar-kamar sederhana, yang tak dikenal siapa-siapa, tapi menghasilkan anak-anak lelaki yang memikul beban umatnya dengan kepala tegak.

Dari sana kami berjalan ke rumah saudara Abdullah, tempat tinggal kelompok pelajar lain. Sayid Omar — yang memimpin pendidikan dalam gerakan ini — berbisik padaku, “Seperti yang kau lihat, kami punya banyak titik belajar seperti ini di seluruh negeri. Puluhan anak muda tinggal di sini, demi ilmu agama. Islam, meski pernah dicekik oleh tangan besi kaum komunis, tetap kokoh… alhamdulillah.”

Di rumah itu kami bertemu seorang dosen universitas. Ia duduk tenang. Matanya dalam dan penuh cahaya. Suaranya pelan, tapi setiap kata terasa menembus. Baru beberapa kalimat keluar dari mulutnya, aku sudah merasa bahwa ia sedang membuka tirai sejarah yang disembunyikan. Ia berkata, “Dalam sejarah, tak pernah ada negara dengan nama seperti ini. Semua tanah ini dulunya bagian dari Emirat Bukhara. Uni Sovietlah yang menciptakan republik-republik nasional ini. Mereka membelah Bukhara dan Khiva, menggambar ulang peta, menciptakan ibukota-ibukota yang sebelumnya tak dikenal, agar memori rakyat terhapus dan benih permusuhan ditanam.”

Ia berhenti sebentar, lalu mengangkat tangannya, seolah menunjuk peta yang tak terlihat.

“Penduduk Bukhara dan Samarkand adalah orang-orang Tajik. Tapi kini wilayah itu masuk dalam Uzbekistan. Lembah Fergana dibagi ke tiga: Uzbekistan, Kirgizstan, dan Tajikistan. Semua ini bukan kebetulan. Ini kebijakan yang disengaja — memecah satu tubuh menjadi potongan-potongan kecil.” Saat itu aku sadar: geografi di sini bukan sekadar peta. Ia adalah alat politik. Ia dipermak, diwarnai, dipatahkan — demi menutupi jati diri suatu bangsa.

Kami keluar dari rumah Abdullah menuju pasar pusat. Aku membeli buah-buahan, untuk kubawa pulang ke Moskow. Dan saat aku memandangi wajah-wajah di tengah keramaian pasar, wajah seorang pemuda kembali muncul di pikiranku — pemuda yang bertanya tentang mazhabku. Dan wajah anak-anak muda yang membungkuk di atas buku mereka, mencoba menghafal ayat-ayat.

Di pasar ini, pemuda-pemuda menjajakan buah. Tapi di ruang-ruang kecil tadi, mereka menghafal zikir. Dan saat itulah aku sadar: hidup di sini berjalan dalam dua lapisan—satu yang tampak: pasar yang ramai, dan satu yang tersembunyi: kamar-kamar sunyi tempat lahirnya bangsa.

(6) Di Pasar Sentral Dushanbe, Sebelum Keberangkatan

Pagi hari sebelum berangkat, kami mampir ke pasar sentral Dushanbe. Dunia dalam dunia — hiruk pikuk penuh warna. Suara pedagang menggema dari kejauhan, bercampur dengan aroma buah ranum, roti panas, dan rempah tajam. Pasar ini seperti sarang lebah yang tak pernah tenang.

Sepanjang lorong-lorong lebarnya, buah dan sayuran ditata rapat. Di satu sisi: gunungan semangka. Di sisi lain: deretan melon kuning yang bersinar seperti batu delima. Aku berhenti di dekat tumpukan melon panjang yang mereka sebut “torpedo”. Dibungkus dengan cara khusus agar mudah dibawa — bentuk dan rasa manisnya langsung mengingatkanku pada pertemuan dengan Syekh Abdullah, saat manis buah itu melekat bersama hangatnya sambutan dan keramahan.

Di sudut lain: aprikot, plum, kacang-kacangan, dan madu pegunungan dalam toples berat. Di lorong daging, palu-palu menghantam potongan besar, gema dentingnya membentur langit-langit pasar. aku bertanya pada Khalid, “Apakah daging di sini semuanya halal?” Ia menjawab tanpa ragu, “Tentu saja. Ini Asia Tengah.” Sayid Omar tertawa pelan, lalu menambahkan, “Mereka bisa mencoba mengubur agama, tapi mereka tetap hanya mau makan daging yang disembelih sesuai syariat.”

Aku memperhatikan para perempuan dalam busana bordir tradisional mereka yang dengan cekatan menawar harga, sementara para pemuda mondar-mandir membawa keranjang kecil atau mendorong troli penuh barang.

Kami mula-mula pergi ke sudut pasar tempat dijual peti kayu — kotak-kotak untuk mengemas buah dalam perjalanan. Kami membeli satu, lalu menuju ke bagian buah-buahan. Di sana, seorang penjual roti menyusun barisan panjang roti hangat, tertutup kain putih besar. Aromanya memenuhi seluruh ruang. Penjual itu menunjuk peti kami dan bertanya, “Mau dibawa ke mana?”

“Ke Moskow,” jawabku.

Ia mengangkat salah satu roti dan tersenyum. “Ini teman perjalanan. Kami selalu membawanya jika bepergian. Ambillah.”

Khalid menyela sambil bercanda, “Kami akan kembali padamu nanti. Kami takkan biarkan Moskow tanpa roti!”

Kami pun tertawa bersama.

Semakin dalam kami menjelajah pasar, semakin banyak buah-buahan yang asing bagiku. Bahkan untuk pir saja, ada beberapa jenis, tiap-tiapnya dengan rasa dan bentuk yang berbeda. Kami membeli berbagai macam buah. Khalid mengemasnya dengan terampil ke dalam peti: buah yang berat dan keras di bawah, yang lunak dan lembut di atas — seolah sedang menjalankan seni yang dipelajarinya dari tahun-tahun panjang dalam perjalanan.

Di ujung pasar, kami menemukan sebuah chaihane besar — kedai teh terbuka khas sini. Bangku panjang dipenuhi karpet dan bantal, meja kecil di antaranya. Orang-orang duduk berkelompok, menyeruput teh dan menikmati samsa—roti isi daging khas Tajik.

Kami duduk sebentar, meminum teh wangi yang menghangatkan, dan bayangan perjalanan kami di pegunungan Kulyab kembali menghampiri pikiran.


Ketika aku meninggalkan pasar, tangan-tanganku penuh dengan buah dari tanah Tajikistan, menuju bandara dan kembali ke Moskow. Tapi apa yang kubawa di hatiku jauh lebih berat— dan lebih bernilai dari semua hasil bumi itu.

Siapa yang bisa menyangka bahwa kedamaian itu, ketenangan yang kami rasakan saat itu, dalam waktu hanya dua tahun akan berubah menjadi neraka perang saudara; melalap semua yang kami lihat, mengusir semua yang kami temui, menghapus senyum, tawa, dan canda dari wajah-wajah yang sempat mengisi kenanganku itu?

Tak seorang pun dari kami tahu bahwa kehancuran Uni Soviet akan membuka pintu malapetaka; perang saudara yang akan membakar semuanya.

Tapi itu... cerita lain. Ceritera kunjungan kedua ke Tajikistan—tatkala tiba kecamuk badai.