China Mengamati: Ketika Perang Menggerus Kapasitas untuk Perang Berikutnya
Misprediksi dan Hilangnya tatanan perimbangan
KARANGAN PANTAU ALIH LINGUAKARANGAN PANDANGKARANGAN PANTAU CERDIK CENDIKIAWARTA SINIAR HARIAN
Ali Abu I.
4/9/20262 min read


China Mengamati: Ketika Perang Menggerus Kapasitas untuk Perang Berikutnya
Perang ini melampaui Teluk Persia. Ia berlangsung dalam kerangka konfrontasi yang lebih luas dengan China, di mana kendali atas arus minyak memiliki arti strategis.
Realitas operasional menunjukkan hal yang berbeda. Pola penggunaan persenjataan menegaskan bahwa perang ini menggerus bukan hanya kemampuan saat ini, tetapi juga kapasitas untuk menghadapi konflik lain.
Dalam sedikit lebih dari satu bulan, Amerika Serikat dan sekutunya telah menghabiskan sekitar 2.400 rudal pencegat Patriot. Skalanya menjadi jelas jika dibandingkan dengan produksi tahunan yang hanya sekitar 650 unit. Dengan laju seperti ini, pemulihan stok akan memerlukan setidaknya tiga setengah tahun. Pada saat yang sama, sekitar 40 persen stok global rudal THAAD telah digunakan, sementara produksinya tidak melebihi 100 unit per tahun. Untuk membangun kembali volume tersebut dibutuhkan waktu empat hingga lima tahun.
Ini baru batas minimum. Dalam konflik modern, ratusan rudal dapat habis hanya dalam beberapa bulan.
Tingkat penggunaan seperti ini segera berhadapan dengan batas kapasitas industri. Sistem-sistem utama bergantung pada unsur tanah jarang seperti neodymium dan samarium-kobalt. Pemrosesan serta bagian-bagian kunci dari rantai pasoknya terkonsentrasi di China.
Cadangan unsur tanah jarang di Amerika Serikat diperkirakan hanya cukup untuk sekitar dua bulan. Dalam satu bulan saja, persenjataan telah digunakan pada tingkat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan, dengan ketergantungan pada material yang sulit diperoleh di luar rantai pasok tersebut.
Logika pengurasan bersifat langsung. Rudal yang digunakan hari ini di satu medan tidak tersedia di medan lain. Komponen yang dialokasikan untuk satu sistem tidak dapat digunakan untuk sistem lain. Perang mendistribusikan ulang kapasitas sebelum hasilnya ditentukan.
China mengikuti proses ini dengan cermat sebagai simpul utama dalam rantai pasok global sekaligus pesaing strategis. Peran sebagai mediator tetap terbuka baginya.
Posisinya dalam konfigurasi ini bersifat sentral. China mengendalikan pemrosesan unsur tanah jarang, memproduksi porsi besar magnet berkinerja tinggi, tetap menjadi pembeli utama minyak Iran, serta memasok komponen teknologi yang digunakan dalam sistem rudal. Ia berperan sekaligus sebagai pemasok, konsumen, dan sumber daya tawar.
Terbentuk ketergantungan struktural yang kuat. Amerika Serikat membutuhkan unsur tanah jarang untuk membangun kembali kapasitas militernya. China membutuhkan aliran energi yang stabil. Washington berupaya membatasi tingkat pengurasan. Beijing mencari pelonggaran tekanan eksternal. Masing-masing memegang sumber daya yang krusial bagi pihak lainnya.
Keterkaitan ini mengungkap kerentanan yang lebih dalam. Menurut estimasi RAND, sebagian signifikan sektor pertahanan Amerika Serikat dapat terhenti dalam waktu sembilan puluh hari jika pasokan unsur tanah jarang dari China terputus. Pada saat yang sama, tenggat untuk menghentikan penggunaan magnet asal China dalam pengadaan Pentagon semakin dekat, tanpa adanya alternatif industri yang memadai. Bahkan sumber daya yang ditambang di Amerika Serikat tetap dikirim ke China untuk diproses. Rantai pasok pada akhirnya berujung di sana.
Dalam kondisi seperti ini, pengurasan menjadi penentu batas kemampuan. Pada titik ini, tampak celah struktural antara perancangan strategis dan kapasitas nyata untuk bertindak.
Analis Geopolitik
