Warisan Massa Mengambang di Bulan Juli
Aksi Massa yang mengambang entah karena apa dan kenapa, beberapa hal musti dirumuskan ulang dan memulai pembenahan sejak dari sini.
KARANGAN PANDANGKARANGAN SITUASIWARTA SINIAR HARIAN
Riyas
7/6/20263 min read


Warisan Massa Mengambang di Bulan Juli
Juli merupakan bulan penting bagi peradaban manusia. Di Eropa, simbol despotikpemerintahan raja Louis-XVI, penjara Bastille, diserbu kerumunan massa. Meski hanya adatujuh orang tahanan di dalamnya namun peristiwa ini menandai kebangkitan RevolusiPrancis. Di Amerika, sebuah deklarasi panjang dari 13 koloni menggemparkan nurani rakyat Amerika. Mengingatkan mereka bahwa setiap orang diciptakan setara, dan kerajaan despotikInggris harus segera diganti. Deklarasi ini menandai hari kemerdekaan Amerika. Bahkan di Indonesia sendiri, 12 tahun lalu pemilihan umum presiden pertama diselenggarakan, setelahtiga presiden sebelumnya tidak dipilih oleh rakyat langsung.
Sungguh bulan Juli kental dengan nuansa kemerdekaan, demokrasi, dan kedaulatan rakyat. Euforia ini mulai bangkit sebelum bulan ini. Di pertengahan bulan lalu, ratusan massamahasiswa bergerak menuju bundaran HI, di mana patung selamat datang berdiri tegak kearah Monas. Monumen ini dulunya dibangun untuk menyambut tamu dan atlet luar negeri yang akan hadir dalam Asian Games ke-4 pada tahun 1962. Kala itu Indonesia menjadi tuan rumahnya. Terletak dekat dengan Hotel Indonesia sebagai dekorasi megah yang menunjukkan kemewahan Indonesia kepada muka dunia. Atas dasar sejarah ini, massamahasiswa berusaha memenuhi bundaran HI untuk menunjukkan kepada muka dunia kondisiIndonesia sekarang di bawah rezim presiden ke-8 (meski tak ada keyakinan kalau ini alasanstrategis mereka sebenarnya).
Sayangnya, massa tidak berhasil. Tetapi, rentetan aksi selanjutnya muncul dari beberapakampus, beberapa daerah, juga segelintir organisasi masyarakat sipil. Sehingga nuansademokratis masih menyala terang, setidaknya sampai mendekati penghujung bulan. Setelahnya, sepi krik-krik, suara jangkrik pun lebih ramai.
Lelah sudah rasanya menganalisis ketidakberhasilan aksi massa di rezim presiden ke-8 ini. Suara ramai-ramai di jalan mudah sekali diredam bisingnya. Pelajaran pertama ketika rezimini baru berjalan adalah ketika RUU-TNI disahkan meski kecaman rakyat mencuat sporadikdi berbagai daerah. Dari kejadian pertama dan seterusnya hingga hari ini, laiknya cukupmenunjukkan betapa bebal pemerintah dan pemimpinnya.
Di sisi lain, masyarakat terfragmentasi, tiap sektor memiliki masalahnya masing-masing, belum lagi subsektor yang berada di dalam sektor-sektor masyarakat. Hingga akhirnya tiapsub sektor ini terpecah lagi menjadi individu-individu dengan masalahnya masing-masing. Keadaan ini sebenarnya lebih menunjukkan masyarakat Indonesia yang individualistisdaripada demokratis.
Banyak dari kelompok di berbagai sektor memang melakukan aksi-aksi untuk membela hakmereka. Namun lebih banyak lagi gerombolan masyarakat yang hanya berkutat pada kehidupannya masing-masing dan berharap Indonesia kedepannya akan berubah lebih baik. Padahal perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian. Apalagi menitipkan harapanperubahan pada segelintir kelompok yang sedang berjuang membawa perubahan.
Di Prancis, ribuan orang ikut andil dalam agenda-agenda revolusi. Di Amerika, 13 kolonibersatu menentang pemerintahan Inggris. Di Rusia, ribuan petani berbondong-bondongmenyerbu istana Tsar. Tidak ada perubahan besar yang terjadi tanpa melibatkan banyakorang. Maka ketika masyarakat masih terkungkung dalam kehidupannya sehari-hari lalumengeluh ketika krisis terjadi, atau masih menggantungkan harapan pada sang pejuang tentuperubahan masih jauh panggang dari api.
Kontradiksi tersebut nampak menunjukkan kesuksesan eksperimen sosial Soeharto duluketika masih menjabat. Ia dengan kekuatannya mempengaruhi kebijakan dan aparatur negara, Soeharto memasak sebuah konsep penjinakkan masyarakat yang disebut "massamengambang" (Floating Mass). Kala itu, Orde Baru berusaha menjauhkan masyarakatpedesaan dari politik praktis.
Soeharto menyisir kader-kader partai di tingkat desa, terutama pejabat di tingkatan inikebawah seperti kepala desa dan lurah. Semuanya diganti dengan sosok netral tanpa adaketerikatan partai manapun. Lalu organisasi-organisasi yang terhubung dengan partai sepertiorganisasi buruh, disabotase, diganti ketuanya dan diubah sikapnya lebih kooperatif denganmajikan di pabrik. Bahkan, organisasi perempuan Dharma Wanita yang terdiri dari istri-istripejabat dibentuk demi menancapkan hegemoni Orde Baru sampai di tingkatan rumah tangga.
Masih banyak lagi upaya Orde Baru untuk mendepolitisasi masyarakatnya. Pada intinya, proyek ini berhasil menciptakan imajinasi bahwa politik adalah barang langka yang hanyabisa diakses oleh orang-orang tertentu.
Sudah 20 tahun lebih sejak keruntuhan Orde Baru, namun mitos bahwa politik adalah barangyang nampak jauh dari kehidupan sehari-hari masih menetap. Bentuknya juga berubah, jikapada masa akhir Orde Baru hingga awal Reformasi politik seakan barang langka, kini politikdipandang sebagai artefak, sering dibicarakan namun jarang digunakan.
Di sosial media, ribuan orang mengunggah konten-konten membahas kondisi perpolitikannegara, menganalisisnya, memperdebatkannya, dan membuat lelucon terhadapnya. Di kampus-kampus mahasiswa sibuk berteori mengenainya, dan di warung kopi orang-orang tuadengan nada sinis berceramah mengenai politik negara. Politik ramai diperbincangkan seakansebuah legenda rakyat, tapi hanya segelintir orang yang benar-benar berpolitik, itu pun lebihbanyak berpolitik praktis.
Memahami politik sebagai kebutuhan dasar berbangsa dan bernegara adalah hal wajib. Tanpapemahaman bahwa setiap orang harus berpolitik dan memiliki pemahaman akan politik, maka setiap sistem kenegaraan yang sedang berjalan entah itu demokratis, totaliter, religius, dan model-model lainnya akan terasa seperti takdir alam atau jargon asing tanpa makna.
Sehingga ketidakberhasilan aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan beberapa kelompok adalahtidak adanya pendidikan politik untuk masyarakat. Demonstran hanya melakukan aksi sekalilalu kembali ke kompon-kompon kehidupannya sendiri, membiarkan masyarakat melongomelihat demonstrasi mereka.
Mereka yang sadar harus menyadarkan sekitarnya. Sebagaimana Allah telah berfirman"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaatikebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr, 1-3).
Pendidikan politik harus dilakukan, aktivis atau siapapun yang sadar perlu mendidiksekitarnya supaya melek politik. Organisasi-organisasi kecil tingkat Rukun Tetangga atauKomplek harus diadakan, sebagai wadah pendidikan politik. Lingkar-lingkar studi perludiperbanyak, hingga ke luar bangku perkuliahan. Setiap sektor dan lini masyarakat punya kepentingannya untuk diperjuangkan, maka tiap orang harus dibekali pengetahuan untukmemperjuangkannya. Supaya nuansa kemerdekaan, demokrasi, dan kedaulatan rakyat tidakterasa artifisial belaka.
